go-ahead

Iklan Rokok dan Dampaknya Bagi Masyarakat

Di Indonesia, konsumsi rokok bukanlah sesuatu yang asing. Di tempat-tempat publik justru para perokok pasif harus mengalah kepada para perokok pasif. Dengan pertumbuhan penduduk yang makin melonjak, makin banyak penduduk generasi baru yang menjadi perokok aktif. Sedangkan bagi yang tidak ikut merokok, mau tidak mau harus tenggang rasa ikut menghirup udara sisa para perokok.  Perusahaan-perusahaan rokok dengan siap siaga menambahkan pro

duksi mereka hari demi hari serta menghasilkan iklan-iklan yang menarik mata. Iklan-iklan tersebut dikemas dengan sangat indah, dengan iming-iming akan kehidupan yang seakan-akan akan penuh dengan berkarya dan petualangan. Berkembangnya perusahaan-perusahaan rokok yang makin gencar menyebarkan dan mempromosikan hasil produk mereka membuat kita patut bertanya : seberapa besarkah dampak iklan-iklan rokok terhadap masyarakat?

Meningkatnya perokok aktif dalam beberapa tahun ini memiliki sebab-sebab yang berbeda antara perokok aktif dan perokok pasif.  Salah satu contoh dari pandangan perokok aktif adalah Pak Imun (53 tahun) yang telah menjadi perokok aktif sejak kelas 5 SD, awal mulanya kebiasaan merokok beliau berawal dari pengaruh lingkungan dan teman-teman sebaya. Begitu juga dengan Andhika (34 tahun). Menurut Pak Imun, iklan-iklan rokok tidak memiliki efek apapun yang mendorong beliau untuk mulai merokok.  Selama masa ia merokok, pergantian merek rokok yang digunakan beliau tidak dipengaruhi oleh iklan-iklan yang beredar, melainkan dinilai dari rasa dan rasa gengsi akan merek-merek rokok tertentu. Menurut Pak Imun, peningkatan perokok aktif di generasi muda tidak dipengaruhi oleh maraknya promosi-promosi rokok yang beredar, melainkan rokok sudah menjadi budaya yang dimaklumi di masyarakat, sehingga penggunaanya oleh generasi muda bukanlah sesuatu yang mengherankan. Sejalan dengan Pak Imun, Pak Andhika melihat efek yang lumayan kecil dari penyebaran iklan-iklan rokok, pengaruh dari teman-teman dinilai lebih kuat daripada pengaruh yang didapatkan dari iklan-iklan.

Pandangan yang di atas tentu sangat berbeda dengan pandangan dari para perkokok pasif. Seorang perokok pasif, Anisya (20 tahun) memandang iklan-iklan rokok sebagai sesuatu yang sangat berpengaruh terhadap meningkatnya perokok aktif di golongan muda. Menurutnya, dengan  penunjukkan promosi-promosi rokok, terjadi doktrinisasi terhadap anak-anak kecil yang secara tidak sadar mengajarkan budaya yang menormalisasikan perilaku merokok dan mengembangkan pandangan bahwa merokok itu sesuatu yang keren untuk dilakukan. Perokok pasif lainnya, Fajar (18 tahun), melihat iklan-iklan rokok yang sedang marak-maraknya sebagai suatu gerbang bagi naiknya ketertarikan masyarakat awam terhadap rokok. Menurut Fajar walaupun pemerintah telah mengeluarkan regulasi terkait dengan pembatasan penyebaran promosi rokok, semuanya kembali lagi dengan penanaman  norma dan nilai jiwa dalam ruang lingkup keluarga yang bertanggung jawab untuk menjauhkan generasi muda dari pengaruh rokok.

Walaupun tidak pernah benar-benar merenungkan nasib para petani tembakau negeri ini jika produksi rokok dikurangi, kebanyakan perokok aktif memandang ketersediaan rokok sebagai sesuatu yang jika tersedia tidak apa-apa dan jika tidak tersedia tidak apa-apa juga. Akan tetapi, petani tembakau bisa dirugikan dengan pemberhentian produksi rokok. Sementara perokok pasif memandang pengurangan produksi rokok sebagai sesuatu yang tidak begitu merugikan masyarakat karena banyaknya jenis lowongan pekerjaan lain yang tersedia.

Salah satu hal yang patut diperhatikan adalah kecenderungan para perokok aktif untuk mengabaikan risiko-risiko yang datang dari merokok. Beberapa regulasi pemerintah seperti salah satunya yang berupa penggambaran efek kesehatan yang buruk oleh merokok di bungkus rokok telah dilakukan, dan hal ini ternyata telah menyebabkan rasa takut dalam diri perokok. Akan tetapi, masyarakat selalu menemukan cara untuk berdalih dari peringatan-peringatan tersebut. Seperti Pak Imun contohnya, beliau percaya bahwa risiko kesehatan dari rokok adalah sesuatu yang ditentukan melalui takdir masing-masing yang sudah diatur oleh Tuhan YME. Begitu pula dengan Andhika, yang juga merupakan perokok aktif. Walaupun sudah melihat label peringatan yang tertera pada bungkus rokok dan merasa sedikit khawatir tentang kesehatannya, beliau memilih untuk tidak menghiraukan peringatan tersebut. Hal ini bisa dikarenakan oleh para perokok aktif  yang memandang rokok sebagai candu, seperti stimulan dan sugesti bahwa rokok membuat mereka semakin kuat, tidak mudah mengantuk dan menghilangkan stress. Bahkan Pak Imun pun mengaku akan merasa hampa jika tidak menyalakan rokok. Karena semua ini, timbul sebuah ketergantungan dan hubungan kuat antara perokok dan rokoknya.

Dari ini semua dapat disimpulkan bahwa iklan-iklan rokok memang memiliki pengaruh terhadap peningkatan perokok aktif, walaupun bisa dibilang sedikit. Akan tetapi peraturan-peraturan untuk meregulasi penyebaran promosi harus selalu dikembangkan. Tetapi semua ini akan sia-sia jika pengetahuan masyarakat tentang bahaya merokok masih minim. Sehingga, lingkungan keluarga harus lebih atentif terhadap pemberian pendidikan terhadap  generasi muda mengenai bahaya merokok. Pendidikan tersebut harus dilaksanakan dalam strata formal dan informal sehingga masyarakat memiliki pengetahuan yang realistis mengenai bahaya risiko dari merokok.

Adinda Aurellia Sekar Anjani
Peserta Sekolah Aktivis Pemula
yang diadakan Social Movement Institute (SMI) dan
Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT)

 

 

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.