nosmoking

Tembakau, Rokok, dan Alternatifnya

Jalal
Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

 

Kritik tehadap Industri dan Tanggapannya

Ketika kita hendak mengajukan kritik bahwa sesuatu itu buruk atau tidak baik, apakah kita harus SELALU mengajukan alternatifnya? Rasanya tidak. Walau kalau bisa melakukannya akan sangat baik, tetapi bila tak bisapun seharusnya itu tak menghalangi kita untuk tetap menyatakan bahwa hal itu tidak baik.

Pemintaan untuk memberikan alternatif sering dinyatakan oleh para pendukung industri rokok ketika mereka mendengar hal-hal yang dianggap merugikan industri itu. Mungkin malah bisa dinyatakan sebagai jawaban standar. “Bisakah kalian menyediakan menggantikan pendapatan petani tembakau?”; “Berapa yang kalian sanggup tampung di antara tenaga kerja yang akan menganggur kalau rokok terlalu diatur?”; “Lalu, siapa yang akan menggantikan pemberi beasiswa dari perusahaan rokok yang selama ini membantu banyak mahasiswa?” Intinya, mereka menyatakan jangan melontarkan kritik kalau belum siap dengan jalan keluar komprehensif.

Rokok secara faktual mengandung candu nikotin dan ratusan unsur kimiawi yang diketahui membahayakan kesehatan. Sehingga, para ahli kesehatan mengingatkan bahayanya, dan para ulama memberinya fatwa makruh hingga haram. Apakah mereka harus memberikan solusi komprehensif terlebih dahulu baru boleh menyatakan pendapatnya? Dalam benak masyarakat umum, jelas tak ada persyaratan itu.

Ketika, misalnya, kita mengetahui bahwa energi dari batubara dan minyak itu kotor dan membahayakan lingkungan, kita tak harus sudah menyediakan energi bersih dari sang surya dan sang bayu, bukan? Dengan menyatakan kotornya energi dari batubara, berarti kita sesungguhnya sedang menyatakan preferensi atas energi bersih dan mendorong transformasi ke energi bersih. Syukur kalau bisa betul-betul terjun melakukan sesuatu untuk transformasi itu. Padahal, pekerja sektor itu juga banyak, energi itu dimanfaatkan oleh banyak sekali pihak, dan total nilai ekonominya juga sangat besar. Tapi kita tak pernah mendengar persyaratan pengajuan alternatif dari kedua industri itu ketika siapapun melontarkan kritik.

Demikian juga sikap dari berbagai industri yang lain. Ketika bank dikritik dengan pernyataan seperti “Bank hanya memberikan kredit kepada mereka yang tak membutuhkannya, sementara selalu menolak memberikan kredit kepada mereka yang benar-benar membutuhkan,” lantaran persyaratan kolateral, mereka tidak meminta pengritiknya untuk memberikan alternatif. Malahan, yang terjadi adalah bank memerbaiki diri lewat kritik itu. Kini, ada banyak bank yang memiliki portofolio kredit mikro. Perbaikan dari kritik itu juga yang terjadi dengan perusahaan-perusahaan batubara dan minyak. Mereka banyak yang kemudian memikirkan cara mentransformasi diri menjadi perusahaan energi, dengan portofolio energi bersih dan terbarukan dalam bisnis mereka.

Perusahaan-perusahaan kelapa sawit, mulai dari kebun dan industri pengolahannya kerap menjadi sasaran kritik. Karena praktik mereka yang membuka hutan dalam skala raksasa, bahkan dengan cara-cara buruk seperti membakarnya, kritik pedas kerap mereka terima. Tetapi mereka tak pernah membalas beragam kritik itu dengan menyatakan “Kalau kalian melarang kami membuka hutan, kalian harus menyediakan lahan”; atau “Beri tahu kami cara membuka lahan yang lebih murah daripada membakarnya.” Mereka tahu bahwa kritik yang dilontarkan memang benar. Dan, cara menyikapinya adalah dengan memerbaiki diri sendiri. Kini, banyak di antara perusahaan kelapa sawit yang memiliki standar keberlanjutan yang kokoh.

