SMP 117 Jkt (2)

58 Kebohongan dalam 10 Menit

SMP 117 Jkt (2)

Seorang anak sekolah sedang melepas iklan rokok yang menempel di warung (kompak)

Hasil pemantauan yang dilakukan oleh SFA, YPMA, dan LAI yang dilakukan terhadap 360 sekolah di 5 kota tahun 2015 menunjukkan serangkaian bukti-bukti bahwa industri rokok berupaya mempromosikan produknya di sekitar sekolah.  Hampir semua industri rokok memborbardir siswa di sekitar sekolah dengan pesan-pesan positif akan produk rokok.  Pemantauan serupa oleh Marina Welker di tahun 2015 menunjukkan hasil yang konsisten dimana anak-anak terpapar sebanyak 58 iklan rokok pada 10 menit berjalan dari rumah menuju sekolah mereka.  Survey cepat yang dilakukan oleh Komnas Anak pada 2012-2013 menunjukkan industri rokok beriklan lewat berbagai media dan menggunakan musik sebagai sarana yang paling banyak dilakukan untuk berpromosi kepada remaja.

Perokok pemula merupakan sumber perokok pengganti yang ditargetkan industri rokok untuk menjadi pelanggan berikutnya.  Tanpa adanya anak-anak usia muda yang merokok, industri rokok akan mati seperti sebuah masyarakat yang tidak punya generasi penerus.  Sejak lama industri rokok mengetahui hal ini dan mengupayakan berbagai cara untuk menjerat anak-anak agar mencoba rokok sedini mungkin.

“Musik memiliki pesona universal dan berpengaruh kuat untuk membidik target pasar remaja” Dokumen interal perusahaan rokok Kent, No. 5000010132.  Sejak lama industri rokok menyadari bahwa produk yang mereka jual akan membunuh separuh dari konsumennya, untuk itu industri perlu mencari perokok baru melalui berbagai upaya, salah satunya lewat musik.  Survey Komnas Anak tahun 2009-2011 menunjukkan bukti bahwa sebanyak lebih dari 200 acara musik diselenggarakan oleh industri rokok tiap tahunnya.  Kegiatan inilah yang kemudian dijadikan kendaraan bagi industri memasarkan produk mereka agar dikenal dan dekat dengan kesan positif musik.  Dengan demikian, produk rokok yang bahaya dan mematikan ini menjadi tersamar dengan kedok citra music yang menyenangkan.    

Melalui berbagai strategi, indsutri rokok berhasil mendapatkan 1800 perokok pemula setiap harinya (Riskesdas 2013).  Di Indonesia, jumlah perokok pemula usia 10-14 tahun secara persisten meningkat sejak 2 dekade terakhir.  Jumlah ini meningkat dari 9% di tahun 1995 menjadi 17.3% di tahun 2013.  Kelompok usia ini merupakan kelompok usia yang rentan sebagai target industri rokok.  Sebagian besar perokok, mulai merokok pada usia dibawah 20 tahun dengan berbagai alasan seperti citra diri yang “keren”, “dewasa”, dan “gaul”, semuanya merupakan citra yang sering dimunculkan dalam iklan rokok.  Melihat potensi yang begitu besar ini, industri rokok tak segan menghabiskan dana triliunan rupiah untuk memasarkan produknya lewat iklan, promosi, dan sponsorship.

Kelompok usia remaja yang menjadi target industri rokok saat ini merupakan mereka yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang.  Indonesia akan menyambut sebuah fenomena kependudukan yang langka dimana penduduk usia produktif akan lebih banyak dibandingkan dengan penduduk yang tidak produktif pada 30 tahun mendatang.  Hal ini sekaligus berarti Indonesia bisa memiliki kesempatan untuk memanfaatkan peluang ekonomi dan pembangunan semaksimal mungkin.  Fenomena ini biasa disebut dengan bonus demografi.  Jika tidak dipersiapkan dari sekarang, maka peluang ini akan hilang sia-sia.  Bahkan, jika penduduk usia muda saat ini diserbu dengan rokok dari berbagai sisi, alih-alih bonus demografi, Indonesia akan mendapatkan bencana demografi.  Mereka yang seharusnya menjadi penduduk produktif, akan menjadi beban Negara karena sakit atau cacat.

Seorang negarawan sekaligus tokoh agama yang disegani di Indonesia, Buya Syafi’I Ma’arif memaparkan seruan moral yang berbunyi “jika kita iba dengan bangsa ini, kita harus membuat sebuah gelombang besar untuk melawannya (rokok). Untuk pemuda, dan anak cucu kita. Kalau tidak, wassalam Negara kita”.  Pesan moral ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Negara kita sudah darurat rokok dan pemerintah harus segera bertindak membuat perlindungan bagi masyarakatnya.  Kelompok rentan seperti anak-anak dan warga miskin merupakan kelompok yang menjadi prioritas dari cengkeraman rokok.  Anak-anak di Negara lain tidak lagi melihat ajakan merokok lewat iklan, apakah adil jika anak-anak di Indonesia harus terpapar 58 kali ajakan menyesatkan iklan rokok dalam 10 menit perjalanan mereka menuju sekolah?

Industri rokok akan terus berusaha menemukan berbagai cara memasukkan pesan-pesan positif secara terus menerus kepada anak-anak kita.  Tanpa disadari, anak dan remaja memasukkan kesan serta persepsi bahwa rokok merupakan hal keren dan gaul dalam alam bawah sadar mereka.  Citra yang menyesatkan ini pada akhirnya dapat memicu anak meniru perilaku merokok dan menjerat mereka menjadi pecandu di masa depan.  Jika kita tidak melakukan perubahan, anak-anak dan masa depan bangsa ini menjadi taruhannya.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*