147546550

BoB Versus Tyson

Pelajaran untuk Pengendalian Tembakau

Jalal
Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

Ada peristiwa terkait ilmu pengetahuan yang sedang heboh diperbincangkan di Amerika Serikat dan berimbas juga ke bagian dunia lain di beberapa hari terakhir ini. Seorang rapper, Bobby Ray Simmons Jr alias BoB, membuat heboh AS lantaran membuat rangkaian tweet yang mengklaim bahwa dia telah menemukan seluruh bukti bahwa Bumi itu rata. Salah satu kicauannya itu berbunyi “A lot of people are turned off by the phrase ‘flat earth’ … but there’s no way u can see all the evidence and not know… grow up.”

Tentu, banyak orang kemudian menanggapi kicauannya dengan memberikan bukti-bukti ilmiah soal Bumi yang secara faktual berbentuk seperti bola.  Tak sedikit juga yang menghina BoB dengan sebutan-sebutan yang kasar.  Tapi BoB tetap bersikukuh dengan pendiriannya, dan dia tidak sedang bergurau. Tentu saja ini kemudian membuat semakin heboh.  Saking hebohnya, astrofisikawan paling terkenal sejagat, Neil deGrasse Tyson, ikut menanggapi secara langsung kicauan anti-ilmu pengetahuan mungkin paling edan yang pernah terjadi di dunia modern ini.

Tyson diakui sebagai salah seorang dengan IQ tertinggi di dunia, dengan pencapaian akademik paling mengesankan di bidangnya, dan memiliki kemampuan artikulasi yang sangat hebat. Siapapun yang pernah menonton acaranya akan mengakui bahwa dia bisa membuat siapapun paham topik-topik astrofisika—yang sesungguhnya sangat berat dan rumit—dengan mudah. Dia, menurut hemat saya, adalah seorang science popularizer jauh lebih hebat daripada Stephen Jay Gould atau Carl Sagan sekalipun. Mungkin kehebatan Tyson hanya bisa ditandingi oleh Isaac Asimov yang telah meninggal di tahun 1992, lebih dari 20 tahun lalu.

Tetapi, setelah Tyson memberikan bantahan-bantahan yang sangat benderang pun, BoB tak beranjak dari posisinya. Terakhir, dia membuat kicauan yang menunjukkan berbagai foto Bumi yang dirilis NASA, diambil dari tahun-tahun yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda (atau waktu yang berbeda), lalu dia bertanya: ”Apakah kalian mau percaya dengan lembaga yg tidak becus memutuskan mana gambar Bumi yang sesungguhnya?” Sebelumnya, BoB juga telah menggunakan dua citra Bumi yang dirilis NASA untuk ‘membuktikan’ bahwa NASA tidak konsisten dengan bentuk dan ukuran benua Amerika. Tentu, itu karena periode rotasi Bumi yang berbeda.

Saya memikirkan ini dengan mengaitkannya pada kampanye anti-ilmu pengetahuan oleh industri rokok di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Lewat para frontgroups-nya, industri rokok terus menerus menyebarkan penyesatan yang membahayakan banyak pihak. Kalau seorang rapper yang tampaknya tak dibayar siapapun, dengan senjata media sosial telah mendapatkan tanggapan salah satu orang terpintar di dunia saja tetap bergeming, tentu kelompok-kelompok pembela kepentingan industri rokok—yang disinyalir mendapatkan bantuan finansial yang tidak sedikit—tak akan bergeser sedikitpun dari posisinya.

Yang sangat menarik dari fenomena yang dibuat oleh BoB adalah bahwaberbagai kicauan Tyson kemudian mendapatkan banyak perhatian dari publik.  Hal ini membuat orang-orang di AS kembali membincangkan ilmu pengetahuan, mengomentari secara kritis berbagai posisi anti-ilmu pengetahuan lain semisal pengingkaran terhadap pemanasan global antropogenik. Bukan BoB yang kemudian tercerahkan oleh diskusi yang berkembang—BoB sendiri agaknya mustahil dicerahkan—tetapi publik AS dan dunia.

Pertempuran dengan industri rokok mungkin sama saja, tak akan membuat para kelompok pembelanya untuk beranjak dari posisi anti-ilmu pengetahuannya.  Namun yang terpenting bagi para pejuang pengendalian tembakau adalah bahwa pertempuran itu dapat mengedukasi publik agar tak mudah disesatkan oleh mereka yang berkepentingan untuk melestarikan industri berbahaya dan beracun itu (nikotin, termasuk dalam sistem hukum Indonesia, memang dinyatakan sebagai B3).