Soal rokok pun seharusnya setali tiga uang. Keburukan rokok sesungguhnya mulai dari produksinya, dan di konsumsinyapun bukan sekadar dampak kesehatannya. Dan itu semua adalah kenyataan yang harus diterima oleh para pembela industri ini. Bukan dengan meminta mereka yang mengritik untuk menyediakan seluruh alternatif bagi penghidupan petani dan buruhnya, melainkan secara jujur melihat apakah kritik tersebut memang valid, lalu melakukan tindakan perbaikan yang bisa dilakukan. Begitu seharusnya tanggapan perusahaan dan industri terhadap kritik-kritik yang dilontarkan kepada mereka.

Ragam Kritik terhadap Industri Rokok

Silakan pergunakan mesin pencarian Google, maka akan jelas bahwa produksi dan pengolahan daun tembakau itu sangat buruk bagi lingkungan. Dia merusak hutan secara massif. Di Nusa Tenggara Barat (NTB) saja, menurut Walhi NTB, 1,4 – 1,6 juta pohon per tahun lenyap gara-gara pertanian dan pengeringan tembakau. Di Temanggung, pemerintah kabupatennya mengakui belasan ribu hektare hutan rusak gara-gara pertanian tembakau. Penggunaan pestisida yang sangat massif membuat tanah dan air rusak. Dan, seharusnya hutan dan lahan itu bisa bermanfaat untuk keamanan dan kedaulatan pangan negeri ini. Tapi kita sia-siakan untuk produk yang statusnya minimal makruh itu.

Petani tembakau adalah petani-petani paling miskin. Jangan lihat mereka yang berlahan luas dan sekaligus menjadi tengkulak dan pedagang. Berbagai studi membuktikan betapa rendahnya penghasilan dari pertanian tembakau. Itu karena harga sepenuhnya ditentukan oleh ‘gudang’, yang merupakan perpanjangan tangan perusahaan-perusahaan rokok. Harga ditekan serendah mungkin, lewat berbagai dalih yang tak mungkin diverifikasi dan dilawan oleh para petani. Lagipula, dengan sifat pasar yang monopsoni, tak ada pilihan lain. Kita tahu, alternatif pemanfaatan tembakau di luar rokok masih terlampau kecil. Dan kita juga tahu bahwa tembakau impor harganya lebih murah, dan yang berasal dari Tiongkok bahkan sama sekali tak ada bea masuknya. Nol rupiah, untuk produk yang menjadi pesaing hasil kerja keras petani-petani kita. Bagaimana mungkin menyejahterakan petani dalam kondisi seperti ini?

Buruh perusahaan rokok juga bukan mereka yang jadi sejahtera karena pekerjaannya. Tengoklah berita-berita diberbagai sumber online. Mereka kerap berdemo lantaran upah yang kelewat rendah bahkan pembayarannya pun tak jarang tertunda, yang besarannya kerap tidak menyentuh UMR, apalagi prasyarat pendapatan yang layak untuk kehidupan. Belum lagi, mereka terancam PHK massal terus menerus. Karena apa? Bukan karena cukai naik atau karena kampanye kesehatan, tetapi karena perusahaan2 rokok itu terus melakukan mekanisasi demi semakin banyaknya produksi dan keuntungan.

Selain masalah kesehatan, konsumsi rokok sendiri bikin masalah yang seabreg. Konsumen rokok, sekitar 57%-nya adalah buruh, petani dan nelayan. Mereka dan keluarganya kehilangan peluang investasi di pendidikan, gizi dan kesehatan, lantaran kecanduan rokok. Sulit betul untuk berhenti merokok karena candu nikotin yang ada di dalamnya, dan karenanya mereka kerap mengorbankan konsumsi yang baik untuk produk yang berbahaya itu. Tak jarang kita mendengar cerita mengenai anak-anak yang putus sekolah dan makan seadanya agar sang ayah tetap merokok.

