Gambar Artikel 2

Penanaman Kesadaran Palsu oleh Iklan Rokok

Semakin berkembangnya teknologi membawa banyak berkah bagi kalangan produsen, mulai dari kalangan pebisnis kecil sampai pemilik perusahaan besar, benar-benar merasakan kecanggihan teknologi. Mereka bisa mengiklankan produknya dengan mudah, bahkan dibuat dengan semenarik mungkin, sehingga mereka bisa meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cepat. Namun terkadang kita sering merasakan anomali-anomali, kemajuan teknologi yang kita harapkan memberikan dampak positif bagi masyarakat rupanya berbalik dengan harapan, seperti dunia pengiklanan di televisi, iming-imingnya menyihir konsumen dengan cepat, namun efek negatif tidak dihiraukan, padahal penikmat televisi begitu banyak.

Survey AGB Nielsen Media Research menyimpulkan angka delapan puluh persen untuk persentase kepemilikan televisi pada tingkat rukun tetangga di Indonesia, merupakan angka yang sangat subur menurut meneger televisi. Dengan alasan ini mengapa televisi menjadi sasaran utama sosialisasi produk. Semakin tinggi rating acara tertentu di televisi, semakin banyak pemasangan iklan, walaupun acaranya tidak bermutu sama sekali. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada pengaruh positif dan negatif dari banyaknya iklan tersebut. pengaruh positif dapat kita lihat pada iklan yang menyampaikan pesan-pesan baik, seperti sosialisasi keluarga berencana, anjuran tidak menikah muda, mencuci tangan sebelum makan dan lain sebagainya. Iklan negatif pun juga tidak kalah banyak, bisa kita lihat pada iklan produk-produk yang tidak mendukung kesehatan masyarakat, dalam hal ini yang sangat menonjol dalam pengiklanan adalah rokok.

Perkembangan produksi acara televisi yang dibuat semenarik mungkin dan menyasar semua kalangan, mulai anak-anak, wanita, remaja, bahkan dewasa dibuat tertarik dengan film-film yang disajikan, tentu saja kesempatan sponsor mengatur strategi pemasaran produknya. Dengan mudah iklan rokok dinikmati jutaan pasang mata, bukan hanya orang dewasa, wanita, remaja, bahkan anak-anak merupakan target sasaran baru bagi para produsen rokok dalam jangka panjang, karena yang dewasa akan segera meninggalkan rokok, melihat jangka umur yang sudah menua dan akan segera berhenti merokok karena menemui ajal.

Berbagai studi telah membuktikan bahwa paparan terhadap iklan dan promosi rokok sejak usia dini dapat meningkatkan persepsi positif tentang rokok, menguatkan keinginan untuk mencoba merokok, bahkan mendorong perokok mula untuk tetap merokok, dan melemahkan upaya berhenti merokok untuk kembali menjadi perokok. Pertimbangan yang menurut saya sangat miris adalah sasaran rokok yang benar-benar ditujukan pada usia dini, dengan pertimbangan jangka hidup anak-anak masih panjang.

Banyak yang memperdebatkan masalah efek rokok bagi kesehatan. Banyak pihak-pihak yang mencoba untuk melakukan pendidikan terhadap bahaya rokok, bahkan berupaya melawan keberadaan industri rokok tersebut. Tidak sekedar mengganggu masalah kesehatan, ada penelitian yang mengatakan rokok penyebab kemiskinan sosial yakni masalah ekonomi.

Bagaimana peran pemerintah? Dalam hal ini sebenarnya pemerintah sudah menetapkan batasan iklan rokok dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2000 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Iklan diatur secara khusus dalam bagian Iklan dan Promosi, dalam pasal 18 menyebutkan materi iklan rokok dilarang untuk ; Pertama, iklan rokok dilarang menyarankan atau merangsang orang untuk merokok. Kedua, menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok tidak memberikan manfaat bagi kesehatan. Ketiga, memajang orang lagi menghisap rokok. Keempat, mencantumkan nama produk yang bersangkutan,  dalam hal ini dilarang menampilkan batang dan bungkus rokok. Kelima, iklan rokok harus mencantumkan peringatan bahaya merokok bagi kesehatan, yaitu “Merokok dapat menyebabkan kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin” atau “merokok sebabkan kanker mulut” disertai dengan gambar mulut yang kena kanker.

Namun, Batasan-batasan peraturan terhadap iklan rokok ini bukannya menurunkan kegiatan iklan rokok, melainkan menjadi tantangan bagi produsen dan periklanan rokok untuk menjadi lebih kreatif dalam mengkemas pesan. Dengan kreativitas yang kekinian, mereka mengkemas pesan iklan tersebut dengan berbagai macam tema yang sangat popular di mata masyarakat Indonesia sehingga menyihir para objek. Banyak iklan yang bertema kekinian dan dirasa mewah di kalangan anak muda, mulai dari persahabatan, petualangan, kejantanan, kesuksesan, kenikmatan, kebebasan, kedewasaan, solidaritas, hingga kritik sosial. Dan tidak jarang, penonton yang melihat iklan rokok menjadi tertawa dan terkesan. Respon positif pun terbetuk pada para konsumen rokok.

Oleh karena itu, kemasan-kemasan yang sangat menarik dari kreativitas pengiklan rokok merupakan penanaman kesadaran palsu, korban-korban yang diakibatkan oleh racun yang terkandung dalam rokok tidak berselancar dalam petualangan seperti yang digambarkan dalam iklan, justru sebaliknya, mereka terlentang di kasur-kasur rumah sakit. Gambaran pemuda-pemuda kreatif  rupanya hanya ada dalam iklan, dan realitanya hanya kecanduan yang menguat, terus menerus ingin mengkonsumsi rokok yang terjadi.

Saifuddin
(saifuddinmuhammad11@gmail.com)
Peserta Sekolah Aktivis Pemula
yang diadakan Social Movement Institute (SMI) dan
Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT)

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*