1346244sedekah780x390

Corporate Social (Ir)responsibility – Wacana tentang Kegiatan Sosial pada Sebuah Industri Kontroversial

Tak ada hal yang lebih menyenangkan dibandingkan menerima pertanyaan tak terduga, dan kemudian bisa bertukar pandangan yang mungkin bisa menyumbang pada pemahaman yang lebih baik.  Itu yang terjadi pada penulis ketika hadir di sebuah acara yang melibatkan anak-anak muda yang penuh semangat mendukung Indonesia untuk segera mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang dipromosikan WHO. Setelah acara secara resmi ditutup, di tengah acara makan siang, ada seorang mahasiswi cum blogger yang menanyakan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar tanggung jawab sosial (corporate social responsibility atau CSR) industri rokok. Menurutnya, banyak orang berpikir industri rokok itu baik, lantaran banyak melakukan kegiatan yang mereka klaim sebagai CSR.

Jawaban singkatnya adalah bahwa para pakar sudah lama berkesimpulan bahwa perusahaan rokok itu bisa saja menjalankan banyak projek dan program sosial, namun mustahil dianggap bertanggung jawab sosial.  Sebuah dokumen sangat terkenal dari WHO di tahun 2004 menyuarakan hal yang sama dengan menyatakan bahwa hubungan antara industri rokok dengan CSR adalah sebuah inherent contradiction yang tak mungkin didamaikan.
Mengapa? Karena makna CSR yang sesungguhnya adalah tanggung jawab perusahaan atas dampak yang timbul dari keputusan dan aktivitasnya. Dengan demikian, kalau sebuah perusahaan rokok ingin benar-benar ber-CSR, maka ia harus bertanggung jawab atas segala dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang timbul dari proses produksi, promosi dan konsumsi produknya.  Sementara, dampak negatif dari industri rokok sangatlah besar, sehingga tak mungkin industri itu bertanggung jawab atasnya.
Timbangan atas Dampak Industri Rokok
Telah banyak penelitian ilmiah atas berbagai dampak itu. Tentu tidak seluruhnya negatif, terutama yang terkait dengan aspek ekonomi. Kesempatan kerja, rantai pasokan bisnis, pajak, dan cukai adalah di antara banyak dampak ekonomi positif yang dibuat oleh industri rokok. Dalam CSR, yang harus dilakukan adalah memaksimumkan itu. Jadi, perusahaan rokok dituntut untuk menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja, menciptakan bisnis yang adil dalam rantai pasokan untuk masyarakat, serta mengoptimalkan penerimaan pajak dan cukai kepada negara.
Nah, di sini kemudian mulai muncul masalahnya. Perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia diduga kuat ogah melakukannya. Buktinya? PHK ribuan pekerja di tahun 2014 (karena lebih memilih ‘mempekerjakan’ mesin), impor tembakau yang semakin membesar (dibandingkan membayar dengan harga yang baik kepada petani tembakau lokal, perusahaan rokok lebih memilih tembakau yang lebih murah dari Cina), serta keengganan meningkatkan harga jual rokok yang sebenarnya akan mendongkrak pajak dan cukai (dengan beragam dalih, dengan korbanan rakyat miskin yang terus menjadi pembeli rokok padahal uang itu seharusnya bisa dipergunakan untuk membiayai keperluan keluarganya).
Terhadap dampak negatif dari industri rokok, para peneliti lebih banyak lagi memberikan bukti. Kesehatan masyarakat, sebagai bagian dari aspek sosial, menyediakan bukti paling popular. Dengan kecanggihan ilmu epidemiologi mutakhir, perhitungan jumlah orang yang sakit dan meninggal akibat rokok di setiap negara setiap tahunnya kini semakin presisi. Di Indonesia, angka terakhirnya adalah mendekati 240 ribu. Sementara ilmu ekonomi kesehatan memberikan gambaran lengkap berapa kerugian masyarakat per tahun akibat pembelian rokok, biaya akibat sakit, serta kehilangan produktivitas. Angka terakhirnya, biaya yang ditanggung rakyat Indonesia adalah mendekati Rp390 triliun.  Itu baru dampak negatif yang paling terkemuka. Kalau kemudian dihitung lagi kerugian masyarakat akibat kebakaran tempat tinggal, dan kerugian sosial lainnya, tentu tak sedikit.
Di aspek lingkungan, dampak paling mencolok dari proses produksi rokok datang dari pertanian dan pengolahan tembakau sebelum masuk ke pabrik. Keduanya telah menyebabkan deforestasi di banyak sekali negara (terkadang menjadi salah satu penyebab utama) termasuk Indonesia. Ini terutama datang karena pembukaan hutan untuk lahan pertanian tembakau dan penebangan banyak sekali pohon untuk dipergunakan dalam pengeringan daun tembakau. Pertanian tak berkelanjutan, dengan input kimiawi yang tinggi telah mengakibatkan kerusakan tanah dan sumber-sumber air, serta derita keracunan hewan-hewan air.
