Iklan Rokok Panama

Tak Ada Iklan Rokok di Panama

Panama adalah teladan pengendalian tembakau. Negeri seluas Jawa Barat-Banten yang menjadi penghubung Amerika Serikat dan Selatan ini mentahbiskan diri sebagai negara pertama di dunia yang berhasil melarang iklan rokok tayang di media apapun: koran, film, baliho, televisi, radio, bahkan menyelusup lewat berita. Bagi negara berpenduduk 3,5 juta jiwa itu, tahun ini adalah sejarah dimulainya–mereka tak menyebut tonggak keberhasilan–kampanye bahaya merokok.

Perjuangannya cukup alot dan panjang. Kita tahu, sebagian besar penduduk Panama adalah Indian Mexico yang gemar menyedot cerutu Kuba yang terkenal itu. Sebagai negara tansit dari utara Amerika ke selatan dengan letak geografis dan terusan, Panama menjadi tetirah banyak turis. Turisme dan rokok, juga cerutu buatan lokal maupun impor dari negara-negara sekitar, menjadi daya tarik negeri kecil ini.

Dimulai pada 2005 lewat Undang-Undang Perlindungan Kesehatan Masyarakat, iklan rokok mulai dibatasi pada 2008. Secara perlahan regulasi Menteri Kesehatan yang menjabarkan pasal-pasal dalam beleid itu mengatur mana yang boleh dan tak boleh pada iklan rokok, juga batas-batas kandungan iklan yang boleh ditayangkan di area publik. Setelah semua orang paham, bahwa iklan adalah pintu pertama kecanduan nikotin yang masif, tahun ini iklan rokok dilarang sama sekali.

Dua perusahaan rokok, seperti sudah diduga, menggugat peraturan pemerintah ini. Tapi pemerintah Republik Panama tak gentar. “Masyarakat berada di belakang pemerintah,” kata Nelyda Gligo, Presiden Koalisi Pengendalian Tembakau Panama. Pemerintah berada pada tekad yang jelas soal pengaturan rokok: kesehatan 3,5 juta penduduknya lebih utama ketimbang penghasilan cukai maupun pertanian tembakaunya.

Penentangan parlemen juga sengit. Panama seperti Indonesia. Republik bekas koloni Spanyol ini politiknya juga bersandar pada trias politika: parlemen, presiden, dan lembaga-lembaga hukum. Industri rokok, sebagaimana mereka lakukan di semua negara, melobi politikus agar menghalangi niat pemerintah itu. Tapi Panama berpikir jauh lebih dewasa: kesehatan adalah kepentingan publik yang lebih penting dari apapun.

Dan cukai rokok di sana tak dikembalikan kepada petani untuk melindungi ladang-ladang nikotin. Undang-Undang Pertanian telah dengan sendirinya memproteksi mereka dan mengatur bagaimana pertanian dikelola. Uang cukai yang menyumbang 2 persen terhadap APBN Panama disalurkan seluruhnya untuk anggaran mengendalikan tembakau dan produk turunannya di Kementerian Kesehatan. Karena itu kampanye bahaya rokok, pengaturan distribusi, hingga biaya pengobatan penyakit akibat rokok punya anggaran berlebih.

Tujuan pelarangan total iklan rokok satu saja: pemerintah cemas 16 persen remaja usia 13-15 tahun sudah menjadi pecandu. Anak-anak remaja yang tak paham apa yang mereka lakukan ini merokok terutama dipengaruhi oleh iklan di televisi dan majalah. Maka sasaran utama menghentikan kecanduan yang meluas itu adalah dengan melarang iklan. Hasilnya, Sejak 2005, jumlah perokok di kalangan remaja bekurang tinggal 3 persen. Jumlah perokok di kalangan orang dewasa juga berkurang drastis sejak regulasi itu.

Kini Panama bersiap membuat aturan yang lebih radikal dalam pengendalian tembakau: memberlakukan bungkus rokok polos. Bungkus rokok yang beredar di Panama, baik lokal maupun impor, akan dilarang mencantumkan merk. Bahkan warna dan bentuknya akan diseragamkan. Pembeli tak akan tahu rokok yang ia beli itu bermerk A yang dibuat perusahaan B atau lainnya. Mereka hanya tahu bungkus itu adalah bukan permen karena dijual di tempat-tempat khusus yang tak bisa dijangkau anak-anak.

Panama tak takut kehilangan pendapatan dengan kebijakannya ini. Cukai rokok, pajak penjualan, pajak iklan, hanya bagian kecil penymbang benefit ketimbang kepentingan kesehatan yang lebih besar. Logika Panama sederhana belaka: masyarakat yang sehat akan dengan mudah mencari penghasilan ketimbang masyarakat yang sakit akibat merokok. Karena itu beban pemerintah menjadi berkurang ketika setiap orang bisa kreatif menciptakan penghasilan ntuk hidupnya. Sektor pariwisata masih luas, pertanian dengan suhu tropis 24 derajat tak kesulitan mengembangkan pelbagai jenis tanaman. Dan masih banyak sektor lain, dengan laut dan sungai yang luas, untuk menjala uang bagi penghasilan negara.

Indonesia mesti belajar banyak pada Panama soal keberanian dan ketegasan mengendalikan tembakau dan rokok demi generasi masa depan yang lebih baik.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*