Apa yang dilakukan oleh para aktivis pengendalian tembakau yang secara langsung berhadapan dengan kelompok pembela industri rokok itu mirip efeknya dengan berbagai kicauan Tyson. Lihat saja efek dari petisi yang dibuat oleh Elysabeth Ongkojoyo pada bulan Agustus 2015. Ibu yang hendak melindungi bayinya dari asap rokok di gerai JCo Pluit Village Mall itu kemudian ramai-ramai dirisak bahkan difitnah oleh para pembela kepentingan industri rokok—walau tentu mereka tidak mengaku seperti itu—namun kesadaran dari warga masyarakat terbangkitkan, bahwa merokok di ruangan tertutup memang seharusnya sudah tak lagi diperkenankan. Pertermpuran di media sosial sangat keras di antara dua kubu, namun ilmu pengetahuan dan akal sehat memenangkannya. Petisi itu menjadi salah satu yang paling popular di Indonesia sepanjang 2015, dan banyak membawa perubahan positif.

Tetapi, seharusnya para aktivis pengendalian tembakau tak perlu sering-sering bertempur langsung dengan para pembela kepentingan industri rokok itu. Sama dengan Tyson yang jauh lebih banyak menghabiskan waktu meneliti, berbicara kepada komunitas ilmiah, dan mengedukasi publik lewat acara-acara ilmiah popular di mana dia menjadi host-nya, para pejuang pengendalian tembakau perlu melihat publik sebagai sasaran edukasinya, sehingga perlu mencurahkan waktu lebih banyak untuk untuk mengedukasi publik—terutama generasi muda—lewat cara-cara yang efektif. Jadi, seharusnya tak disibukkan dengan pertempuran melawan para pembela kepentingan industri rokok, terutama di media sosial.

Tyson, selain menjalankan fungsi mengedukasi publik, juga adalah pejuang advokasi yang sangat gigih kepada Pemerintah AS, terutama terkait dengan penggunakan ilmu pengetahuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik. Kepentingan industri rokok sangatlah jelas anti-ilmu pengetahuan dan anti-kemaslahatan masyarakat, apapun dalih yang mereka pergunakan, dan karenanya advokasi yang sama perlu terus dilakukan ke seluruh pihak di dalam Pemerintah RI. Di berbagai negara yang telah meratifikasi FCTC sekalipun—yang jelas-jelas melarang interferensi industri rokok—industri ini terus-menerus berusaha untuk memengaruhi kebijakan pengendalian tembakau. Tentu, ini dilakukan dengan meminjam tangan frontgroups di level nasional maupun internasional. Hal yang sama, dengan magnitude jauh lebih besar, tentu terjadi di Indonesia yang tak dilindungi FCTC.

Kita tahu tantangan untuk melakukan advokasi kebijakan agar bersandarkan pada ilmu pengetahuan itu sangatlah berat. Selain kecenderungan koruptif, kebodohan, ketidakpedulian, serta kenikmatan asap rokok telah menyelimuti logika banyak di antara para pengambil keputusan di negeri ini. Tapi, itu bukanlah dalih untuk tidak memerjuangkan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan. Itu adalah masalah yang perlu dicari solusinya.

“Anti-intellectualism has been a constant thread winding its way through our political and cultural life, nurtured by the false notion that democracy means that ‘my ignorance is just as good as your knowledge.’” Demikian kata-kata Isaac Asimov yang selalu muncul di kepala saya setiap kali ilmu pengetahuan dikalahkan. Biasanya, ilmu pengetahuan itu selalu dikalahkan oleh kepentingan kapitalistik, kerakusan perusahaan, yang difasilitasi oleh birokrasi yang korup. Dan, dalam kasus industri rokok, ilmu pengetahuan dan kepedulian yang dimiliki oleh para pejuang pengendalian tembakau tak cuma berhadap-hadapan dengan ketidakpedulian—seperti yang dinyatakan dalam kata-kata bijak Asimov—melainkan dengan seluruh taktik yang dirancang dengan cermat untuk mengambil keuntungan sebanyak dan selama mungkin dari aktivitas meracuni bangsa ini. Karenanya Indonesia membutuhkan banyak pejuang pengendalian tembakau dengan sikap macam Tyson, dan dengan kesadaran milik Asimov.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*