Beban Tembakau

Fakta Tembakau – Indonesia dan Dunia

 

DUNIA

KONSUMSI

• Jumlah perokok mencapai 1 miliar orang.

• Sebagian besar perokok saat ini adalah laki-laki, namun jumlah perokok perempuan semakin meningkat. Sebanyak 35 persen laki-laki di negara maju dan 50 persen di negara berkembang adalah perokok. Sementara perempuan jumlah 22 persen di negara maju dan 9 persen di negara berkembang.

• Setiap hari 80.000-100.000 anak muda menjadi perokok baru.

• Lebih dari 80 persen perokok di dunia tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Merokok dan penggunaan produk tembakau lainnya meningkat di negara berkembang karena pertumbuhan penduduk dan industri rokok memfokuskan perluasan pasar pada wilayah ini.

KONSEKUENSI KESEHATAN

• Pemakaian tembakau membunuh sepertiga hingga setengah dari seluruh penghisapnya.

• Penyakit yang terkait tembakau mewakili 1 dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia. Pada tahun 2030, 80 persen kematian tersebut akan terjadi di negara berkembang dengan menghitung prevalensi dan laju pertumbuhan perokok di wilayah ini.

• Tembakau membunuh lebih dari 5 juta orang per tahun akibat dari kanker paru-paru, penyakit jantung, dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan tembakau. Pada tahun 2030, jumlah kematian akan meningkat menjadi 8 juta setiap tahun.

• Sebanyak 100 juta orang meninggal akibat penggunaan tembakau pada abad ke-20. Jika kecenderungan ini terus berlangsung, satu miliar orang akan meninggal akibat konsumsi tembakau di abad ke-21.

• Tembakau membunuh perokok secara prematur. Rata-rata, perokok kehilangan 15 tahun hidupnya dan separuh dari semua perokok akan mati akibat dari faktor-faktor yang berkaitan dengan tembakau.

BIAYA MASYARAKAT

• Konsumsi tembakau saat ini menghabiskan biaya ratusan miliar dolar di dunia setiap tahun.

• Di Amerika Serikat, biaya kesehatan yang terkait dengan tembakau setiap tahun sebesar US$ 96 miliar (sekitar Rp 960 triliun), Jerman US$ 7 miliar, Australia US$ 1 miliar

• Peluang ekonomi hilang karena perokok rata-rata meninggal di usia produktif (39-60 tahun).

• Negara-negara importir daun tembakau dan produk tembakau telah kehilangan jutaan dolar setiap tahun karena pelemahan nilai tukar mata uang asing.

• Pada 2000 sekitar 300.000 atau 10 persen dari semua kematian akibat kebakaran di seluruh dunia disebabkan oleh kebiasaan merokok dan diperkirakan total biaya kebakaran yang disebabkan oleh rokok adalah US$ 27 miliar.

• Produksi dan penggunaan tembakau merusak lingkungan dan mengalihkan lahan pertanian yang dapat digunakan untuk menanam tanaman pangan.

 

INDONESIA 

 

peta

KONSUMSI

• Sekitar 61 juta perokok di Indonesia atau sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia.

• Sebanyak 63 persen pria merokok dan 5 persen perempuan

• Usia 13-15 tahun yang merokok sebanyak 20 persen dengan komposisi remaja laki-laki 41 persen dan perempuan 3,5 persen.

• Sebanyak 78 persen perokok mulai merokok sebelum usia 19 tahun, dan sepertiga pelajar mencoba rokok pertama mereka sebelum usia 10 tahun.

• Sebagian besar perokok di Indonesia (90 persen) menggunakan rokok krekek bercita rasa cengkeh.

KONSEKUENSI KESEHATAN

• Merokok membunuh setidaknya 235.000 orang setiap tahun

• Lebih dari 97 juta orang Indonesia yang tidak merokok secara reguler terpapar asap rokok atau menjadi perokok pasif.

