gara-gara-rokok-orang-indonesia-tak-bisa-keluar-dari-kemiskinan

Warga Miskin Incaran Industri Rokok

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) saat ini merupakan peraturan yang sudah ada dibeberapa daerah di Indonesia. Implementasi nyata masih menjadi tanda tanya besar terhadap peraturan tersebut. Wakil Ketua MTCC UMY yang juga Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dianita Sugiyo,S.Kep,Ners,MHID, mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya acara Workshop Penyusunan dan Penerapan Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok  yaitu agar peserta menghasilkan naskah akademik dan draft raperda KTR. Acara ini sukses diselenggarakan bekerjasama dengan The Union, MTCC (Muhammadiyah Tobacco Control Centre) UMY, Kementerian Kesehatan, dan Germas.

Rokok sudah menjadi candu berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Bupati Kulon Progo yang juga Ketua Aliansi Bupati dan Wali Kota, Hasto Wardoyo, dalam sambutannya menuturkan bahwa dari survei yang pernah dilakukan timnya di Kulon Progo pada tahun 2013, ternyata rokok merupakan kebutuhan nomor dua setelah beras. Pengeluaran warga untuk membeli rokok bisa mencapai Rp96 miliar per tahun. Menurutnya, hal ini sangat berbanding terbalik dengan biaya pemberian layanan kesehatan gratis yang hanya Rp18 miliar per tahunnya.

Ahmad Syafii Maarif yang merupakan Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengaku miris melihat semakin banyak warga miskin Indonesia yang kecanduan rokok. Ketika warga miskin menjadi incaran utama industri rokok, negara akan merasakan dampaknya karena harus mengeluarkan biaya untuk orang yang sakit akibat merokok.

Pria yang kerap disapa Buya Syafii ini, dalam sambutannya sebagai Keynote Speaker menduga bahwa tarif cukai rokok di Indonesia rendah bila dibandingkan negara tetangga di Asia karena mayoritas perokok Indonesia berasal dari keluarga miskin. Buya Syafii mengatakan tarif cukai rokok Indonesia yang besarnya 40 persen masih kalah bila dibandingkan Malaysia yang menerapkan cukai rokok sebesar 55 persen. Jumlah cukai rokok Indonesia pun hanya setengahnya dari India dan Nepal yang sudah menerapkan 80 persen. Buya Syafii berharap agar pemerintah menaikkan tarif cukai rokok Indonesia dengan harapan agar warga miskin sulit mengakses rokok.

“ Membebaskan warga dari jerat kemiskinan termasuk tugas konstitusi. Toh, Negara juga tak terlalu bergantung pada pemasukkan dari cukai rokok.,” tambahnya dalam sambutan di Hotel Horizon Ultima Riss Yogyakarta.

Buya Syafii mengakui bahwa salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memerangi kecanduan rokok adalah regulasi seperti peraturan daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Penulis: Dea Surya Lakshita, Midwifery student, Health Polytechnic of Ministry of Health in Yogyakarta, deapasha2012@gmail.com

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*