7

Anak Muda Kabupaten Bali Siap Bergerak Lawan Masalah Rokok

Konsumen rokok di Indonesia tidak hanya dari kalangan dewasa. Sejak dahulu, masuknya kebiasaan merokok sudah dimulai sejak masa remaja. Bali, salah satu bagian Indonesia Tengah pun tidak terhindarkan lagi dari masalah ini. Ketika beberapa delegasi yang terdiri dari remaja di masing-masing kabupaten/kota di Bali berdiskusi mengenai permasalahan remaja pada Jumat (14/10/2016), kabupaten Gianyar dan Karangasem sepakat menetapkan kebiasaan merokok pada remaja adalah problema paling berbahaya di kabupaten mereka.

Salah satu kegiatan yang selama 16 tahun berturut-turut diadakan di Bali adalah Kemah Budaya tingkat Provinsi Bali. Kegiatan ini melibatkan pemerintah daerah untuk mengutus enam delegasi yang terdiri dari tiga remaja putra dan tiga remaja putri dari masing-masing kabupaten/kota di Bali. Salah satu rangkaian kegiatan ini adalah Diskusi Permasalahan Remaja. Diskusi ini dilaksanakan untuk mencari jalan keluar atas permasalahan remaja yang paling genting untuk segera diselesaikan. Dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali, kabupaten Gianyar dan Karangasem menetapkan bahwa kebiasaan merokok pada remaja telah mendominasi daerah mereka sehingga harus ditangani dengan cepat.

Sebelumnya, delegasi kabupaten Gianyar dan Karangasem telah melakukan observasi mengenai kebiasaan merokok pada remaja sejak Agustus 2016 lalu. Delegasi Kabupaten Gianyar menyatakan bahwa berdasarkan observasi yang mereka lakukan, banyak ditemukan remaja yang merokok di lingkungan sekolah. Tidak hanya rokok tembakau, sebagian besar remaja juga sudah mulai mengkonsumsi rokok elektrik. Mereka menganggap bahwa rokok elektrik lebih keren. Sebagian juga menyatakan bahwa mengkonsumsi rokok elektrik adalah upaya untuk berhenti merokok secara perlahan. Padahal sesungguhnya rokok elektrik dapat menjadi ancaman yang lebih membahayakan bagi kesehatan.

Penyampaian Permasalahan Remaja Kabupaten Karangasem

“Di sini banyak sekali remaja yang merokok. Berdasarkan yang kami lihat, perokok didominasi oleh pria yang masih sekolah. Sebagian besar sudah duduk di bangku SMA, namun banyak juga yang masih SMP tetapi sudah mencoba rokok. Kami juga melihat banyak remaja yang dulunya mengkonsumsi rokok biasa kini telah beralih ke rokok elektrik. Mereka mengetahui larangan sekolah untuk membawa rokok, tetapi mengejutkan sekali ketika mereka mengatakan ‘yang tidak boleh dibawa itu rokok, bukan vape’. Rokok seolah didewakan oleh mereka. Padahal sama bahayanya,” ujar Dhyanayanti, salah satu delegasi kabupaten Gianyar.

“Setelah kami tanya kepada beberapa dari mereka, banyak yang bilang bahwa mereka merokok karena mereka hidup di lingkungan perokok. Orang tua merokok, teman juga pun merokok. Awalnya hanya penasaran, tapi akhirnya ketagihan,” tambah Dhyana.

Meskipun mengangkat permasalahan yang sama, perbedaan hal yang diungkapkan oleh delegasi kabupaten Karangasem dengan Gianyar terletak pada jenis rokok yang lebih banyak dikonsumsi dan penyebab mengkonsumsinya. Remaja di kabupaten Karangasem lebih banyak mengkonsumsi rokok tembakau. Di samping lingkungan yang dijejali perokok, banyaknya keberadaan iklan dan sponsor rokok menjadi alasan kuat yang membawa mereka terjerumus dalam bahaya rokok.

Diskusi Hasil Obsevasi delegasi kabupaten Gianyar

“Dimana-mana remaja merokok. Di sekolah, warung-warung, lapangan, warnet, bahkan di toilet umum pun banyak puntung rokok berserakan. Iklan rokok sangat menggugah mereka. Visual yang ditampilkan sangat cepat mempengaruhi mereka. Didukung lagi dengan lingkungan yang dijejali banyak perokok,” ungkap Citra Pratiwi, salah satu delegasi kabupaten Karangasem.

Meskipun saat diskusi permasalahan ini hanya diungkapkan oleh delegasi kabupaten Karangasem dan Gianyar, namun ternyata diakui oleh delegasi kabupaten lain bahwa permasalahan ini juga kerap terjadi di daerah mereka. Mereka antusias membangun ide untuk menanggulangi permasalahan ini untuk kemudian diterapkan di masing-masing daerah.

“Kami sangat senang mendapatkan banyak masukan dari delegasi kabupaten lain. Kami putuskan untuk melakukan sosialisasi mengenai bahaya rokok dan berusaha sekuat kami untuk menegakkan kembali peraturan daerah di masing-masing kabupaten kami bahkan di provinsi Bali mengenai kawasan tanpa rokok. Kami tidak ingin udara bersih kami direnggut begitu saja. Keadilan harus ditegakkan. Kesehatan harus diutamakan,” tegas Citra Pratiwi menanggapi hasil diskusi yang telah berlangsung.

Kini, para delegasi khususnya delegasi kabupaten Karangasem dan Gianyar tengah mengambil ancang-ancang untuk memulai aksi mereka. Diawali dengan sosialisasi di lingkungan terdekat sudah mereka lakukan. Selanjutnya mereka akan memperluas jangkauan sosialisasi hingga masuk ke ranah pemerintahan. Semoga permasalahan pelik di daerah mereka dapat terselesaikan sehingga memberi dampak yang baik bagi banyak orang.

Ditulis oleh Sri Pratiwi

Komunitas 9cm Bali

Source featured photo by Google

 

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*