• Sebanyak 78 persen anak muda (usia 13–15 tahun) terpapar asap rokok di tempat umum, dan 69 persen terpapar asap rokok di rumah.

• Sebanyak 29 persen dari semua penyakit jantung pada pria disebabkan oleh merokok, yang merupakan persentase tertinggi di antara semua negara Asia Tenggara.

• Di kalangan pria Indonesia, stroke juga sangat dipengaruhi oleh penggunaan tembakau. Sebanyak 23 persen stroke iskemik (penyumbatan pembuluh darah) dan 10 persen stroke hemoragik (pembuluh darah pecah) disebabkan oleh merokok.

BIAYA MASYARAKAT

• Biaya perawatan kesehatan akibat penyakit terkait tembakau mencapai Rp 11 triliun per tahunn (US$ 1,2 miliar)

• Peluang ekonomi hilang karena kematian perokok terjadi pada usia produktif antara 30-69 tahun.

• Pada 2005 setiap rumah tangga menghabiskan 11,5 persen untuk membeli rokok, jauh lebih besar dibanding anggaran untuk membeli ikan, daging, dan susu yang hanya 11 persen, pendidikan 3,2 persen, dan biaya berobat 2,3 persen.

• Belum dihitung kerusakan lingkungan, merosotnya nilai lingkungan hidup akibat kebakaran yang disebabkan api dari rokok.

• Pada keluarga dengan ayah yang merokok terdapat anak yang pertumbuhannya terhambat dan cacat tubuh lainnya. Dampak jangka panjang dari malnutrisi anak di antaranya mencakup prestasi yang buruk di sekolah, menurunnya pencapaian intelektual dan kapasitas kerja yang menurun setelah dewasa.

PEREMPUAN DAN TEMBAKAU

Penggunaan produk tembakau di kalangan perempuan meningkat sementara di kalangan laki-laki menurun. Peningkatan penggunaan produk tembakau terjadi sebagai akibat dari perubahan peran dan status ekonomi kaum perempuan seiring dengan pertumbuhan ekonomi serta adanya perubahan faktor sosial-budaya akibat modernisasi. Selain itu, peran terpenting naiknya pemakaian produk tembakau di kalangan perempuan adalah pemasaran industri rokok yang menyasar mereka di seluruh dunia.

KONSUMSI

• Jumlah perokok perempuan sebanyak 20 persen dari 1 miliar perokok di dunia.

• Sebanyak 22 persen perempuan di negara maju dan 9 persen di negara berkembang rutin merokok setiap hari.

• Data yang dikumpulkan dari 151 negara menunjukkan bahwa sekitar 7 persen remaja perempuan merokok, sementara remaja laki-laki 12 persen. Di beberapa negara, jumlah anak perempuan yang merokok hampir sebanyak anak laki-laki.

• Di Russia, 24 persen anak perempuan (usia 13-15 tahun) dan 27 persen anak laki-laki merokok.

• Di Argentina, 27 persen anak perempuan (usia 13-15) dan 21 persen anak laki-laki merokok.

• Tingkat penggunaan produk tembakau di kalangan perempuan bervariasi secara signifikan di seluruh dunia. Di beberapa negara, tingkat penggunaan tembakau di kalangan perempuan hampir sama dengan laki-laki, sedangkan di beberapa negara lainnya tingkat penggunaan produk tembakau di kalangan perempuan jauh lebih rendah.

• Di Inggris, 23 persen perempuan dan 25 persen laki-laki merokok.

• Di Filipina, 9 persen perempuan dan 48 persen laki-laki merokok.

• Jenis tembakau yang digunakan oleh kaum perempuan juga bervariasi antar negara, dimana tembakau sebagai rokok sebagai pilihan di beberapa bagian dunia dan tembakau tanpa asap banyak digunakan di beberapa bagian dunia lainnya.

• Di India, rokok lintingan bidis mencakup 48 persen dari pasar tembakau, tembakau kunyah 38 persendan rokok 14 persen.

