Peringatan: Rokok Membunuhmu

 

Baliho Rokok (Biru Voice)

Baliho Rokok (Biru Voice)

Tahun 2014 segera tiba, kita bersiap meninggalkan 2013, tahun yang penuh sesak oleh sengkarut pro-kontra pengendalian tembakau. Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau (FCTC) yang tak kunjung diratifikasi, masuknya RUU Pertembakauan dalam proglam legislasi DPR, hingga persiapan pemberlakuan gambar peringatan bahaya rokok di bungkus rokok yang efektif berlaku per 1 Januari 2014.

Di jalan-jalan Jakarta kita sudah bisa melihat baliho-baliho menampilkan peringatan yang berbeda dibanding sebelumnya. Selain gambar tengkorak ada tulisan: PERINGATAN: ROKOK MEMBUNUHMU. Alih-alih melegakan, peringatan di baliho itu terasa meledek. Sebab di samping tulisan itu ada orang sedang menghisap asap rokok begitu nikmat. Meski di ujung asap itu ada gambar tengkorak, fokus yang melihat baliho ini tetap saja pada wajah perokok ini dengan mulut dan mata yang menikmati racun nikotin itu.

Masalahnya, peringatan itu jauh lebih kecil ketimbang gambar iklannya itu sendiri yang menampilkan seorang muda dengan wajah ranum dan segar tersenyum menghisap aroma tembakau di kedua tangannya. Seolah-olah menghidu tembakau mentah bisa begitu nikmat. Tentu saja, iklan hanya asosiasi dari benda nyata yang diwakilinya yang seringkali tak sesuai dengan kenyataannya.

Di manapun, iklan telah memicu orang menjadi perokok baru. Dalam hal rokok, iklan adalah alat utama menyebarkan produk olahan tembakau ini untuk dijual. Rokok tak disebarkan melalui asap dari para penghisapnya. Siapa sudi menghisap asap rokok orang lain?

Rokok tak seperti sepatu atau durian montong yang akan rame-rame dibeli karena tampilan bentuk dan baunya. Rokok harus membujuk dengan cara menyebarkan kenikmatan menghisapnya. Karena itu iklan salah satu cara yang masif digunakan. Target iklan rokok selalu saja konsumen baru, mereka yang belum merokok secara rutin. Mereka yang sudah terjerat asap nikotin bukan lagi target karena mereka akan dengan sendirinya menjadi pecandu.

Dengan cara pemasaran seperti itu sudah seharusnya iklan rokok ditandingi dengan peringatan bahayanya. Meski sudah dinyatakan adiktif karena itu peredarannya mesti diatur ketat, rokok tetaplah barang legal. Ia diakui oleh hukum Indonesia sebagai produk yang boleh dijual. Karena itu sudah seharusnya barang legal berbahaya ini terus menerus diimbangi penyebarannya dengan kampanye akan bahaya yang dikandungnya. Sesederhana itu upaya PP 109/2012.

Sudah jelas rokok berbahaya. Industri rokok dan para pembelanya tak perlu lagi mengkamuflasekannya dengan manfaat dari tembakau. Tembakau mungkin mengandung zat-zat yang bermanfaat untuk kesehatan. Tapi itu tembakau. Produknya lain lagi. Rokok adalah produk olahan tembakau yang dibuat dengan cara dicampur dengan bahan kimia. Karena itu ada 7.000 zat berbahaya yang terkandung dalam sebatang rokok.

Seharusnya dengan bahaya yang sudah dibuktikan secara medis itu saja rokok dilarang total dikonsumsi. Hukum negara masih membolehkannya dikonsumsi. Karena itu semestinya industri rokok tahu diri bahwa bisnis mereka sudah sudah sangat mendapat kemudahan. Mereka tak perlu menghadang upaya khalayak menuntut haknya hidup sehat tanpa asap rokok lewat peraturan pemerintah mengkampanyekan bahayanya.

Masuknya RUU Pertembakauan adalah ancaman bagi keinginan publik akan udara sehat. Proses politik di parlemen bisa saja menghasilkan beleid yang ujungnya menganulir PP 109 tentang gambar peringatan itu mengingat RUU itu disusun dan dipesan berdasarkan perspektif industri rokok.

Semoga saja parlemen nanti masih punya hati nurani menyusun hukum untuk kebaikan kita semua. Sebab ini malam tahun baru, selayaknya kita optimistis akan tahun yang lebih baik di 2014. Semoga saja pemilihan umum 2014 nanti menghasilkan anggota-anggota parlemen dan presiden yang lebih pro pada kepentingan publik, yakni kesehatan yang menjadi hak konstitusi setiap warga negara Indonesia.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*