IMG_0377

Cegah Anak Muda Akrab Dengan Rokok Demi Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)

Beberapa tahun terakhir ini, dunia digencarkan dengan istilah Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai pengganti MDGs ( Millenium Development Goals ). Pergerakan SDGs yang sudah digaungkan sejak 2015 ini masih belum sepenuhnya terdengar oleh kalangan masyarakat Indonesia. Puluhan pemuda yang tergabung dalam AIESEC UPN Veteran Yogyakarta dan mahasiswa seluruh Perguruan Tinggi di Yogyakarta menyelenggarakan Walk for SDGs di halaman Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada Minggu 29 Oktober 2017. Acara ini juga dilaksanakan serentak di 12 kota lainnya di Indonesia oleh Aiesec Indonesia untuk mengkampanyekan Sustainable Development Goals (SDG’s) 2030. Puluhan komunitas hadir dalam acara itu, seperti Saung Mimpi, 9 CM (Global Cigarete Movement), Earth Hour, Coin a Chance, Akademi Berbagi Jogja, ESA UTY, Kantong Pintar, KOPHI DIY, Cagar Budaya, World Merit Indonesia,  Jogja SDGs,  Resus Negatif Indonesia, 1000 Guru Jogja, Jogja Berkebun, Kagem Jogja dan SEHATI. Acara ini juga turut dimeriahkan oleh Cakka Nuraga, penyanyi jebolan ajang pencarian bakat Idola Cilik musim kedua.

SDGs adalah kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. SDGs memiliki 17 tujuan dan keberhasilannya salah satunya sangat dipengaruhi oleh permasalahan konsumsi rokok yang sulit dikendalikan. Huda, mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta jurusan Hubungan Internasional, menjelaskan bahwa tujuan diadakannya acara ini yakni memberikan edukasi tentang SDGs kepada masyarakat Jogja bahwa partisipasi SDGs bisa dimulai dari hal kecil yakni berhenti mengkonsumsi rokok, membuang puntung rokok pada tempatnya, dan masih banyak lagi.

“ Permasalahan rokok sangat berpengaruh dengan pencapaian 17 tujuan SDGs. Banyak anak muda yang merokok, padahal anak muda sebagai bonus demografi Indonesia. Ketika masyarakat merokok maka kesehatan justru rendah. Banyak masyarakat yang belum mampu mengobati penyakitnya dengan biaya sendiri. Hal inilah yang sangat mempengaruhi keberhasilan pencapaian SDGs tujuan nomor 3 yang berbunyi Kehidupan Sehat dan Sejahtera.” Ujar Huda yang menjabat sebagai Vice Precident AIESEC UPN Veteran Yogyakarta.

Janitra Hapsari, CEO komunitas pengendalian tembakau 9 cm Jogja, mengatakan bahwa pemuda merupakan sasaran terbesar Industri rokok, kita sebagai pemuda semestinya mampu mengajak teman-teman kita untuk berhenti merokok dan menghindari terjerumus untuk mencoba merokok. Data Kemenkes menunjukkan bahwa prevalensi remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014. Dan yang lebih mengejutkan adalah usia mulai merokok semakin muda (dini).  Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat lebih dari 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari  8,9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013. Selanjutnya jika dilihat rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap perhari pada tahun 2007 rata-rata 12 batang per hari, sedangkan pada tahun 2013 rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap 12,3 batang per hari.

“ Kita tidak bisa mencegah perusahaan rokok untuk menghentikan produksinya, tetapi kita bisa mencegah pemuda untuk tidak merokok. Jika konsumen rokok mengurangi konsumsinya atau bahkan berhenti mengkonsumsi rokok, maka dengan sadar diri perusahaan rokok juga pasti akan mengurangi jumlah produksinya. Itulah harapan terbesar SDGs yakni mencegah konsumsi rokok pada pemuda” Ujar Huda saat acara berlangsung.

Pengurangan jumlah konsumen rokok merupakan sumbangan terbesar pada pencapaian 17 tujuan SDGs. Pengurangan angka kemiskinan, kelaparan, dan peningkatan kehidupan sehat sejahtera bukanlah menjadi angan-angan agenda 2030. Pemuda Indonesia sebagai kunci sukses keberhasilan.

 

Referensi:

Kementerian Kesehatan. 2013. Info Datin Perilaku Merokok Masyarakat Indonesia. Jakarta : Kemenkes RI

http://www.sdgsindonesia.or.id

http://www.depkes.go.id

Penulis: Dea Surya Lakshita, Midwifery student, Health Polytechnic of Ministry of Health in Yogyakarta; Email: deapasha2012@gmail.com

 

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*