Dan ketika seluruh kerugian dan kondisi buruk itu ditanggung oleh petani, buruh dan konsumennya, juga pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, siapa yang diuntungkan? Pemilik perusahaan-perusahaan rokok dan mereka yang duduk di manajemennya. Kita tahu bahwa Sampoerna bukan lagi perusahaan Indonesia setelah dibeli Philip Morris. Demikian juga Bentoel yang jadi milik BAT. Tapi, beberapa sumber mengindikasikan bahwa Djarum telah berpindah tangan ke Gallaher, dan Gallaher dibeli Japan Tobacco International (JTI). JTI pula yang sudah memiliki Wismilak. Sementara Gudang Garam juga diindikasikan telah menjadi anak perusahaan Imperial Tobacco. Semua bentuk kerugian dari industri rokok harus kita tanggung, namun majoritas keuntungan malahan diterbangkan ke AS, Inggris, dan Jepang—bila informasi di atas memang benar. Apakah ini tidak perlu ditimbangoleh siapapun yang memiliki sedikit saja nasionalisme di hati mereka?

Alternatif Terbaik: Dunia Tanpa Rokok

Kalau kita rangkum ragam kritik tersebut, kita hendak menyatakan bahwa industri rokok seharusnya bertanggung jawab untuk menghentikan praktik deforestasi terkait pertanian dan pengeringan tembakau dan mulai melakukan reforestasi; menghentikan manipulasi harga dan membayar harga tembakau dengan harga yang bisa menyejahterakan petani tembakau; menjamin kesejahteraan dan keamanan kerja para buruh; dan menghentikan menyasar kaum miskin dalam penjualannya. Terlampau berat? Rasanya tidak. Industri rokok mungkin bernilai lebih dari Rp300 triliun setahunnya, dan bisnis sebesar itu bisa dengan mudah menyelesaikan tuntutan-tuntutan di atas.

Namun, seandainya semua tuntutan tersebut bisa dipenuhi, itu tetap tak mengubah kenyataan bahwa rokok adalah produk yang berbahaya. Sebagai orang-orang yang beragama, kita percaya penuh pada kuasa Allah. Dengan alasan itu, kita seharusnya mendorong siapapun untuk menjauh dari produksi dan konsumsi rokok. Allah pasti akan mengganti rezeki yang hilang bahkan melebihkannnya bila petani mau menggantikan tembakau dengan produk lain yang memenuhi gizi dan menyehatkan konsumennya. Allah jua yang akan memberikan kerja dan rezeki yang lebih baik untuk para buruh yang keluar dari industri rokok. Para konsumen yang mencoba dengan sungguh-sungguh untuk tidak lagi merokok jelas akan mendapatkan berkah kesehatan, dan keluarga yang lebih bahagia karena uang untuk konsumsi yang bermanfaat akhirnya tersedia lebih banyak. Belum lagi pahala dan guyuran beragam berkah lainnya dari Sang Kuasa, lantaran meninggalkan konsumsi barang yang makruh atau bahkan haram itu.

Bagi alam, bila budidaya dan pengeringan tembakau bisa berkurang atau bahkan hilang sama sekali, maka pemulihan bisa terjadi. Kita akan bisa menggantinya dengan hutan yang menyediakan air dan oksigen berlimpah. Kita bisa menyembuhkan tanah dan air dari racun pestisida yang berlebihan digunakannya dalam pertanian tembakau. Kita bisa menggantinya juga dengan tanaman pangan yang bermanfaat untuk ketahanan dan kedaulatan pangan sekaligus. Akhirnya, kita bisa mengurangi impor produk pangan yang sekarang merajalela, dan bikin kisruh karena devisa yang terbang ke luar negeri itu turut melemahkan rupiah.

Apakah gambaran ini semua cukup untuk membayangkan bahwa kehidupan tanpa rokok itu jauh lebih baik?Wallahualam.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*