giant-pack

A Giant Pack of Lies: Menguak Siasat Industri Rokok

Indonesia surga rokok karena belum meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau. Pecandu semakin memuda.

LIMA belas tahun lalu, tepatnya November 1998, jaksa agung di 46 negara bagian Amerika Serikat membuat keputusan bersejarah yang mengejutkan: memerintahkan tujuh perusahaan rokok membuka dokumen internal mereka ke publik. Geger pun dimulai: dari memo-memo rahasia itu kita tahu bagaimana siasat industri rokok membuat orang seluruh dunia kecanduan nikotin.

Ada 37 juta halaman dokumen “top secret” yang diserahkan ke pengadilan. Gunungan dokumen itu kemudian dipindahkan secara digital ke situs http://legacy.library.ucsf.edu oleh tim dari University of California San Francisco.

Mardiyah Chamim, penulis buku ini, bertemu tim itu ketika ia mendapat beasiswa mengikuti dan meliput Konferensi Kanker Sedunia di Washington, D.C, pada Oktober 2005. Mardiyah memang penulis di rubrik Kesehatan majalah Tempo sejak 1998.

Mardiyah bercerita, keputusan hakim itu tak begitu saja diketuk. Vonis itu buah dari proses panjang dan alot gugatan publik Amerika terhadap industri rokok yang selalu kandas karena alasan klasik: kurang bukti. Kemudian keputusan hakim agung Lee Sarokin pada 1992 yang memulai semuanya.

Ada sekitar 3.000 dokumen yang menyebut Indonesia. Industri rokok berlomba masuk ke negeri ini karena Indonesia tak kunjung meratifikasi konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau dari Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO). Padahal, menurut cerita Mawarwati Djamaludin—wakil Indonesia dalam pembahasan Kerangka Kerja–Indonesia adalah penggagasnya.

Menurut Mawarwati, usulan ini awalnya ditolak negara-negara maju seperti Cina dan Amerika karena industri rokok mereka bakal terganggu jika produk tembakau diatur-atur. Kini, dua negara ini plus Eropa, paling depan dalam soal pengendalian tembakau. Alasan Amerika jelas: melindungi generasi mendatang mereka dari bahaya rokok. Amerika Serikat memang belum meratifikasi Kerangka Kerja tapi undang-undang dan kebijakan nasional mereka sangat ketat mengatur rokok. Ada tujuh negara bagian yang keras mengatur distribusi hingga pembatasan iklan rokok di media massa.

Ironisnya, Indonesia tak kunjung meratifikasi gagasannya sendiri. Karena itulah, menurut Mardiyah, tak heran Philip Morris hijrah ke sini dengan membeli saham Sampoerna, pabrik rokok terbesar di Indonesia. Bahkan Undang-Undang Kesehatan yang jadi pijakan pertama mengatur rokok selalu dijegal. Pada pembahasan 1992, pengertian rokok sebagai barang adiktif tiba-tiba menghilang.

Rupanya, perusahan rokok mengumpulkan politikus Senayan dan pejabat Kementerian Kesehatan di Nusa Dua, Bali. Seorang pejabat sebuah perusahaan rokok menuliskan laporan keberhasilan membungkam pejabat Indonesia itu ke bos mereka di Amerika. Dalam buku ini, surat itu dipampangkan telanjang.

Kejadian sama terulang pada 2009 ketika sejumlah pimpinan Komisi Kesehatan DPR dan pejabat Kementerian Kesehatan menghilangkan ayat yang mengelompokkan rokok sebagai barang adiktif dalam draf yang dikirim ke presiden setelah disahkan sidang paripurna. Kejadian yang populer disebut “skandal ayat tembakau” itu menguap begitu saja tak diteruskan penyelidikannya oleh polisi.

Pengelompokkan ini semangat dari pengendalian tembakau. Sebagai barang adiktif, distribusi rokok harus diatur secara ketat. Iklan, bungkus, tempat, dan batasan-batasan lain yang mengatur bagaimana rokok tak sampai ke tangan anak-anak. Negara-negara lain sudah melakukannya sejak lama. Di Jepang dan kota metropolitan lain, orang merokok di luar gedung dan anak di bawah 18 tahun tak bisa membelinya di warung.

Selain cerita bagaimana pengendalian tembakau di Indonesia dan dunia, buku ini juga siap dengan statistik. Angka-angka diguar untuk menopang argumentasi bagaimana siasat itu dibangun industri rokok. Misalnya, muncul isu bahwa pengendalian akan mematikan industri dan petani tembakau, karena itu rokok berfaedah pada pendapatan negara.

Dari sejumlah statistik yang dikutip dari penelitian lembaga lain dan liputan langsung ke lapangan, petani bukan mata rantai yang paling diuntungkan oleh industri. Tapi tengkulak. Petani hanya mendapat sepersekian persen dari keuntungan raksasa industri rokok. Sebab, faktanya, orang terkaya di Indonesia berasal dari industri ini: Djarum, Sampoerna, Gudang Garam, Bentoel…

Buku ini mengajak kita merenungkan bagaimana rokok menjadi bagian permainan politik tingkat tinggi dengan siasat-siasatnya mengambil hak sehat setiap orang.

Judul: A Giant Pack of Lies, Bongkah Raksasa Kebohongan
Penulis : Mardiyah Chamim, dkk
Edisi : Desember 2011
Penerbit : Koji Communications
Tebal : 250 halaman

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*