Dan, karena puntung rokok adalah sampah nomor 2 terbanyak yang dibuang di alam bebas (setelah bungkus plastik), maka keracunan tanah dan air juga sangat banyak ditemukan. Baik filter maupun sisa tembakau bersifat toksik, sehingga juga meracuni ikan-ikan air tawar. Tentu, biaya lingkungan yang timbul untuk mengumpulkan puntung juga tidak sedikit.  Walau di Indonesia belum ada perhitungan detailnya, namun studi di level internasionalnya sudah berlimpah.
Demikianlah, kalau kita hitung dengan full cost accounting, dengan memasukkan kerugian ekonomi-sosial-lingkungan yang timbul dalam rantai nilai industri rokok, maka biaya itu pastilah lebih besar dari Rp500 triliun. Mungkin jauh lebih besar daripada itu. Dan penulis berharap suatu saat memang angka pastinya bisa keluar, karena metodologinya sudah mapan.
Harapan terhadap Industri Rokok
Kini, bandingkan apa yang telah diuraikan dengan ‘sumbangsih’ atas nama CSR yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia. Paling-paling kegiatan sosial itu angkanya akan berkisar pada ratusan miliar per tahun, yang jauh sekali di bawah seluruh hasil monetisasi kerugian akibat rokok seperti di atas. Jauh sekali dari kemungkinan mengkompensasi dampak negatif itu!
Yang juga tak kalah penting untuk disebutkan adalah betapa aktivitas-aktivitas sosial itu sedemikian dipergunakan untuk membentuk citra positif melalui komunikasi yang massif. Padahal, komunikasi CSR seharusnya berimbang, memberikan gambaran jujur tentang dampak positif maupun negatif.  Dalam standar pelaporan keberlanjutan yang dikeluarkan oleh Global Reporting Initiative, misalnya, perusahaan diminta secara terbuka untuk mengungkapkan berapa orang yang mengalami kecelakaan dan kematian sebagai akibat operasi perusahaan, juga dampak kesehatan dari penggunaan produk perusahaan.  Namun, tentu saja, perusahaan-perusahaan rokok tidak akan mengungkapkan hal itu.
Dampak negatif yang sangat besar, serta upaya mempromosikan dampak positif secara tidak proporsional ini menjadi keprihatinan para pakar CSR. Walau, harus dengan jujur harus dinyatakan bahwa industri rokok tidaklah sendirian. Seluruh industri kontroversial—di mana industri rokok termasuk di dalamnya, bersama dengan industri minuman keras, judi dan pornografi—memang cenderung demikian, habis-habisan mengiklankan kebaikan mereka sambil berharap itu bisa membuat orang-orang lupa pada dampak negatif besar yang mereka timbulkan.
Tahun 2014 lalu penulis membaca sebuah perhitungan detail tentang emisi setara karbon dioksida. Ternyata hampir 2/3 emisi di dunia ini disemburkan oleh kurang dari 100 perusahaan. Yang ada di daftar itu adalah perusahaan minyak, batubara dan semen. Tentu, dua yang pertama karena mereka mengolah energi fosil yang emisinya luar biasa tinggi. Yang terakhir karena intensitas energi fosil yang dipergunakannya sangat tinggi.
Dalam dunia yang keberlanjutannya terkendala oleh perubahan iklim, secara terus terang penulis menyatakan kehendak untuk melihat menghilangnya perusahaan minyak dan batubara. Kalau mereka ingin terus eksis, mereka harus mengubah diri menjadi perusahaan energi. Pertama, mereka bisa bertransformasi sementara menjadi perusahaan energi berbasis gas yang emisinya lebih rendah. Kedua dan lebih baik, mereka bisa langsung menjadi perusahaan berbasis energi terbarukan. Dengan begitu, mereka bisa menghindari tuduhan sebagai perusahaan yang tak bertanggung jawab sosial (atau melakukan corporate social irresponsibility), dan benar-benar menjadi perusahaan yang ber-CSR.
Harapan yang sama penulis tujukan pada perusahaan-perusahaan rokok. Mereka bisa memikirkan untuk bertransformasi menjadi perusahaan-perusahaan yang mungkin ber-CSR dalam pengertian yang benar. Sudah seharusnya mereka mulai memikirkan diri untuk berhenti membawa mudarat kepada rakyat Indonesia, dan mulai membawa manfaat yang sesungguhnya.  Dengan harapan itu, penulis sebetulnya juga hendak menyatakan bahwa aksesi FCTC hanyalah sebuah tujuan antara, yaitu untuk membuat perusahaan-perusahaan rokok bisa mengurangi berbagai dampak negatifnya, terutama kepada mereka yang belum dan memilih untuk tidak merokok.  Dalam jangka panjang, industri rokok seharusnya menghilang dari Indonesia dan seluruh dunia.  FCTC adalah upaya untuk membuat industri rokok menjadi less bad atau less unsustainable; sementara hilangnya industri rokok adalah prasyarat membuat dunia menjadi good atau sustainable.

Jalal

Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia
No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*