2015-batam-batasi-ruang-gerak-perokok-Kpm

Penyebab Kenapa Orang Masih Saja Merokok Hingga Dewasa

Artikel ini ditulis oleh Kartolo

Ada akun anak komtek nyelonong, trus nggugat kenapa kok gerakan anti rokok diam seribu bahasa ketika junk food merajalela ikut2an rokok meracuni rakyat RI. Serasa gak ikhlas mereka melihat pangsa pasar produk yg meracuni rakyat digerus oleh kompetitor lain walaupun beda lapangan mainnya. Hehehe…

Ok, cukup sarkasme-nya.

Sering kita dengar gugatan2 serupa dari perokok2 akut yg tergabung di komodo kretek alias komtek. Mereka bandingkan bahaya asap rokok vs asap knalpot atau asap polusi lainnya, mana lebih bahaya. Lalu yg ini, lebih bahaya mana rokok vs junk food. Mungkin mereka lupa bhw dua hal yg salah tidak bisa membuat salah satunya menjadi benar. Tapi gak apa2, kita ikuti saja jalan pikir para komodo itu.

Saya sepakat dgn pendapat bhw junk food itu produk kecelakaan sejarah peradaban manusia. Bahwa negara spt Amerika yg berhasil mengangkat budaya fast food ini menjadi bagian dari kultur modern tak usahlah kita gugat simply karena di negeri kita pun juga tak kurang2 dlm menghasilkan makanan yg masuk kategori junk food. Tontonlah film Supersize Me utk tahu gambaran nyata bahaya mengkonsumsi junk food setiap hari selama 2 bulan. Hasilnya, tekanan darah meningkat tajam, kandungan lemak dalam darah naik, ginjal bermasalah, jantung melemah, dst.

Lalu ada yg berargumen, apapun jika berlebihan ya tidak baik. Argumen ini digunakan juga oleh para komodo tua ketika sok menasehati komodo2 muda, merokok itu secukupnya, jangan berlebihan. Justru disini masalah muncul. Awal mula kebiasaan merokok itu selalu bukan berawal dari sebuah kesadaran spt halnya ketika kita sadar perut kita lapar dan pingin makan junk food misalnya. Kebiasaan merokok umumnya berawal dari kebutuhan psikologis, bukan biologis spt halnya makanan. Kebutuhan utk diterima kelompok adalah rasa laparnya perokok di awal karirnya sbg perokok. Masalahnya, begitu nikotin masuk dan mulai bekerja mempengaruhi otak, kebutuhan psikologis tadi berubah menjadi kebutuhan biologis. Otaknya yg lapar, bukan perut. Tidak ada lg batasan kenyang sbgmana halnya dgn makanan. Awalnya batangan, lalu 1 pak, 2 pak, bahkan 3 pak sehari. Ini bukan lagi masalah berlebihan itu tidak baik, tapi sudah kadung ketagihan dan tidak bisa berhenti.

Pada makanan, kita bisa menjadi tuan yg menentukan kapan saat yg tepat utk makan, memilih jenis makanan apa, bergizi atau sekedar yg penting enak di lidah, dst. Sebaliknya pada rokok, kita bukan menjadi tuan, tapi budak krn kita semakin lama semakin tidak mampu menahan keinginan utk merokok sekuat ketika kita menahan lapar. Akhirnya banyak orang yg ketagihan rokok lebih memilih tidak makan drpd tidak merokok. Makan menjadi sunnah, merokok menjadi wajib.

Itu sebabnya industri rokok menarget anak2 muda, krn secara alamiah usia mereka memang berada pada tahap pencarian jati diri. Kesadarannya belum matang, belum bisa menentukan mana yg baik dan tidak baik bagi tubuhnya. Ditambah dgn tuntutan kelompok, membuat mereka belum sepenuhnya rasional.

Disamping itu – ini buat lucu2an – mana ada sih orang ketagihan makan junk food kecuali mereka yg kantongnya tipis? Oke, kalopun ada, adakah dari mereka yg kalo makan junk food terus makanannya disembur2in nyebar dan masuk mulut orang lain kayak asap rokok kena hisap hidung org lain gitu? Gak ada kan?

Oh, masih ada juga? Nih, gua pinjemin wajan buat nabok itu orang.

14251232721129437478

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*