IMG-20150904-WA0006

Industri Rokok : Anda Memberikan Nama Buruk untuk Bon Jovi

Jon Bon Jovi berhenti merokok beberapa tahun lalu, dan dia pun memiliki yayasan yang bekerja “untuk memerangi masalah keputus-asaan ekonomi yang memaksa keluarga maupun individu.”, dan juga mendukung program-program kanker anak. Jadi Rocker ini pun seharusnya juga khawatir bahwa salah satu industri rokok terbesar di Indonesia menggunakan nama dan band-nya untuk memasarkan produk mematikan ini.

Industri rokok Gudang Garam mensponsori konser Bon Jovi tanggal 11 September di Jakarta dan menggunakan konser ini untuk mempromosikan rokok bemerek Signature. Iklan Billboard di konser ini menuliskan “Signature Moment” dan “Bon Jovi Live!” dengan huruf-huruf besar, tapi lucunya mencoba untuk lari dari tanggung jawab untuk menarik anak-anak dengan penyangkalan yang nyaris tak terlihat dengan pernyataan, “Signature Moment together with Bon Jovi are againts children smoking.” Atau “Signature Moment bersama dengan Bon Jovi melawan anak-anak untuk merokok”.

Sponsor rokok untuk konser ataupun jenis acara lainnya sudah dilarang di Amerika dan di banyak negara untuk alasan yang baik – mereka membantu memasarkan rokok supaya anak muda mudah terpengaruh. Tapi hal ini masih dibiarkan di Indonesia, yang memiliki regulasi terlemah di dunia untuk mengurangi penggunaan tembakau dan menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control – World Heart Organization (FCTC – WHO).

Band seperti Bon Jovi memiliki kekuatan untuk menetralisasi pengaruh rokok dengan bersuara dan menolak sponsor rokok. Pada tahun 2010, Kelly Clarkson menghilangkan iklan dan sponsor rokok dari konsernya di Jakarta karena desakan dari penggemar dan aktivis kesehatan. Serupa, Alicia Keys juga menolak untuk tampil di konsernya di Indonesia sampai diturunkannya sponsor dan marketing oleh Phillip Morris International dan perusahaan bagiannya, Sampoerna.

Di Indonesia, rokok membunuh setidaknya 225,000 orang setiap tahun. Jumlah yang mengejutkan 41 persen anak laki-laki usia 13-15 merokok, 78 persen anak muda terpapar asap rokok di tempat umum, dan jumlah perokok laki-laki dewasa adalah yang tertinggi di dunia. Pengeluaran rumah tangga bersama perokok, lebih banyak menghabiskan uangnya untuk membeli rokok daripada pendidikan atau kesehatan.

Artis internasional terkenal mendatangi Indonesia tapi berkontribusi untuk krisis itu ketika mereka malah membantu memewahkan rokok dan mempromosikan merek rokok dengan konser yang di sponsori oleh rokok. Musisi seperti Bon Jovi seharusnya bangkit dari industri rokok dan membantu melindungi hidup dengan menolak tampil di konser kecuali sponsor dan merek rokok diturunkan sama sekali.

Kedatangan Bon Jovi ke Indonesia sangat singkat. Dengan menolak industri rokok menggunakan namanya, Bon Jovi dapat lebih memberikan dampak positif terhadap anak muda.

2015_09_04_bonjovi_02

Source : http://www.tobaccofreekids.org/tobacco_unfiltered/post/2015_09_04_bonjovi

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*