#SINAUKEDAULATAN = MEMERDEKAKAN PIKIRAN

CD524KhVIAAZwc4

Artikel ini ditulis oleh Kartolo

Kebetulan bulan Mei ini ada 2 hari peringatan, yaitu Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei dan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei. Sebagaimana peringatan2 sebelumnya, media meli put hari Buruh bukan mendalami keadaan dan kondisi nasib buruh dan simpati thd perjuangannya. Media justru ikut membully buruh dengan menampilkan tuntutan2 buruh yang dirasa tidak masuk akal dan mengglorifikasinya habis2an. Media menampilkan foto2 sampah dan kotornya taman akibat demo buruh atau sensasi bentrokan buruh vs aparat. Kesannya media yang wartawan2nya ini pada ghalibnya juga buruh – malah julukannya kuli – tidak memiliki empati dan keberpihakan terhadap buruh.

Padahal nasib buruh yang laten dan miskin permanen masih terjadi di mana2, di pabrik rokok misalnya. PHK sepihak oleh industri rokok besar terjadi akibat upaya manajemen melakukan mekanisasi proses produksi dan meningkatkan penjualan rokok kretek mesin. Sistem kerja outsourcing di industri rokok jelas merugikan buruh, karena tidak adanya jaminan bagi buruh, asuransi kesehatan, jiwa, dll. Mereka rentan di-PHK tanpa pesangon karena outsourcing. Berbeda dengan buruh2 di wilayah Cikarang, Bekasi, yang mana asosiasi buruhnya cukup kuat dan berwibawa, buruh2 industri rokok justru kayak macan ompong. Hampir jarang kita dengar demo buruh rokok (dan petani tembakau) melawan industri rokok. Yang terjadi justru demo ‘buruh rokok’ melawan kebijakan pemerintah ttg pengendalian rokok.

*****

Tata niaga dan pola hubungan industrial buruh rokok dan petani tembakau di hadapan industri rokok memang timpang. Tata niaga tembakau praktis tidak berubah sejak jaman tanam paksa di era kolonial Belanda. Harga beli tembakau ditentukan oleh pabrik rokok tergantung pada hitung2an jumlah stok tembakau dan kuota impor yang diberikan oleh pemerintah kepada industri. Petani tembakau tidak pernah tahu berapa jumlah kebutuhan tembakau industri, sehingga mereka tidak bisa merencanakan masa dan jumlah tanaman tembakau yang akan ditanam. Akibatnya pada saat panen raya, harga tembakau jatuh akibat tidak transparannya tata niaga. Harga pagi bisa berubah ketika sore. Belum lagi permainan tengkulak yang membuat petani gigit jari karena tembakaunya tidak laku atau dihargai rendah, padahal di luar pasarannya masih cukup tinggi.

Buruh linting lebih sengsara lagi nasibnya. Mereka harus berangkat pagi dini hari agar tiba di gerbang pabrik lebih awal agar sempat sarapan dulu sebelum melinting rokok hari itu. Sampai di meja linting pun, si buruh harus rebutan duduk di deretan terdepan agar dapat jatah mbako lebih banyak dari mandor. Upahnya? Jangan tanya. Upah rata2 mereka per batang rokok cuma Rp 10 alias sepuluh perak saja! Jadi kalau mereka berhasil melinting 5.000 dalam sehari, buruh2 itu bisa membawa pulang Rp 50.000 sehari. Kalau buruh itu berhalangan kerja, karena sakit atau anaknya demam, ya dia bawa pulang nol rupiah alias tangan kosong.

Sementara pada level proses berikutnya ada buruh yang nasibnya jauh lebih beruntung, namanya grader tembakau, yang kerjaannya menilai kualitas tembakau dan menyortir tembakau yang masuk gudang pabrik. Entah bagaimana, para grader ini posisi sosialnya jauh lebih tinggi daripada petani dan buruh. Penghasilannya pun fantastis, sampai2 ada grader yang punya museum pribadi yang berisi lukisan2 langka karya pelukis terkenal seperti Afandi, dll yang harganya tentu saja jutaan, bahkan milyar. Sementara petani tembakau cukup puas dengan kaya semi permanen, bisa pergi haji pada saat habis panen, lalu setelahnya melarat lagi.

Buruh linting jangan ditanya deh. Seperti kata anggota komplotan komthek, mana ada buruh yang kaya? Sementara mereka menikmati uang juragan rokok, dibayar utk cuap2 dan jadi buzzer kepentingan industri rokok. Buruh melarat emang gue pikirin, yang penting gue ada kerjaan dan dapet rokok gratis. Rutin pulak! Demikian jubir komthek berupaya meyakinkan saya sampai mulutnya berbusa2.

Entah, kebanyakan nyabun kali!

