Bebas Rokok di Bone-bone

Majalah Tempo edisi 16 Desember 2012 menurunkan liputan khusus “Kepala Daerah Pilihan”. Salah satu yang terpilih adalah Bupati Enrekang, Sulawesi Selatan, La Tinro La Tunrung. Cerita tentang Enrekang dan La Tinro menyinggung juga kisah Desa Bone-bone, terutama kepala desanya, Pak Idris, yang berhasil menghentikan kebiasaan warganya merokok. Dampaknya, tak ada anak yang tak sekolah di desa yang terletak di lereng Gunung Latimojong yang sulit infrastruktur ini. Inspiratif…

——————-

 

Liputan Tempo tentang Bone-bone

Liputan Tempo tentang Bone-bone

 

KETIKA para pejabat Kabupaten Enrekang me­ninggalkan Desa Bone-Bone di kaki Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan, beberapa anak menemui Kepala Desa Idris, menyerahkan lima puntung rokok. Sejak 2000, merokok haram di desa berjarak 100 kilometer dari pusat kabupaten di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut itu.

Idris tercenung. Para pejabat itu datang ke desanya, awal Juli lalu, untuk berceramah tentang pentingnya menjauhi rokok. Bone-Bone masuk nominasi desa terbaik tingkat nasional karena punya aturan tentang larangan merokok dan makanan berpewarna serta kewajiban menanam sepuluh pohon bagi yang akan menikah. Idris memutar nomor seluler Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung.

Ia menceritakan temuan puntung dari kolong sebuah rumah panggung. “Bagaimana mau membina warga desa menjauhi rokok kalau bapak-bapak ini merokok?” kata Idris. “Begitu? Biar nanti saya bereskan,” jawab La Tinro. Ia memanggil semua kepala dinas dan pejabat yang baru tiba dari Bone-Bone itu ke ruang kerjanya.

La Tinro meminta mereka jujur: siapa saja yang merokok di Bone-Bone? Ada tiga yang mengaku dengan alasan tak kuat dingin. “Kalau begitu, bayar dendanya dan kembali ke sana meminta maaf,” ujarnya. Dalam peraturan desa yang dibuat Idris, yang merokok di Bone-Bone didenda Rp 100 ribu atau dua hari kerja sosial: membersihkan got dan jalan serta mengepel masjid.

Karena mereka pejabat, La Tinro menetapkan denda minimal Rp 500 ribu. Idris menerima Rp 1,5 juta dan jalan beton sepanjang 30 meter dari seorang kepala dinas. “Mereka juga datang ke sini meminta maaf di depan semua warga desa,” kata Idris pekan lalu.

Kebijakan bebas asap rokok dimulai pada 2000, ketika Idris diangkat jadi kepala dusun. Tapi keinginan itu sudah ada sejak 1986, ketika ia baru masuk Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Alauddin Makassar—sepuluh jam perjalanan dari desanya. Dari lima mahasiswa asal Bone-Bone, tiga berhenti kuliah di tahun kedua. “Semuanya perokok,” katanya.

Peringatan kesehatan di Desa Bone Bone, Enrekang, Sulawesi Selatan (Dok. Kompak)

Peringatan kesehatan di Desa Bone Bone, Enrekang, Sulawesi Selatan (Dok. Kompak)

Pulang ke Bone-Bone, pada 1991, setelah empat kali gagal tes pegawai negeri sipil di Makassar, Idris mendapati dusunnya kian terpuruk. Anak-anak kian banyak yang tak lulus sekolah dasar. Mereka ke kebun menggembalakan kerbau atau sapi—sambil merokok. Padahal orang-orang tua mereka beralasan tak punya uang untuk membayar sekolah.

Sebermula, Idris mendatangi warung yang menjual rokok. Ia mengadu hitung untung-rugi menjual rokok dengan pemiliknya. Ternyata, jualan tembakau malah rugi karena untung yang sedikit habis diisap penjualnya, yang rata-rata merokok juga. Mereka yang sadar dengan perhitungan itu tak menyertakan rokok dalam daftar belanja esoknya.

Tapi protes tak berhenti. Pekerjaan utama sekitar 200 kepala keluarga Bone-Bone adalah bertani kopi. Menurut mereka, tak afdal menghidu kopi tanpa rokok, atau tak bisa berkonsentrasi kerja tanpa asap. “Ah, yang tak merokok tetap bisa bekerja, tuh,” kata Idris. Warga desa kehabisan akal menentang peraturan kepala dusun ini. Mereka tak lagi merokok, bahkan dalam sembunyi sekalipun.

Pernah Idris mencium asap dari sebuah rumah. Ia mendatangi dan meminta tetangganya itu mematuhi ketentuan denda dan kerja sosial. “Dia memilih minta maaf di masjid dan kerja sosial,” ujarnya. Itulah satu-satunya pelanggaran yang tercatat dilakukan warga Bone-Bone.

Mereka sangat menghormati Idris karena dampak berhenti merokok langsung terasa. Orang-orang tua “ahli isap” yang tak sanggup menyekolahkan anaknya kini punya uang untuk membayar dan membeli perlengkapan sekolah. Maka, ketika Bone-Bone menjadi desa pada 2007, Idris terpilih menjadi kepalanya.

Setahun kemudian, ia menuangkan larangan itu dalam peraturan desa. Idris mengancam mundur dari jabatan bergaji Rp 1 juta itu jika ada satu saja warganya yang merokok. Bupati La Tinro mendukungnya. Ia, yang merokok dua bungkus sehari, berhenti ngebul setelah menengok Bone-Bone tiga tahun lalu. La Tinro mengadopsi larangan itu di kantornya melalui peraturan yang ditekennya pekan lalu. Kini tiga desa lain mengikuti Bone-Bone, desa teladan tingkat nasional 2012.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*