fellowship pengendalian tembakau

Fellowship Pengendalian Tembakau

Indonesia sampai saat ini masih ragu menandatangani Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) . Padahal bila Indonesia tidak segera meratifikasi kerangka itu maka diperkirakan epidemi tembakau dunia akan terkonsentrasi di Indonesia. Indonesia akan menanggung beban biaya ekonomi dan kesehatan yang tinggi akibat dampak buruk rokok.

Indonesia juga mendapat julukan sebagai negara tempat baby smoker berada, akibat banyaknya perokok anak. Salah satu analisa atas banyaknya perokok pemula adalah serbuan iklan rokok yang ditujukan kepada kelompok usia ini. Lentera Anak Indonesia menemukan buktinya lewat riset di ratusan sekolah di Jakarta, iklan rokok bertebaran di seputar lingkungan sekolah.

Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau dari WHO mendorong pemerintah negara yang mengaksesinya menggunakan sejumlah langkah untuk mengatasi masalah semacam ini. Kerangka FCTC meliputi; (1) Peningkatan pajak cukai tembakau; (2) Pelarangan iklan rokok; (3) Penerapan kawasan tanpa rokok yang komprehensif; (4) Peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok; (5) Membantu orang yang ingin berhenti merokok; (6) Pendidikan masyarakat. Tujuan utama FCTC adalah untuk memastikan negara yang menandatanganinya memiliki kerangka acuan dalam mengendalikan tembakau untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Tidak mengandung unsur-unsur yang selama ini menjadi alasan menolak FCTC seperti untuk mematikan industry, mematikan usaha petani tembakau dan sebagainya.

Fellowship ini mengajak jurnalis menulis tentang unsur-unsur dalam Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau dan mengapa itu perlu diterapkan di Indonesia.

Untuk keterangan selengkapnya klik link dibawah ini :

http://portalkbr.com/off_air/11-2015/fellowship_pengendalian_tembakau/77438.html

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*