rokok_1

Efek Peringatan Bergambar dan Siasat Pabrik Rokok

Ini survei kecil-kecilan di kalangan teman dekat: mereka yang masih merokok ternyata jeri juga dengan gambar seram di bungkus rokok. Meski terlalu kecil dibanding bungkus rokok, tak terlalu mencolok, dan gambar-gambar kanker terlalu zoom-in, para perokok paham bahwa itulah akibat nyata jika terus merokok. Enam dari sepuluh orang yang ditanya soal gambar itu mengatakan geli atau jijik atau jadi sebel setiap membeli rokok. Ada juga yang melakban gambar itu agar tak terlihat tiap kali hendak merokok.

Para penjaga toko rokok juga bersaksi mereka kerap ditanya hal serupa oleh pembeli adakah pilihan bungkus rokok yang belum dicap peringatan bahaya nikotin itu. Tentu saja tak ada. Pemerintah mewajibkan semua produsen rokok memasang gambar itu per 24 Juni 2014. Jika di awal-awal pemberlakuan aturan itu masih ada bungkus rokok yang belum memenuhi aturan itu karean stok lama, belum terjual, atau tak ditarik oleh pabriknya. Setelah satu bulan, tentu bungkus-bungkus rokok yang tak bergambar sudah langka.

Fakta ini menunjukkan bahwa peringatan bergambar memang cukup efektif menyadarkan publik akan bahaya laten racun nikotin. Ada lima variasi gambar yang menggambar dampak buruk asap rokok itu, termasuk kepada mereka yang menjadi perokok pasif, seperti anak-anak yang sedang digendong ayah yang mulutnya sedang mengepulkan asap rokok. Memang belum ada laporan resmi seberapa jauh pengaruh itu menekan jumlah perokok. Karena bukan itu tujuan utama pencantuman gambar dampak merokok itu.

Paling pokok dari aturan yang diturunkan dari Undang-Undang Kesehatan itu adalah memberikan informasi yang benar terhadap publik akan bahaya rokok. Jika kemudian jumlah perokok turun, para perokok insyaf lalu menjauhinya, itu akibat sampingan sebagai output terakhir. Tugas pemerintah dan dijalankan oleh industri adalah membuat bisnis menjadi fair, memberikan informasi yang benar bahwa produk adiktif yang harusnya tak dijual bebas itu membahayakan tak sekadar bagi perokok tapi bagi publik secara luas. Rokok nyata-nyata mengancam kesehatan publik, hak paling hakiki yang dijamin konstitusi.

Industri tetap saja institusi bisnis yang mengikuti naluri dagang dan mencitrakan produknya bermanfaat dengan menghindari sebisa mungkin citra buruk yang disandangnya. Sebelum aturan itu meluas dan semua rokok tak bergambar habis, pabrik rokok mempromosikan kemasan baru berupa kotak rokok yang bisa diisi ulang. Maka para perokok bisa menghindari gambar menyebalkan yang bikin jijik di bungkus rokok dengan memindahkan isinya ke kotak isi ulang itu.

Ini agaknya yang tak terakomodasi dalam peraturan menteri kesehatan itu. Industri rokok mensiasati aturan tersebut dengan kotak yang tak diatur. Kotak rokok tentu beda dengan bungkus rokok, terminologi yang bisa diperdebatkan secara hukum, meskipun terdengar konyol. Tapi, apa sih yang tak konyol dalam urusan rokok? Ini barang adiktif yang dilegalkan negara dan masih diizinkan dijual bebas tanpa penegakkan aturan yang tegas.

Aturan tersebut mungkin perlu direvisi, tapi tujuan baiknya jelas tak boleh luntur. Kini saatnya publik paham bahaya rokok, dan industri kian dewasa membuat produk yang membahayakan kesehatan publik. Hanya dengan sikap fair itu bisnis dan kepentingan publik bisa berjalan berdampingan tanpa saling merugikan. Pemerintah, sebagai lembaga penjaga dan pelaksana konstitusi, mesti menjadi wasit yang harusnya berpihak pada kepentingan yang lebih besar, yakni publik, dalam membuat kebijakan.

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • dhekthree
    6 August 2014 at 14:37 - Reply

    Yap..ada teman dari medancerita kalo disana lagi pada pake kotak buat naruh rokok,setelah beli..isinya dipindahkan ke kotak.
    Ada juga yang dari Jombang Jatim, dia menemukan ada remaja yg membuang gambar pada bungkus rokok pakai pisau. Ya, walaupun banyak juga yg berkilah kalo gambar itu gak ngefek..

    • Antis Leira
      6 August 2014 at 18:18 - Reply

      terimakasih infonya :)