110705_824752_ibu_dan_bayi

Anak-anak: Korban Rokok Sesungguhnya

Anak-anak Indonesia paling rentan terkena risiko akibat longgarnya aturan merokok. Dan mereka korban sesungguhnya akibat pemerintah yang lembek menegakkan aturan pengendalian tembakau.

Anak-anak belum paham apa asap rokok dan akibat-akibatnya. Dalam pikiran mereka yang masih murni, mereka tak bisa mencerna mengapa orang-orang dewasa merokok. Anak-anak adalah dunia yang masih polos. Jika sejak kecil ia akrab dengan asap rokok dan melihat kegiatan merokok sebagai sesuatu yang rutin mereka akan menganggap kegiatan itu sesuatu yang biasa saja, seperti ia melihat orang lain makan dan minum.

Mereka juga tak berdaya sedang diracuni oleh orang-orang tua mereka yang sedang merokok. Dengan sifat penirunya yang sangat besar dan kecenderungan ingin tahu yang tinggi, anak-anak akan memahami bahwa merokok sesuatu yang lumrah dilakukan orang dewasa. Atau mungkin ia juga ingin melakukannya. Itulah yang terjadi pada anak-anak yang sudah mencandu rokok di usia dini.

Bau asap rokok di rumah, bau tembakau dan residu nikotin yang melekat pada tubuh dan pakaian ayah dan ibu mereka akan membentuk formulasi bau di otak dan pikirannya. Bau itu akan mengendap di bawah sadarnya sebagai sesuatu yang niscaya ia anggap wajar. Dari situlah kecanduan anak dan kenangannya akan residu itu tertanam hingga ia dewasa. Para perokok biasanya mereka yang akrab dengan asap tembakau sejak dalam kandungan.

Karena itu bahaya juga mengintai. Berapa banyak anak-anak yang bernasib tragis karena mengidap kanker paru-paru sejak dini? Para orang tua, yang sadar akan bahaya rokok tapi terus menghisapnya, biasanya berdalih tak merokok di dekat anak-anak dan tak menghisap tembakau di rumah. Mereka lupa, asap rokok menempel di baju, pori-pori kulit, rongga mulut, dan mengendap dalam darah. Sisa-sisa asap itulah yang akan terhisap oleh anak-anak mereka ketika memeluk, mencium, dan menggendongnya.

Para perokok biasanya pembohong ulung. Mereka tak mengakui jumlah batang yang telah dihisapnya. Candu mengelabui otaknya hingga pikirannya sendiri termanipulasi. Para perokok biasanya menyombongkan diri karena masih tahan marathon, masih kuat bermain futsal, atau cukup punya tenaga bersepeda gunung, tanpa ada masalah di jantung dan paru-parunya. Mereka lupa bahwa segala olah tubuh itu hanya persoalan latihan saja. Anda akan tetap kuat main futsal satu jam tanpa berhenti, dan setelahnya merokok dua bungkus, jika main bola itu rutin dilakukan. Risko stroke dan serangan jantung tetap mengintai karena asap rokok menciptakan kerak dan mengeraskan pembuluh darah.

Para perokok, dengan asapnya yang menyebar dan terbawa udara ke mana suka, adalah para pemain iklan sesungguhnya. Mereka tak sedang promosi tapi kegiatannya merangsang orang lain meniru apa yang dilakukannya. Ditambah lagi iklan rokok yang mengesankan kejantanan, sprotivitas, kekompakkan dan nilai-nilai luhur persahabatan, kian membujuk yang belum merokok mencobanya. Terutama pada anak-anak.

Anak-anak Indonesia adalah mereka yang paling merugi dalam urusan menghindari asap rokok. Mereka tak berdaya dan kuasa menolak karena digempur persuasi perokok di sekelilingnya yang bebas dan tak terancam hukuman jika merokok di dekat anak-anak plus iklan yang bebas mereka lihat di pelbagai media setiap waktu. Inilah promosi paling sempurna dari pemasaran rokok dibanding dengan teknik marketing paling canggih sekalipun.

Karena itulah gerakan pengendalian tembakau sesungguhnya adalah melindungi hak non perokok, terutama anak-anak, agar tak terpapar asap rokok. Melindungi mindset mereka akan hak sehat tanpa asap rokok. Biarlah mereka menentukan sendiri pilihannya kelak jika ingin merokok atau tak merokok seumur hidup. Namun, jangan cekoki mereka sejak dini dengan asap rokok yang mendorong mereka membangun dinding kemakluman dalam pikiran mereka terhadap rokok.

Maka sebelum terlambat, sebelum anak-anak kita menjadi korban asap rokok kita sendiri, stop merokok di depan mereka. Kitalah, orang dewasa, yang harus berinisatif menjauh dari mereka selama menjadi perokok. Momennya bisa dimulai pada 31 Mei besok, pada peringatan hari tanpa tembakau sedunia. Selamat mencoba!

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*