merokok-dapat-memicu-kebutaan_03d23

Cukai Rokok 1.000%

Ada yang aneh dari kekhawatiran Kementerian Perindustrian soal rencana menaikkan cukai menjadi 10,2 persen oleh Kementerian Keuangan tahun depan. Seperti diungkapkan Direktur Makanan dan Tembakau Achmad Faiz bahwa kenaikan cukai rokok akan berakibat pada maraknya rokok ilegal dan rokok tanpa cukai. Kekhawatiran yang berlebihan jika dilihat dari sifat rokok yang inelastis.

Kekhawatiran ini seolah benar karena mendasarkan pada tertekannya industri rokok akibat tak bisa membayar cukai yang melonjak itu. Kekhawatiran yang tak menimbang sisi sebelahnya dalam bejana ekonomi tentang kenaikan harga yang akan dikejar oleh para perokok yang kadung terkena candu. Dengan cukai yang naik, produsen akan terdorong menaikkan harga eceran rokok karena tentu mereka tak mau rugi. Dengan sifatnya yang inelastis itu, plus candu yang mencengkeram penghisapnya, kenaikan harga rokok tak terlalu berpengaruh pada permintaan.

Studi-studi akademis telah menunjukkan bahwa perokok akan mengejar berapapun harga yang dipatok industri rokok. Dan fakta menunjukkan jumlah perokok telah naik 2 kali lipat selama satu dekade. Jika sepuluh tahun lalu harga Sampoerna Mild hanya Rp 5.000 per bungkus, toh jumlah penghisapnya malah naik kendati harganya kini sudah Rp 15.000. Kenaikan itu karena tumbuhnya pencandu baru sementara pencadu lama tak juga insyaf.

Karena itu agak berlebihan kekhawatiran Achmad Faiz itu. Di manapun, cukai adalah salah satu instrumen menambah pendapatan negara sekaligus pengendalian konsumsi produk tembakau yang efektif. Semestinya Achmad Faiz mengkhawatirkan konsumen rokok dari kalangan orang miskin yang akan tertekan jika cukai naik. Pilihan mereka cuma dua: berhenti merokok atau kantong jebol. Bahkan pilihan lebih ekstrem: berhenti atau mati.

Industri rokok selamanya tak akan tertekan dengan kenaikan cukai. Sebagai bisnis, mereka akan senantiasa mencari keseimbangan baru agar produksi mereka tak terganggu sekaligus tetap menguntungkan. Pada konsumen, jika ekonomi tak membaik yang menyebabkan penghasilan mereka stagnan, pendapatan rumah tangga akan kian tergerus akibat harga yang naik. Akibatnya, jumlah orang miskin akan bertambah.

Di saat itulah kebijakan menaikkan cukai sungguh tepat untuk mengingatkan secara tak langsung kepada konsumennya bahwa merokok sama sekali tak ada faedahnya. Kantong jebol dan risiko penyakit yang mungkin diderita. Upaya bagus ini ditopang pula oleh kebijakan lain seperti tak ditanggungnya biaya perawatan gratis dari pemerintah untuk penyakit-penyakit akibat rokok. Bahkan pegawai negeri yang merokok terancam tak mendapatkan fasilitas kesehatan ini.

Kebijakan-kebijakan yang baik ini tak seyogyanya direcoki oleh kekhawatiran yang dimunculkan kementerian lain dengan landasan logika yang tak berdasar. Industri tak perlu dikhawatirkan karena mereka akan mencari celahnya sendiri agar tak bangkrut. Cukai adalah instrument fiscal yang melekat pada harga sehingga cukai sesungguhnya dibayar oleh konsumen, bukan oleh pabrik rokok.

Di negara-negara yang telah maju, yang pemerintahnya sadar kesehatan publik jauh lebih penting, cukai dipakai dengan tujuan pengendalian konsumsi tembakau. Uangnya dipakai untuk kampanye kesehatan dan bahaya rokok oleh pemerintah, tarif cukainya sebagai sarana menghentikan kebiasaan buruk menyedot racun dan meracuni orang sekelilingnya itu. Maka harga rokok sangat mahal sehingga tak terjangkau kalangan miskin. Setiap orang akan berpikir dua kali tiap akan merokok karena membayangkan sedang membakar duit yang susah payah mereka cari.

Cukai yang rendah malah justru membuka kran seluas-luasnya bagi impor rokok menguasai pasar Indonesia, seperti dikhawatirkan Achmad Faiz itu. Dan faktanya kini sudah terjadi seperti itu. Dengan rokok impor membanjir, produsen rokok lokal yang akan tertekan karena persaingan semakin keras. Dus, cukai rendah menyebabkan harga murah sehingga setiap orang bisa membelinya. Jumlah penduduk yang merokok akan bertambah, beban anggaran negara akan naik akibat biaya perawatan penyakit akibat rokok akan naik, dan Indonesia terancam kehilangan generasi produktifnya.

Maka Menteri Keuangan sebaiknya tak menggubris suara-suara yang mengkhawatirkan dampak kenaikan cukai rokok. Meski masih dengan mindset menambah penadapatan negara, bukan aspek kesehatan, kenaikan cukai patut diapresiasi karena berdampak pada meningkatnya kualitas masyarakat sekaligus perlindungan kesehatan masyarakat dari bahaya racun asap rokok yang menjadi tugas konstitusi organisasi bernama negara. Jika perlu tak hanya 10 persen, naikkan cukai 1.000 persen!

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*