Robby

Korban Rokok: Derita Robby, Derita Kita

Yang mengharukan dari Robby Indra Wahyuda adalah cara dia menghadapi dan menempuh hidup dengan kanker di lehernya lewat humor. Status-statusnya di Facebook seperti bergembira merayakan kehilangan suara dan leher bolong seumur hidupnya. Ia baru 26, dengan istri dan anak yang belum satu tahun. Ia vokalis band yang harus melupakan hobinya bernyanyi karena hanya dengkuran yang keluar dari tenggorokannya. Betapa ironis!

Barangkali itu cara Robby mensyukuri hidup. Atau itulah fase hidupnya setelah melewati penderitaan di ruang operasi. Robby terkena kanker laring, akibat merokok sejak SMP. Pita suaranya harus diangkat dan leher dilubangi untuk jalan masuk dan keluar oksigen bagi tubuhnya. Hanya orang suméleh yang bisa tetap bersyukur dan bergembira melewati kegetiran-kegetiran dunia yang seringkali terasa tak adil. Robby mengambil sisi lain dari penderitaannya: ia masih bisa menjalani hidup dengan istri dan anaknya. Sisi syukur itulah yang ia lihat dan jalani kini.

Orang-orang bijak berpesan bahwa momen penting dalam hidup adalah bersyukur. Tak ada hal yang paling tinggi tingkatannya selain mencapai tahap ini. Cara ikhlas seperti ini. Orang yang bersyukur adalah manusia yang selalu menerima ujian paling berat, setelah ia menempuhnya dengan sungguh-sungguh. Hidup hanya sekali, tak perlu dibikin berat dengan membayangkan hidup yang rumit dan penuh beban.

Robby adalah korban ketidakpedulian negara dan kita semua. Ia telah termakan propaganda industri rokok yang mendorong anak-anak muda menjadi keren dengan menghisap racun. Seperti umumnya para perokok, Robby mencoba barang laknat itu untuk bergaul. Istilah kerennya “social smoker”. Betapa menjebaknya istilah yang terlihat sangat bagus dan enteng ini. Sebab, begitu membuka sedikit saja pada racun rokok, ia tak bisa lepas, ia kecanduan, lalu kolaps dihajar racun yang dihisapnya.

Robby adalah korban ketidakpedulian negara yang cuek pada bahaya adiksi ini. Dengan ideologi cukai rokok sebagai pos penerimaan negara, pemerintah terus memacu industri rokok meningkatkan produksinya. Dengan dorongan itu, pabrik rokok melakukan berbagai cara agar produksinya yang bertambah itu ludes dibeli. Caranya dengan iklan yang membujuk, memanipulasi bahaya produknya, melobi DPR agar mengesahkan aturan yang melindungi produknya, hingga memodali sekelompok masyarakat untuk mengkampanyekan bahwa pengendalian tembakau adalah agenda asing sehingga harus ditolak dan dibunuh.

Hubungan mutualisme inilah yang membuat rokok abadi sebagai barang legal. Negara tak mempedulikan betapa jahatnya racun nikotin membunuh Indonesia. Hari ini Robby jadi korban, berapa banyak yang senasib dengannya namun tak bersuara di media sosial? Robby adalah perokok aktif, berapa banyak orang di sekelilingnya yang menghisap asap yang dikepulkannya lalu terkena kanker yang sama? Ada 200 ribu kematian per tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan zat-zat racun asap rokok. Asap rokok tiga kali lebih berbahaya bagi orang kedua yang menghisapnya.

Robby adalah korban ketidakpedulian kita. Kita masih acuh dan tak peduli pada bahaya nikotin yang mengancam di sekeliling, setiap saat, kapan saja, di mana saja. Rokok menjadi barang murah yang bisa dibeli oleh siapa saja dan dihembuskan di mana saja. Buku Kita adalah Korban merekam korban-korban rokok dari dua kelompok itu: pasif maupun aktif. Kurang bukti apalagi untuk menunjukkan bahwa ini barang laknat yang harus dilarang?

Negara cuek dengan statistik itu. Pemerintah yang bertugas menegakkan konstitusi, salah satunya menjamin dan melindungi hak sehat setiap orang, sudah lupa dengan tanggung jawab tersebut. Sepanjang pabrik rokok terus menyuplai cukai setiap tahun, negara akan selamanya absen menjadi pelindung utama rakyatnya. Atas nama petani tembakau yang minoritas, atas nama buruh pabrik rokok yang sedikit, atas nama pengecer, dan atas nama atas nama lain yang tak masuk akal, negara akan terus menjadi pelindung utama pabrik rokok.

michael-hartono-140311b

Maka untuk memutus lingkaran setan yang tak putus-putus itu, saatnya kita peduli, agar tak ada Robby lain—sanak dan saudara anda—menjadi korban keganasan racun rokok. Robby dan para korban rokok, juga negara yang mendapat cukai itu, harus mengeluarkan uang tak sedikit untuk mengobati penyakit yang mereka derita. Sementara pemilik pabrik rokok, yang mendapat untung dari uang kita hasil kerja keras itu, tampil menjadi orang terkaya tanpa rasa sakit dari racun yang dibuatnya.

Terlalu mahal generasi Indonesia ditukar dengan racun nikotin yang mematikan. Saatnya #MelekBahayaRokok, saatnya stop menghisapnya, saatnya turut serta mendorong peran negara menghentikan epidemi rokok. Demi Indonesia, demi anak-cucu kita.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*