PHOTOCOVER

Hati-Hati! Kamu Target Selanjutnya Lewat Acara Musik Sponsor Rokok

“Musik memiliki persona universal dan berpengaruh kuat untuk membidik target pasar remaja”1

Jika kalian para remaja yang akan pergi ke sebuah acara musik atau konser, apakah yang akan menjadi pertimbangan kalian untuk datang? Apakah guest star nya, venue nya, penyelenggara nya, atau sponsor nya? Hampir sebagian besar orang pasti akan mempertimbangkan semua hal itu, kecuali mengenai sponsor. Padahal di Indonesia ternyata banyak sekali acara musik yang disponsori oleh rokok. Mempertimbangkan siapa yang menjadi sponsor acara musik itu sebenarnya penting, lho. Kenapa? Yuk, kita selidiki.

Demi merekrut perokok baru, industri rokok telah mensponsori 1402 acara dalam kurun waktu 3 tahun, dan 626 teratas adalah acara musik2. Jadi, jika kalian datang ke sebuah acara musik yang ternyata disponsori oleh rokok, berhati-hati lah atau kalian akan terjebak. Pasalnya, di mata industri rokok, remaja hari ini adalah calon pelanggan tetap untuk hari esok. Karena mayoritas perokok akan memulai merokok ketika remaja3. Dengan kata lain, kalian ditargetkan mereka menjadi perokok selanjutnya.

Seperti ketika saya datang ke sebuah acara musik di Markas Mbrio, Tanjung Duren, Jakarta Barat pada tanggal 22 September 2017. Acara yang bertajuk “SOUNDSATIONS” dan dipenuhi dengan logo “A” disetiap sudut area ini, langsung mengingatkan saya pada rokok A Mild. Jelas memang, acara ini adalah milik dari industri rokok HM Sampoerna.

Sebuah kebohongan pertama yang saya dapati adalah, tidak adanya pengecekan KTP / SIM seperti yang tertulis didalam poster yang sudah disebar. Padahal, acara ini diperuntukkan bagi yang sudah berusia 18+. Saya dan para pengunjung lain hanya diharuskan mengisi nama lengkap dan nomor telepon di buku tamu. Dari informasi yang didapat, mereka juga menargetkan hingga 200 pengunjung! Jadi, bisa dibayangkan jika dari 200 pengunjung tersebut, sebagian dari mereka masih ada yang dibawah umur. Terlebih, jika mereka yang pada awalnya bukan perokok dan hanya berniat menonton para guest star, menjadi target selanjutnya dari industri rokok.

Kebohongan lainnya adalah, saya seperti bukan berada didalam acara musik. Sebagai seorang non-smoker, saya tidak bisa menikmati acara musik tersebut karena ruangan yang dipenuhi asap rokok. Ada banyak pula SPG yang menawarkan berbagai produk Sampoerna, dari mulai produk konvensional sampai produk limited edition dengan harga spesial. Di sudut area juga terdapat booth yang menawarkan t-shirt gratis kepada pengunjung hanya dengan mengisi formulir, berfoto di booth tersebut kemudian upload ke Instagram dengan hashtag khusus. Rupanya mereka cukup cerdik dalam memanfaatkan pengunjung sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan mereka; mempromosikan rokok dan mendapatkan target yang baru.

Dalam sehari, industri rokok bisa merekrut 10,869 perokok baru dalam rentan usia 10-14 tahun (dibawah 18+), atau 3,96 juta orang per tahun4. Acara-acara musik yang mereka sponsori adalah salah satu cara untuk mempermudah usaha mereka dalam mencari pengganti para perokok yang telah meninggal karena penyakit akibat merokok.

Sudah waktunya pemerintah melarang acara musik yang disponsori oleh industri rokok, karena hanya akan merugikan negara dan merusak generasi selanjutnya. Dan untuk kalian para anak muda, mulai sekarang, Yuk, sadar agar tidak menjadi target mereka selanjutnya. Minimal, masukanlah opsi “siapa sponsor acaranya?” menjadi hal yang harus dipertimbangkan ketika akan datang ke acara-acara musik atau konser. Jangan mau jadi target industri rokok, dan buat musikmu #KerenTanpaRokok!

 

sumber:

(1) Dokumen internal perusahaan rokok Kent no.5000010132

(2) Komnas Perlindungan Anak 2009-2011

(3) Laporan peneliti Myron E.Johnson ke wakil presiden riset dan pengembangan Phillip Morris

(4) Tobacco Atlas ASEAN 2014

 

 

Penulis: Nandin Dwi Sasmita | Mahasiswa Universitas Bina Nusantara | ndsasmita20@gmail.com

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*