OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Miris! Uang Jajan Siswa SD Setara dengan Harga Sebungkus Rokok

“Masyarakat lebih takut mengonsumsi makanan berformalin walaupun kandungannya sedikit. Namun, tetap santai menghisap rokok yang mengandung nikotin. Padahal, nikotin cair dengan dosis 10ml saja bisa mematikan manusia. Lalu, bagaimana jika nikotin pada rokok terakumulasi didalam tubuh?”

Miris, tapi begitulah faktanya. Sebuah pernyataan yang dikemukakan oleh Prof.Hasbullah Thabrany, seorang Dewan Jaminan Sosial Nasional yang turut hadir dalam diskusi dan rilis survey harga rokok bersama Abdillah Ahsan, seorang dosen dan peneliti lembaga demografi FEB UI dan Lisda Sundari, ketua Yayasan Lentara Anak.

Acara yang bertajuk “Rokok Murah, Anak Indonesia Tambang Emas Industri Rokok” ini memaparkan hasil survey yang dilakukan Yayasan Lentera Anak bersama dengan 10 komunitas Forum Anak yang tersebar di 10 kota (Tangerang Selatan, Bekasi, Semarang, Banjarmasin, Lampung, Mataram, Batu, Kabupaten Pasaman Barat, Pekanbaru, dan Kupang).

“10 kota ini termasuk yang paling banyak iklan rokoknya” papar Lisda. Berdasarkan survey yang mereka lakukan sejak Mei – Juni 2017, ada sebanyak 80.2% dari 1378 billboard, spanduk, poster, reklame, dan bentuk iklan luar ruang lainnya yang mempromosikan rokok dengan mencantumkan harga jual, baik per bungkus dan/per batang. Ini merupakan strategi hard selling oleh industri rokok, yang membuat calon pembeli melakukan straight decision (langsung berfikir untuk membeli saat itu juga).

Abdillah Ahsan pun mengaminkan hal tersebut. Selain menganggu rasionalitas, rokok yang diiklankan serta mencantumkan harga jual pun tidak memiliki value dan meningkatkan usia perokok pemula. Hal tersebut sejalan dengan tujuan industri rokok, yaitu meningkatkan konsumer rokok, memudakan usia perokok, sehingga mereka bisa meningkatkan produksi rokok.

Idealnya, iklan rokok semestinya dilarang dan harganya dimahalkan. Namun, realita menyebutkan bahwa iklan rokok masih ada dan murah harganya. Dari 10 merek rokok yang paling banyak berpromosi, A Mild mematok harga tertinggi dengan Rp 20.000/bungkus (16 batang), disusul dengan GG Mild dan Magnum Black  seharga Rp 15.000/bungkus (16 batang). Kemudian Maxus dan Magnum Blue dengan harga Rp 13.000/bungkus (16 batang), L.A. Lights dan Class Mild dihargai Rp. 12.000/bungkus (12 batang). Selanjutnya adalah Djarum Super MLD dan L.A. Bold dengan harga Rp 11.000/bungkus (12 batang). Lucky Strike dihargai Rp 10.000/bungkus (12 batang) dan menjadi yang termurah diantara 9 rokok lainnya. 10 merek rokok tersebut berasal dari 5 industri rokok besar di Indonesia yang rajin berpromosi rokok dengan harga yang murah melalui iklan luar ruang, yaitu PT.Djarum, PT.HM Sampoerna, PT. Gudang Garam, BAT (British and American Tobacco), dan PT.Nodjorono.

Harga rokok diatas sebenarnya masih terhitung murah dan terjangkau. Berdasarkan survey uang jajan siswa sekolah, rata – rata siswa SD mendapat uang saku RP 10.000/hari, siswa SMP dapat Rp 13.000/hari, dan siswa SMA mengantongi Rp 27.000/hari. Begitu miris, karena ternyata anak SD pun masih mampu membeli sebungkus rokok yang dibanderol dengan harga termurah. Perlu diingat juga bahwa di Indonesia, rokok masih bisa dibeli per batang dengan kisaran harga Rp 800 -1500 /batang. Sungguh murah dan mudah akses mereka dalam mengonsumsi rokok.

Selagi larangan iklan rokok belum ketat dan harganya masih terjangkau, para orangtua diharapkan untuk tetap mengawasi pengeluaran anak – anak mereka dari uang saku nya, serta mengedukasi agar tidak tergiur apalagi menjadi perokok. Terlebih, seharusnya pemerintah menyadari bahwa industri rokok sudah melakukan strategi iklan yang barbar, dimana bentuk iklan luar ruangnya begitu mudah terjangkau oleh anak – anak  seperti disekitar sekolah mereka dan promosi yang menarik hati anak muda melalui acara musik, olahraga, dan kebudayaan.  “Sudah beracun, murah, diiklankan pula” pungkas Abdillah.

 

penulis: Nandin Dwi Sasmita | Mahasiswa Universitas Bina Nusantara | ndsasmita20@gmail.com

gambar: lenteraanak.org

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*