270653_petani-tembakau-membawa-hasil-panen_663_382

Benarkah FCTC Membunuh Petani Tembakau?

Agaknya petani tembakau dijadikan tameng terakhir oleh industri rokok untuk menolak Framework Convention on Tobacco Control. Setiap kali ada wacana tentang ratifikasi aturan internasional pengendalian produk tembakau, para pembela industri rokok buru-buru mengingatkan agar pemerintah memperhatikan petani. Ratifikasi FCTC, kata mereka, akan menyengsarakan, menghapus, bahkan membunuh petani dan pertanian tembakau Indonesia.

Para ahli hukum ternama yang membela bisnis industri rokok itu memberi pernyataan tentang matinya petani tembakau jika FCTC diratifikasi tanpa menyebut pasal mana dalam traktat itu yang menunjukkan “pembunuhan” terhadap petani. Mereka hanya terus menerus menyebutkan “pokoknya ratifikasi FCTC membunuh petani dan mematikan pertanian tembakau.” Pasal yang mana? Tak jelas!

Faktanya, tak satupun dari 38 pasal dalam FCTC itu yang menggariskan pembunuhan terhadap petani tembakau. Bahkan frasa “petani tembakau” hanya disebut empat kali, yakni di pasal 4 ayat 6, pasal 17, pasal 22 ayat 1b poin iii, dan Lampiran 2 tentang Riwayat FCTC. Dari semua pasal yang menyebut frasa itu tak satupun yang menyebut bahwa pertanian tembakau harus dihapus.

Yang terjadi justru sebaliknya. FCTC adalah konvensi internasional yang mendorong negara-negara yang meratifikasinya untuk mengendalikan konsumsi, distribusi, dan produksi tembakau. Untuk apa? Melindungi hak sehat publik yang menjadi tugas dan tanggung jawab negara. Mengapa perlu FCTC? Karena penyakit akibat rokok telah menjadi epidemi global yang menjadi masalah seragam dan serius hari ini. Di Indonesia saja 200 ribu nyawa melayang setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan racun nikotin.

Isi FCTC menyangkut kerjasama internasional antara negara peratifikasi dalam menangkal penyelundupan rokok, pengendalian melalui cukai, dan alternatif-alternatif solusi yang mungkin terjadi sebagai dampak penerapan FCTC. Nah, di sinilah seringkali disalahpahami. Salah satu alternatif itu adalah kewajiban negara membantu dalam hal pendanaan jika petani tembakau hendak membuat tanaman lain yang menguntungkan. Tak ada pemaksaan, itu pun jika petani menginginkan menanami kebunnya dengan komoditas lain.

Para pembela industri rokok sering memelintir kata diversifikasi ini seolah-olah akan memaksa petani tak menanam tembakau. Justru FCTC, seperti terlihat di Pasal 4, mendorong negara melindungi petani dan pertanian tembakau karena tanaman ini tak melulu bisa dipakai untuk bahan baku rokok. Penemuan teknologi dan ilmu pengetahuan memungkinkan tembakau dijadikan banyak produk berguna ketimbang rokok, seperti pembuatan vaksin atau bahan dasar obat untuk jenis penyakit tertentu.

Dengan penguatan teknologi alternatif itulah FCTC juga yang memproteksi kepentingan dalam negeri setiap negara peratifikasi dari serbuan tembakau impor. Para pembela industri rokok lagi-lagi memelintir bahwa FCTC akan kian membuka keran tembakau dari luar negeri, tanpa menyebutkan pasal mana yang berkaitan dengan itu. FCTC malah menutup kran itu akan daun tembakau didorong untuk dimanfaatkan di dalam negeri dengan pelbagai diverifikasi produknya.

Dengan poin-poin seperti di atas, nyatalah, bahwa tengah terjadi penyesatan informasi kepada masyarakat untuk kepentingan bisnis rokok. Di Indonesia, menolak FCTC atas nama petani tembakau memang lebih efektif karena beberapa sebab.

Pertama, FCTC produk WHO yang segera dicap sebagai produk asing. Kedua, dengan menghadapkan bahwa FCTC membunuh petani akan meraih simpati bahwa aturan ini tak prorakyat. Ketiga, mengarahkan FCTC vis a vis dengan petani membuat masyarakat lupa bahwa FCTC bertujuan melindungi kesehatan masyarakat. Keempat, jurus ini dipakai karena menghadapkan FCTC dengan terganggunya bisnis rokok sangat tidak populer.

Fakta yang sudah ada di negara peratifikasi adalah prevalensi perokok turun dratis tapi produksi tembakau naik dua kali lipat. Itu yang terjadi di Turki dan Uruguay. Jumlah perokok di dua negara itu rata-rata turun 10 persen dan produk tembakaunya naik dari 2.200 ton menjadi 3.600 ton pada tahun ini. Untuk apa produksi naik itu? Selain ekspor untuk banyak produk turunan selain rokok, juga tetap diserap pabrik rokok karena pecandu lama tak juga kapok dan insyaf.

Karena itu kini tak hanya “saatnya melek bahaya rokok” juga “saatnya melek siasat industri rokok” yang memakai segala cara untuk melanggengkan bisnis racun pembunuh Indonesia.

Unduh FCTC >> http://www.kompak.co/kerangka-kerja-pengendalian-tembakau/

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*