brain_brainwaves

Rokok dan Upaya Konstruksi Kesadaran Semu

Pada tahun 2013, Stromae, seorang penyanyi rap berkebangsaan Belgia, menciptakan lagu tentang penyakit kanker. Dalam karya tersebut, ia menggambarkan kanker sebagai makhluk yang hidup mengendap-endap dan siap membunuh siapa saja. “Quand c’est?” tanya Stromae pada kanker—kapan, kapan kau berhenti?

Dalam lagu berbahasa Prancis ini, Stromae juga mengkritik kemasan-kemasan rokok. Pada beberapa baris lagunya Stromae menulis, “Decidement, rien ne t’arrete toi … Et arrete de faire ton Innocent … Sur les paquets de cigarettes …” (Tentu, tak ada yang bisa menghentikanmu [kanker]. Dan berhenti pura-pura tak bersalah, pada bungkus-bungkus rokok). Bagi sang seniman, peringatan kesehatan pada bungkus rokok hanya dapat menjadi sebuah formalitas saja. Penyakit yang bersemayam dalam rokok hanya “pura-pura baik saja” dengan menyampaikan peringatan kesehatan.

Ia kemudian menambahkan, dengan sedikit sarkasme, “’Fumer tue’ … Tu m’etonnes! …” (“Rokok membunuhmu,” mengejutkan!).  Pada baris ini, Stromae yang juga perokok itu menyinggung kenyataan bahwa bahaya pembunuhan oleh rokok sudah menjadi rahasia umum. Masyarakat sudah tahu kalau rokok membawa penyakit, bahkan tanpa adanya peringatan kesehatan tersebut. Namun demikian, seperti dirinya, orang-orang akan tetap merokok selama rokok masih dijual bebas dan candu telah berkuasa.

Walau hanya kuat dipasarkan pada masyarakat Eropa, lagu karya Stromae tersebut juga dapat menjadi kritik bagi kenyataan yang ada pada masyarakat Indonesia. Perusahaan-perusahaan rokok di Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk mempromosikan budaya merokok dan menyebarkan candu terhadap rokok. Dalam hal ini, iklan rokok—baik pada kemasan maupun media-media iklan, masih memiliki pengaruh besar di antara masyarakat. Seperti yang ditunjukkan data Komnas Anak dan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA), 70% remaja di Indonesia mulai merokok karena terpengaruh iklan rokok yang menggiurkan.

Walau PP No. 109 tahun 2012 terkait iklan dan promosi rokok telah 4 tahun diregulasikan, masih banyak perusahaan rokok yang dibiarkan abai terhadap peraturan pemerintah tersebut. Pada pasal 24 misalnya, perusahaan rokok telah dilarang untuk mencantumkan kata “Light”, “Mild”, “Low Tar”, dan label semacamnya pada bungkus rokok. Pemakaian label-label tersebut ditengarai akan membangun sebuah kesadaran palsu di mana konsumen rokok akan menganggap satu merk rokok lebih tidak berbahaya dibandingkan yang lain. Padahal, menurut Dianita Sugiyo, dosen Fakultas Kedokteran UMY, rokok jenis apapun sama berbahayanya bagi kesehatan, tidak peduli label apa yang disematkan produsen pada kemasannya.

Kendati telah dilarang, masih dapat dengan mudah ditemukan bungkus-bungkus rokok yang diberi label menyesatkan tersebut.  Iklan rokok yang memampangkan sebutan jenis-jenis rokok itu pun banyak ditemukan pada sisi jalan kota-kota besar. Misalnya saja di Kota Yogyakarta, dapat ditemukan setidaknya satu toko kelontong dengan spanduk iklan rokok pada setiap 500 meter. Di antara spanduk iklan rokok toko kelontong tersebut, hampir seluruhnya memampangkan label-label yang, menurut PP No. 19 tahun 2012, merupakan pengecoh. Pun, angka tersebut belum termasuk iklan rokok selain pada toko-toko kelontong.

aaa

Spanduk iklan rokok di toko kelontong Jl. Kaliwaru Raya, Condong Catur

Perusahaan pengiklan rokok memang tidak ragu-ragu menginvestasikan banyak uang untuk mengiklankan produk rokok mereka. Bahkan, mereka berani memberi banyak uang ke toko-toko kelontong agar dapat memasang spanduk iklan rokok di depan toko mereka. Salah satu pedagang toko kelontong di Jalan Kaliwaru Raya, Condong Catur, mengaku mendapatkan uang 500 ribu rupiah dari perusahaan pengiklan rokok. Uang tersebut diberikan agar ia mau memasang spanduk iklan rokok di depan tokonya. Fakta bahwa spanduk yang terpampang di depan toko tersebut telah menyalahi peraturan pemerintah tidak menjadi halangan bagi perusahaan rokok merk Diplomat untuk mengiklankan produknya sebagai rokok mild.

Promosi produk rokok berlabel tersebut pun berhasil mempengaruhi pemikiran masyarakat. Kini, banyak orang yang merasa bahwa rokok dengan label “mild”, misalnya, lebih tidak berbahaya dibanding rokok tanpa label tersebut. Ismail, mahasiswa yang juga seorang perokok, memiliki kebiasaan untuk mengganti rokok kreteknya dengan rokok mild apabila merasa pernapasannya terganggu. Menurutnya, rokok mild tidak akan mengganggu kesehatannya seperti rokok kretek.

Memang banyak perokok yang mengatakan bahwa rokok dengan label-label tertentu terasa lebih ringan dihirup. Dengan demikian, para perokok tersebut merasa rokok dengan label mild tidak begitu berbahaya. Padahal, pada dasarnya seluruh jenis produk tembakau seperti rokok memiliki kandungan nikotin yang secara alami berbahaya bagi kesehatan. Seperti yang disebutkan pada peringatan kesehatan di bungkus rokok, merokok dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan bahkan membunuh, tidak peduli label apa yang disematkan produsen padanya.

Pun, bila produsen rokok terus dibiarkan membangun kesadaran palsu pada orang-orang lewat iklan dan label-labelnya, budaya merokok akan terus berlanjut tanpa dapat dihentikan. Tanpa daya, kita hanya akan dapat mengatakan apa yang Stromae nyanyikan berulang-ulang di akhir lagunya: qui est le prochain? —siapa korban selanjutnya. []

Sultan Abdurrahman
(sultan.abdurr@gmail.com)
Peserta Sekolah Aktivis Pemula
yang diadakan Social Movement Institute (SMI) dan
Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT)

 

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.