ilham

Kepada Yang Terhormat Penerima Beasiswa Rokok (Dalam Rangka Peringatan 10 Tahun FCTC)

Buat anda yang kuliah dibiayai beasiswa rokok, anda boleh berargumen mumpung gratis, atau negara gak membiayai rakyatnya untuk kuliah gratis, dst. Sah-sah saja kalian berargumen demikian, walaupun sebenernya gak pas juga, karena ternyata kalian bukanlah mahasiswa kere tapi pinter yang bener-bener butuh duit. Tulisan ini cuma akan mengganggu ‘kenyamanan’ kalian menikmati beasiswa rokok saja.

Yayasan rokok agresif menawarkan beasiswa rokok ke kampus-kampus di Indonesia. Agresivitas yayasan rokok ini terlihat dari cara dia merekrut mahasiswa-mahasiswa yang akan diberi beasiswa. Yayasan ini keliling Indonesia, ke kampus-kampus dan buka booth yang dijagain sama mahasiswa (mungkin mantan penerima beasiswa juga), bahkan ngadain acara ngundang pejabat kayak Gita W, mantan Menteri Perdagangan, yang notabene gak ada relevansinya dengan kegiatan pendidikan, ada tim PR dan EO, motivator dan lain-lain. Kalian boleh cari beasiswa di manapun di dunia, ada gak yang agresif ‘jualan’ beasiswanya kayak beasiswa perusahaan rokok ini, apalagi sampe ngiklan di TV dengan biaya yang seharusnya kalau dipake untuk ngasih beasiswa bisa dapet 3-4 kali lebih banyak dari jumlah penerima beasiswa.

Darimana agresivitas ini muncul?

Agresivitas yayasan yang ngakunya non-profit ini tak lain tak bukan ya datang dari induknya, yaitu pabrik rokok. Kenapa hanya untuk charity aja sampe perlu-perlunya bikin acara gemebyar kayak sirkus gitu? Itu karena induknya (termasuk pemiliknya tentu saja) punya tujuan dan agenda tersembunyi di balik pemanfaatan yayasan. Mereka buang duit “puluhan milyar” untuk iklan, dan hanya “milyaran” untuk beasiswa, semata-mata karena mereka sedang berupaya menanam budi dan menarik simpati masyarakat sehingga otomatis akan mempengaruhi pejabat publik, seperti Gita mantan Menteri Perdagangan era SBY, dalam mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan industri rokok. Bagi industri, Gita gigih membela kepentingan pabrik rokok, misalnya membuat kebijakan menuntut balas perlakuan Australia yang mewajibkan bungkus polos (plain packaging) semua rokok RI yang diekspor ke Australia.

Sekedar informasi, Gita dan jajarannya di Kementerian Perdagangan, berhasil memenangkan gugatan kretek di World Trade Organization (WTO) terhadap kebijakan larangan impor rokok kretek dari RI ke AS, hanya gara-gara sepele, ternyata di dalam negeri AS sendiri industri rokoknya jualan rokok menthol, yang dianggap sama dengan rokok dengan clove (cengkeh). Padahal tau tidak, ekspor rokok RI ke AS atau Australia cuma seupil. Tapi ini penting karena menjadi tonggak kemenangan buat industri rokok global seperti Philip Morris dan BAT, yang juga megang industri rokok di dalam negeri. PM dan pabrik rokok di negara-negara lain jadi leluasa untuk ekspor rokok menthol ke Amrik, karena RI juga dibolehkan ekspor rokok kretek (clove) tadi.

Dengan demikian beasiswa yayasan rokok ini, dari kacamata kepentingan industri rokok global, menduduki peran yang sangat penting secara politis. Yaitu memastikan bahwa masyarakat tetap bersimpati dengan industri rokok yang telah beramal soleh memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa yang gak melarat-melarat amat kayak kalian ini. Yayasan ini menjadi simpul penting dari kepentingan industri rokok secara keseluruhan. Kalo di permukaan antara pabrik rokok lokal dan blasteran keliatan tawuran seperti yang dihembuskan oleh komunitas kretek yang ndobos: rokok putih vs kretek, nasionalisme vs kapitalisme, itu cuma settingan doang. Sinetron! Wong mereka sendiri aslinya ya laskar bayaran gabungan industri rokok juga.

Jadi, gambaran strategis tentang peran yayasan rokok yang suka beramal soleh dalam konstelasi geo-politik industri rokok ini penting untuk kalian pahami. Walaupun kalian nerima duit beasiswa, tapi kalian perlu tahu posisi kalian dalam hal ini, status kalian sebagai apa dalam percaturan politik industri rokok ini, apa yang kalian peroleh dan apa yang mereka peroleh dengan cara memanfaatkan kalian menjadi brand-ambassador atau bahkan jadi penari di iklan-iklannya, posisi politis apa yang mereka dapat dari ‘beramal’ dengan jumlah yang tidak seberapa ini, dst. Semuanya terlihat mulia di mata kalian, tapi terlihat sangat kotor dan licik di mata para aktivis anti rokok di manapun di dunia. Hanya karena Pemerintah yang lemah dan penegakan hukum RI yang amburadul saja yang memungkinkan mereka bersimaharajalela mengasapi dan meracuni atmosfer RI melalui kedok yayasan.

Camkan ini baik-baik agar kalian di masa depan tidak ditagih budi baik oleh mereka seandainya ada di antara kalian nanti menjadi pejabat publik. Mereka bisa menggedor hati kalian dengan pura-pura mengadakan reuni penerima beasiswa lintas angkatan untuk kemudian bernostalgia sambil mengingat jasa yayasan rokok menyekolahkan kalian atau memberi kalian keterampilan, pada saat kalian sudah banyak yang menduduki posisi dan jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Tidak heran sekarang mereka membuka beasiswa untuk S2 jurusan kebijakan publik (public policy). Klik?

Sayangi negeri ini, jangan biarkan mereka meracuni generasi muda, anak-anak dan orang-orang miskin. Kenapa saya ngomong begini? Karena kalian berpotensi menjadi diam dan tak mampu menentang melihat kondisi ini, atau bahkan menjadi jihadis pembela rokok yang menyerang laskar-laskar pembela kesehatan bangsa.

Semuanya dimulai dari apa yang kalian terima hari ini.

Dikutip dari Facebook: Kartolo

[button color="red" link="//change.org/DukungFCTC" size="medium" target="_blank" font="tahoma" align="center"]Tanda Tangan Petisi[/button]

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*