20170926_163011

Sudah Seharusnya Rumah Bebas dari Asap Rokok

Probabilitias dari resiko merokok itu 90 persen akan menjadi penyakit, namun 10 persen nya tidak. Tapi, kita bukan Tuhan yang bisa menentukan, apakah si perokok tersebut masuk ke kategori 90 persen atau 10 persen . Jadi, pilihan terbaiknya ya, tidak merokok.

Sebuah pernyataan dari DR.dr.Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), seorang dokter dari rumah sakit Persahabatan, yang menjadi salah satu narasumber di dalam sebuah talkshow yang bertajuk “Rokok Dilarang Masuk Rumah” pada hari Kamis, 14 September 2017, yang diselenggarakan oleh Ruang Publik Radio KBR, setelah mendapat sebuah pertanyaan dari seorang audiens tentang masih banyaknya perokok yang tidak percaya jika rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit serius bahkan kematian. Terlebih,  masih banyak orang yang sudah menjadi perokok aktif sejak lama namun tidak terkena penyakit seperti yang dicantumkan di iklan atau bungkus rokok.

Acara yang digelar di restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat ini juga dihadiri oleh 2 narasumber lain, salah satunya adalah Fitriani Indah Lestari. Beliau adalah seorang ibu yang harus kehilangan bayi nya yang belum lama lahir, dikarenakan terkena penyakit pneumonia yang disebabkan paparan asap rokok. Diduga, bayi ibu Fitri terpapar asap rokok dari para tamu yang berkunjung ke rumah beliau untuk menjenguk sang bayi, saat dilangsungkannya acara aqiqah. Berkenaan dengan masalah ini, dokter Agus mengatakan, bayi dan anak-anak memang sudah seharusnya dijauhi dari paparan asap rokok, karena sistem kekebalan tubuhnya yang masih kurang. Terlebih, ibu hamil pun juga disarankan untuk tidak terpapar asap rokok atau menjadi passive smoker, jika tidak ingin mengalami penyempitan pembuluh darah rahim, keguguran, atau resiko sang bayi akan lahir dengan bobot tubuh yang lebih ringan, atau ukuran sang bayi yang lebih pendek dibanding bayi normal lainnya.

Sumiati, ibu RT yang membagikan kisah perjuangannya untuk menjadikan kampung Penas, Jakarta Timur, menjadi kampung warna-warni tanpa rokok (KTR). Beliau mengatakan, sangat sulit untuk mengubah kebiasaan merokok yang sudah melekat di lapisan masyarakat kampung Penas. Bahkan, dalam acara seperti syukuran, arisan RT, ataupun acara lainnya, rokok akan disajikan sebagai “souvenir” atau pendamping snack dan air mineral. Kebiasaan lain pun seperti merokok pada saat acara rapat RT, begitu sudah mendarah daging terutama di kalangan bapak-bapak kampung Penas. Ibu Sumiati yang juga merupakan seorang ketua RT 15 di kampung tersebut, berinisiatif untuk menggagas kampung Penas menjadi kawasan KTR. Perjuangan ibu Sumiati dimulai sejak Maret 2017. Beliau mulai mengedukasi warga kampung Penas dengan sering mengadakan penyuluhan, kunjungan, dan pemutaran video edukasi tentang bahaya dan resiko merokok. Kini, kampung Penas merupakan salah satu wilayah KTR di Jakarta yang berhasil diciptakan, walau dimulai hanya dari tingkat RT dengan perjuangan yang tidak mudah.

Program KTR yang sudah berjalan di kampung Penas, Jakarta Timur ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi yang ingin menjadikan kampung nya cantik sekaligus bebas asap rokok. KTR merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk melindungi anak-anak dari asap rokok, serta meningkatkan produktivitas masyarakat menjadi lebih sehat.

 

Penulis: Nandin Dwi Sasmita | Mahasiswa Universitas Bina Nusantara | ndsasmita20@gmail.com

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*