• Di Ukraina, hampir 100 persen tembakau dikonsumsi dalam bentuk rokok pabrikan.

BUJUKAN INDUSTRI

• Industri tembakau menargetkan perempuan dan anak perempuan dengan iklan agresif dan menggoda yang mengeksploitasi kesan mandiri, emansipasi, seksi, ramping, glamor dan cantik.

• Pada tahun 2007, R.J Reynolds meluncurkan Camel No. 9—rokok baru khusus perempuan. Diiklankan di majalah fashion seperti Vogue dengan pembaca yang kebanyakan berasal dari kaum muda menampilkan rokok langsing dalam kemasan aneka warna yang modis.

• Pada tahun 2009, British-American Tobacco meluncurkan Pall Mall Scarlet Aromatic dalam kemasan warna merah cheri dan perak yang atraktif dirancang untuk menarik perempuan muda. Pall Mall Scarlet Aromatic dikembangkan secara eksklusif sebagai percontohan di Russia dengan harga eceran maksimum US$ 1, harga yang sangat terjangkau oleh perempuan muda.

• Pada tahun 2010, Imperial Tobacco mendesain ulang rokok Davidoff dengan kemasan merah, putih dan merak yang manis untuk menonjolkan selera kosmopolitan dan menciptakan “aksesoris mode yang mewah.”

• Penelitian menunjukkan bahwa pemasaran yang ditargetkan mempengaruhi tingkat merokok di kalangan perempuan muda.

• Di Spanyol setelah tahun 1970, prevalensi merokok meningkat tajam di kalangan perempuan di bawah 50 tahun. Peningkatan tajam pada kaum perempuan yang merokok ini bertepatan dengan peningkatan iklan besar-besaran di televisi yang menargetkan perempuan.

• Tingkat merokok di kalangan perempuan di Jepang bertambah secara dramatis dari 8,6 persen pada tahun 1986 menjadi 18,2 persen pada 1991, setelah kampanye promosi agresif yang menargetkan perempuan dan anak perempuan.

DAMPAK KESEHATAN

• Seluruh bentuk tembakau dapat menyebabkan kecanduan dan bersifat mematikan. Bukti ilmiah telah meyakinkan bahwa penggunaan tembakau dapat menyebabkan berbagai variasi kanker, termasuk kanker paru-paru, mulut, kerongkongan (esophagus), pangkal tenggorokan (larynx), mulut dan tekak (pharynx), perut, dan pankreas.

• Perokok perempuan memiliki resiko lebih besar terhadap kanker leher rahim, osteoporosis, dan kondisi sistem reproduksi lainnya, termasuk keguguran, kelahiran mati, ketidaksuburan, melahirkan anak dengan berat di bawah normal, dan rasa sakit saat menstruasi serta menopause dini.

• Perokok perempuan juga lebih berisiko terkena stroke, pendarahan pada selaput yang menyelubungi otak, penyempitan pembuluh darah, dan kematian akibat pembengkakan pembuluh darah.

PEROKOK PASIF

• Secara global, diperkirakan sepertiga orang dewasa terpapar secara reguler terhadap asap rokok orang lain. Paparan terhadap asap rokok orang lain saja telah menyebabkan sekitar 600.000 kematian dini tiap tahun di seluruh dunia.

• Karena prevalensi merokok laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan, paparan terhadap asap rokok orang lain lebih berdampak buruk terhadap perempuan. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh paparan asap rokok, 47 persen terjadi pada kalangan perempuan.

• Laporan Organisasi Kesehatan Dunia tahun 2002 melaporkan secara konklusif bahwa paparan terhadap asap rokok orang lain menyebabkan kanker paru-paru, penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya.

• Meskipun perempuan lebih sedikit merokok daripada laki-laki, banyak perempuan non-perokok yang masih mengalami peningkatan resiko terhadap kanker paru-paru dan resiko kematian karena suami atau pasangan mereka yang merokok.

 

Sumber: GATS, WHO, Kementerian Kesehatan Indonesia

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.