*****

Negara2 maju banyak berinvestasi pada pendidikan, melakukan riset dan pengembangan, sehingga negara miskin SDA seperti Jepang bisa menjadi negara industri maju. Pendidikan membuat sebuah bangsa melompat melampaui negara2 kaya SDA seperti Indonesia. Dengan pendidikan, negara itu meningkatkan kualitas SDM sehingga bisa produktif menghasilkan nilai tambah bagi bangsanya, memperoleh penghasilan tinggi, meningkatkan kualitas hidup keluarganya, dan tidak lupa membayar pajak. Singapura memiliki kelebihan kualitas SDM dan strategi cerdik untuk membuat negerinya menjadi hub perdagangan dunia, sehingga semua barang dan jasa melintas negerinya membuatnya bernilai tambah dan memberi pendapatan bagi negeri yang tidak punya apa2 itu. Malaysia sekarang justru sudah mulai merengkuh perdagangan jasa teknologi mengikuti kesuksesan Korea, Cina dan India. Otomatis penduduk Malaysia harus menguasai sains dan teknologi utk bisa memberi nilai tambah pada industri elektronik yang jadi andalannya. Malaysia relokasi kebun2 sawitnya melalui sewa dan penguasaan lahan di Indonesia, karena mereka tahu sawit merusak lingkungan dan mengakibatkan degradasi kualitas tanah. Hasilnya, PDB negara2 itu meningkat tajam dalam waktu kurang dari 20 tahun, melahirkan macan2 ekonomi Asia baru. Ketimpangan pendapatan penduduknya juga menyempit, artinya mereka selain tumbuh juga merata.

Indonesia sedang memperjuangkan itu semua, membuka investasi, memberikan fasilitas2, insentif dll kepada dunia usaha utk mau menanamkan uang dan membuka usahanya di Indonesia. Dengan demikian diharapkan akan terbuka lapangan kerja. Di antara sekian banyak peluang usaha tersebut, industri rokok adalah salah satunya. Jika negara2 lain ingin investor membuka pabrik dengan teknologi yang akan membuat penduduknya mengejar ilmu lebih tinggi lagi dan bekerja di sektor2 yang memberi nilai tambah tinggi, di Indonesia investasi kepada industri rokok justru membuat penduduknya malas sekolah tinggi2. Lha buat apa cobak? Apa hebatnya melinting rokok? Ndak perlu sekolah sampai S1. Bahkan lulusan SD atau SMP pun bisa melakukan pekerjaan itu. Karena pendidikan rendah, upahnya pun rendah. Nilai tambah buat keluarga pelinting rokok tadi pun juga minim, sehingga mereka tidak dapat menyekolahkan anak2nya ke jenjang yang lebih tinggi setidaknya lebih tinggi dari sekolah orang tuanya yang cuma SD itu. Akibatnya, pendidikan rendah memperpanjang rantai kemiskinan dan menimbulkan masalah sosial yang tidak berkesudahan.

Belum lagi dari sisi outputnya. Rokok sudah diketahui menimbulkan masalah kesehatan dengan biaya yang tidak sedikit. Bayangkan, sudah penduduknya miskin, pekerjaannya tidak bernilai tambah, keluarganya tidak bisa mentas dari deraan kemiskinan dan permasalahan2 yang membelitnya. Lalu negara harus menanggung biaya kesehatan penduduk yang penyakitan akibat rokok. Dimanalah letak ekonomi yang berkesinambungan itu berada? Jelas investasi industri rokok bukan menciptakan kebaikan, tapi lebih banyak masalahnya. Di seluruh dunia.

Industri rokok menciptakan kemiskinan yang berkesinambungan bagi penduduk miskin, bahkan bagi pekerja yang terlibat di dalamnya. Sebaliknya industri rokok menciptakan kekayaan yang berkesinambungan terus-menerus tidak ada habis2nya bagi konglomerat2 kapitalis rokok itu, baik lokal maupun global.

*****

Pendidikan adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Indonesia butuh lebih banyak sumber daya agar mampu mendorong peningkatan kualitas SDM warga negaranya. Indonesia harus lebih banyak mencetak insinyur agar mampu menguasai teknologi yang bernilai tambah. Sudah terbukti di banyak tempat, negeri dengan minim SDA bisa survive dan memimpin dunia. Sebaliknya negara yang salah urus walaupun SDA berlimpah, jatuh pada kemiskinan tak berujung dan peperangan.

Indonesia harus melindungi warga negaranya dari mengkonsumsi rokok yang jelas2 akan menyeret negara ini sekedar hanya menjadi negara dengan jumlah konsumen rokok terbesar sedunia setelah RRC dan India. Negara ini akan menjadi asbak terbesar jika pendidikan warganya diabaikan dan dibiarkan. Indonesia harus mendorong dan menarik investasi yang tidak justru meracuni tanah dan kesehatan warganya.

NKRI negeri berdaulat. Daulat negeri adalah daulat penduduknya. Dan itu dimulai dari kedaulatan dalam berpikir. Tanpa itu kedaulatan hanya cuma jadi bahan khotbah saja. Wong merdeka dari nikotin saja tidak mampu, bagaimana mampu mendaulatkan negeri di atas kedaulatan bangsa lain?

Disini makna #SinauKedaulatan sebenarnya. Lain itu tidak.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*