IMG_1737

Petani Tembakau Dibelit Masalah

Tepat di kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur tengah menjalani masa tanam temabakau terhitung sejak dua bulan yang lalu. Masa panen diperkirakan akan berlangsung pada bulan depan. Sebagai upaya pemahaman terhadap permasalahan yang dialami petani tembakau, KOPDAR (Komunitas Peduli Udara Bersih) bermaksud mengawal petani tembakau sejak penanaman hingga proses panen.

Sampai saat ini sudah berlangsung tiga sesi kunjungan yang menekankan pada diskusi dengan perwakilan petani serta perangkat desa setempat. Topik diskusi lebih banyak membahas mengenai kesejahteraan petani tembakau serta kondisi kesehatan mereka. Nyatanya terdengar banyak keluhan dari petani tembakau yang kesulitan menjalani proses tanam tembakau hingga terserang penyakit yang diakibatkan oleh tembakau.

IMG_1670

Para petani mengaku tembakau telah terserang pengaruh iklim yang tidak menentu serta dihantam banyak hama sehingga mengancam kualitas tembakau yang tumbuh. Selain itu, modal yang dikeluarkan untuk melakukan produksi tembakau terbilang cukup besar. Sedangkan harga penjualan hasil produksi hanya bisa ditentukan oleh tengkulak. Tidak ada proses tawar-menawar yang membuat rawan terjadinya permasalahan.

“Lahan yang saya garap itu milik orang lain, jadi keuntungannya dibagi dua dengan pemilik. Cara menanam tembakau pun sulit karena hampir sama seperti mengasuh seorang anak yang mana perlu dilihat setiap pagi hingga malam,” tutur Pak Hamid (80), salah seorang petani tembakau yang ditemui saat itu.

Beberapa tahun belakangan ini keuntungan mereka semakin menurun. Selain faktor cuaca dan hama, hal ini juga diakibatkan fenomena di Jember yang pernah terserang hujan abu gunung raung. Hal ini tentu membuat nilai daun tembakau yang akan diekspor menurun tajam. Akibatnya upah yang diraup oleh para petani tidak lebih dari Rp. 15.000,00 per hari.

IMG_1737

Sangat memperihatinkan pula karena kebanyakan petani memiliki wawasan yang sempit mengenai bahaya saat mengelola tanaman tembakau. Mereka acuh dengan ketentuan penggunaan alat pelindung diri yang seharusnya digunakan saat proses produksi. “Kebanyakan dari mereka tidak patuh dalam menjalankan ketentuan penggunaan alat pelindung diri. Akibatnya beberapa di antara mereka terserang green tobacco sickness,” ujar Nindy Hastiti, salah satu anggota KOPDAR yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan kunjungan.

Rencananya kunjungan susulan akan dilaksanakan bulan depan ketika masa panen berlangsung. Petani tembakau dipilih sebagai objek kunjungan karena komunitas ini ingin membuktikan bahwa sebagai pendukung presiden untuk menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang kebanyakan orang memandang tidak memperhitungkan kepentingan petani tembakau, nyatanya juga turut peduli dengan kehidupan mereka serta senantiasa menganggap mereka sebagai sahabat yang perlu dirangkul.

KOPDAR berharap para petani segera menyadari betapa tidak menjanjikannya keuntungan yang diraup sebagai seorang petani tembakau. Sesungguhnya masih banyak pilihan tanaman yang dapat digarap agar mendapatkan keuntungan yang maksimal dan tidak memberikan dampak buruk bagi petani itu sendiri dan banyak orang.

Ditulis oleh Sri Pratiwi 
Komunitas 9cm Bali
No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.