filter rokok
filter rokok

Filter Nano Rokok: Fakta Atau Mitos

Seorang ilmuwan nano teknologi dari UB, prof. Bambang Sutiman, membuat temuan yang mengklaim bahwa filter buatannya mampu menyaring partikel kimia jahat tembakau yang dibakar. Temuan ini yg disebut Divine Filter – jika benar terbukti – tentu saja akan sangat spektakuler, bahkan revolusioner. Walaupun belum bisa menangkal bahaya asap rokok yang dihasilkan oleh ujung rokok yang dibakar, tapi berdasar klaimnya, asap rokok yang dihisap melalui filter ini akan berkurang kandungan zat-zat berbahayanya.

Saya bukan mau meremehkan hasil kerja dan penelitiannya, tapi karena ada seseorang yang mendaku sebagai budayawan dan kawan-kawannya yang selalu mengagung-agungkan dan mengelu-elukan temuan ini sebagai bukti keunggulan tanaman tembakau, dalam konteks mendukung keberadaan industri rokok yang menjadi penyokong mereka. Tentu saja harus dibedakan antara tanaman tembakau itu sendiri dan rokok sebagai salah satu produk turunan yang dihasilkan, serta teknologi nano temuan prof Sutiman ini.

Ada cukup banyak pertanyaan terkait klaim tersebut. Jika memang nano filter itu seperti yang digembar-gemborkan kalangan pro industri rokok, lalu apa yang mencegah mereka mengimplementasikan filter ini untuk menggantikan filter pada semua jenis rokok kretek/putih yang mereka produksi? Apakah mereka sendiri dan gerombolan pendukungnya meragukan kemampuan filter nano ini? Sudah lolos BPOM kah? Siapa yang pertama kali akan mengimplementasikan filter nano ini di antara klub pendawa lima ini: Djarum, GG, Bentoel, Sampoerna atau Wismilak? Maukah anggota komunitas kretek menerima kehormatan untuk menjadi kelinci percobaan untuk mengetahui efek samping penggunaan filter nano secara terus-menerus? Jika gagal, maukah industri rokok menanggung biaya akibat penggunaan filter nano, atau mereka lepas tangan seperti selama ini terjadi? Pertanyaan-pertanyaan di atas belum termasuk pertanyaan untuk pembuktian empiris melalui jurnal ilmiah dan uji publik lho ya. Adakah ilmuwan atau lembaga ilmiah lain setuju dengan hasil penelitian ini? Siapa yang mau menyarankan penggunaannya untuk masyarakat luas? Berapa nilai ekonomi bisnis filter ini, apakah paten temuan ini akan dikuasai oleh asing atau lokal, dsb.

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak ada jawabannya, maka sekali lagi, klaim filter nano ini ya cuma sekedar klaim saja tapi gagal implementasi. Artinya, bukti yang diperoleh di laboratorium tidak cukup meyakinkan untuk bisa diimplementasikan kepada masyarakat luas. Padahal tesis yang baik itu adalah tesis yang selesai, penelitian yang baik adalah penelitian yang ada hasilnya. Artinya apa? Itu karena ada resiko-resiko yang kalangan industri rokok sendiri takut dan tidak berani menanggungnya. Wong dengan filter yang sekarang aja mereka bisa mengeruk laba triliunan, ngapain musti repot-repot pasang filter nano? Ngapain musti nambah biaya produksi? Ngapain musti mbayar royalti atau hak paten kepada Prof. Sutiman? Ngapain musti ngeluarin biaya untuk ngiklan kebaikan filter nano vs e-cigarette dst? Jangan-jangan implementasi filter nano bisa berbuah gugatan milyaran dari masyarakat yang merasa tertipu karena produknya cacat. Siapa yang berani menjamin ini? Si profesor Bambang Sutiman atau industri rokok?

Kalo gak bisa njawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ya kampret semualah itu …

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*