1391358705

Tanggapan Tulisan Sobary “Merokok Tidak Membunuhmu”

Dibawah ini adalah tulisan dari Irwan Julianto, wartawan senior Kompas, yang mengkhususkan perhatiannya pada masalah2 kesehatan masyarakat. Lulusan Harvard School of Public Health ini telah mempublikasikan buku terkait dengan epidemi AIDS. Tulisan di bawah menanggapi tulisan Sobary di Koran Sindo. Monggo disimak dengan pikiran jernih dan jujur, dan tentu saja dengan nalar yang waras. (Penyunting – Kartolo2000)

 

=================================================================

 

Mas Imam B. Prasodjo, saya sedih membaca tulisan sahabat di sini. Ia mengaku budayawan, tapi bagi saya ia adalah contoh nyata “Pengasong Keraguan” alias Merchants of Doubt bahwa merokok tidak mematikan. Ia meragukan kebenaran sains yang evidence based seperti ilmu kedokteran dan public health, khususnya epidemiologi yang amat ketat metodologinya mengumpulkan bukti2 empiris secara longitudinal selama puluhan tahun. Ia sama sekali tidak memiliki kompetensi di kedua bidang ilmu ini walaupun di pembukaan tulisannya ia memakai argumen tentang Keterpelajaran, sambil menyebut2 nama Allah.

 

Saya jadi ingat dengan jurnal abal-abal yang pernah heboh beberapa waktu lalu. Suatu jurnal yang benar2 ilmiah harus dikawal oleh sejumlah Mitra Bestari atau ilmuwan dari disiplin ilmu yang sama (Peer reviewers). Nah, artikel ilmiah seseorang yang dikirim ke jurnal itu pasti wajib hukumnya ditelaah oleh para Mitra Bestari tadi yang akan menentukan layak atau tidak suatu artikel ilmiah dimuat di jurnal tersebut. Seorang pakar ilmu sosial tak mungkin diminta menelaah artikel ilmu biokimia atau biologi molekuler. Jurnal abal2 pasti melabrak semua norma itu.

 

Buku “Divine Kretek” yang membahas tentang “temuan ilmiah” Prof Sutiman (guru besar Biokimia Unjv Brawijaya) dan Dr Greta Zahar (pakar fisika) yang intinya bahwa asap rokok kretek yang sudah direkayasa dengan pendekatan nanoteknologi diklaim dapat menyembuhkan pasien2 kanker. Dan M Sobary pun berani menulis Epilog untuk disiplin ilmu yang di luar kompetensinya.

 

Karena dikhawatirkan memberikan harapan kesembuhan palsu, selain juga terapi alternatif perlu diawasi, maka Prof Sutiman pernah dipanggil ke kantor PB IDI yang ketika itu diketuai Dr Sidipratomo. Pakar biokimia dan biologi molekuler yang waktu itu Direktur Lembaga Eijkman, Prof Sangkot Marzuki menantang Prof Sutiman untuk memublikasikan temuannya di jurnal ilmiah terkemuka, bukan di jurnal abal-abal. Jika sampai temuan Prof Sutiman dan Dr Greta Zahar diakui oleh ilmuwan dari disiplin ilmu yang sama dan terpublikasikan di jurnal ilmiah papan atas, maka Prof Sangkot akan siap mengusulkan temuan mereka ke Panitia Nobel. Tapi publikasi tentang “Divine Kretek” di jurnal ilmiah tak kunjung ada.

 

*****

 

Khusus tentang bahaya asap rokok, ada sejumlah buku tentang bagaimana upaya industri rokok (di Amerika Serikat) menebar keraguan. Buku pertama adalah “Merchants of Doubts”. Buku ini memaparkan bagaimana industri rokok dan industri pengemisi gas rumah kaca menyatakan bahwa merokok tidak membahayakan kesehatan dan tidak menyebabkan adiksi, serta pemanasan global itu omong kosong. Buku kedua “The Cigarette Century” menguraikan sejarah kejayaan industri rokok di AS pada awal hingga pertengahan abad ke-20. Tahun 1960an dan seterusnya industri rokok mulai keteteran dengan makin menumpuknya bukti ilmiah bahwa merokok itu memang membunuh. Para CEO 7 industri rokok AS pun nekat angkat sumpah palsu di depan Kongres AS bahwa nikotin tidak adiktif (Sic!).

 

1429547623988010021

The Cigarette Century

Saya masih ingat, tahun 1992 saya mewakili Harian Kompas diundang oleh BAT cs di Bali bersama sejumlah jurnalis Asia Pasifik. Kami coba di-brainwash bahwa asap rokok itu terlalu dibesar2kan bahayanya. Tulisan saya dimuat di Kompas tanggal 13 September 1992. Rupanya waktu itu Menkes Dr Adhyatma MPH (alm) sedang menyusun RUU Pokok Kesehatan dan akan memasukkan klausul ayat/pasal bahwa produksi, distribusi dan konsumsi rokok sebagai produk tembakau harus diregulasi. Rupanya pejabat2 tinggi negara (ada yamg setingkat Dirjen), anggota2 DPR dan awak media dilobi agar niat meregulasi rokok itu digagalkan. Dr Nafsiah Mboi, seorang anggota DPR waktu itu (yang kemudian menjadi Menkes) mengaku ia coba disuap oleh lobbyist industri rokok. Tapi beliau tolak. Alhasil, UU Pokok Kesehatan tahun 1992 tidak mencantumkan soal regulasi rokok. Sejawat saya, Mbak Mardiyah Chamim dari majalah Tempo pernah menginvestigasi dokumen2 rahasia BAT Indonesia dan menulis buku “Giant Pack of Lies” (bisa didownload di sini).

 

14295477311085860624

Merchants of Doubt

Hal yang sama nyaris terjadi dengan UU Kesehatan tahum 2009. Tembakau jelas dinyatakan mengandung Nikotin yang adiktif. Ayat tembakau ini sempat “dihilangkan”. Ini jelas sebuah skandal legislasi dan konstitusi. Industri rokok berada di belakangnya. Dugaan saya, ada sinergi antara imdustri rokok asing dan industri rokok kretek nasional. Trik2 interferensi legislatif ini masih berlanjut pada DPR periode 2009-2014 dengan menyelundupkan RUU Pertembakauan lewat Baleg DPR. Belum berhasil disahkan. Namun oleh DPR periode 2014-2019 akan diulangi lagi.

 

Cara yang dilakukan sahabat Mas Imam Prasodjo di bawah ini tipikal masuk dalam kategori/jenis interferensi industri rokok “merongrong sains” (undermining science). Itu amat biasa dilakukan industri rokok. Bukan cuma industri.rokok putih, tapi kini juga mulai dilakukan oleh industri rokok kretek. Termasuk menstigma orang-orang yang menyerukan bahaya asap rokok sebagai “Musuh Petani Tembakau dan Buruh Pabrik Rokok”, seperti Tulus Abadi, Dr Kartono MohamadFuad Baradja IIIKartoloTubagus Haryo KarbyantoNina Armando dll, serta Anda sendiri, Mas Imam Prasodjo.

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • JH
    7 May 2015 at 10:59 - Reply

    Thanks Kompak.Co, the content is just too awesome. For design, we can make it more impactful :D

    • Nitha
      29 May 2015 at 17:52 - Reply

      Thank you Jessica, hope the article would be useful for you. And for design, yes we will work it out. Thanks! :)