1402555shutterstock-140876200780x390

Hukum Rokok Elektrik

Makin gencarnya kampanye bahaya rokok kian membuat orang sadar bahwa produk tembakau ini tak hanya merusak penghisapnya tapi juga orang sekelilingnya. Menjadi perokok pasif bahkan mengakibatkan gejalan di luar penyakit pokok akibat racun nikotin, yakni kanker yang berhubungan dengan organ pernapasan .

Sebuah studi di Brigham Young University di Utah, Amerika Serikat, baru-baru ini menyebutkan bahwa orang yang terkena paparan asap rokok berpotensi mengalami kegemukan. Soalnya, mereka yang terpapar asap rokok akan mengalami gangguan pada metabolisme tubuhnya yang menghambat proses penyerapan makanan dan minuman. Ibaratnya, para perokok pasif ini tak makan nangka kena getahnya.

Para perokok tembakau pun mengalihkannya ke rokok elektrik. Kini tren pemakaian rokok elektrik kian meluas, meski belum ada iklannya. Ini memang menunjukkan bahwa produk rokok apapun akan cepat tersebar karena para perokok sudah terkena candu. Dan ada pemahaman yang keliru bahwa rokok elektrik bisa mengganti rokok tembakau dengan risiko yang lebih ringan. Bahkan para perokok tembakau memakai rokok elektrik sebagai terapi dan jalan pintas menghentikan kebiasaan merokok. Di Jakarta bahkan ada komunitas rokok elektrik yang anggotanya menganggap produk ini lebih sehat. Benarkah?

Organisasi Kesehatan Dunia sudah menghimbau negara-negara yang melegalkan rokok elektrik untuk melarang penjualan jenis rokok ini karena bahaya yang ditimbulkannya tak jauh berbeda dengan bahaya rokok tembakau. Rokok elektrik, kendati bahan bakunya berasal dari air, pembakarannya tetap menghasilkan asap yang mengandung nikotin, propylene glycol, dan diethylene glycol yang bisa menyebabkan iritasi.

Ingat kisah gitaris grup musik rock Gun N Roses, D.J Ashba, yang dilarikan ke rumah sakit setelah menghisap rokok elektrik pada Juni 2013? Hampir saja nyawanya melayang jika dokter tak sigap menolongnya karena paru-parunya dipenuhi racun nikotin yang kadarnya 33 kali yang terkandung dalam rokok tembakau. Menurut dokter yang merawatnya, Ashba seperti merokok 33 bungkus dalam sekali hisap ketika ia merokok elektrik. Seperti para pengguna rokok elektrik, Ashba menghisapnya untuk menghentikan kebiasaan merokok tembakau. Pilihan yang keliru.

Bagaimana pun rokok elektrik tetap menghasilkan asap yang jika dihirup paru-paru tetap akan melukai dan menebalkan dinding-dindingnya. Benda asing terkandung dalam asap itu akan menyebabkan kanker dan menyumbat kerja organ dalam yang sensitif ini.

Masalahnya, belum ada aturan tentang rokok elektrik ini. Di dunia bahkan belum ada standar kandungan cairan yang menjadi bahan baku rokok elektrik. Ketiadaan standar ini membuat produsen setiap merk rokok elektrik bebas memasukkan zat apapun ke dalamnya. Seperti yang dialami Ashba, kandungan tar dan nikotin rokok elektrik yang dihisapnya ternyata over dosis. Juga belum ada aturan pengendaliannya.

Di banyak negara yang konsen dengan pengendalian rokok, sigap mengeluarkan aturan yang melarang rokok elektrik dengan menerbitkan aturan khusus. Di Indonesia, sejak Undang-Undang Kesehatan hingga peraturan menteri kesehatan belum memasukkan rokok elektrik ke dalam barang yang harus diawasi dan dikendalikan. Aturan-aturan kita masih sebatas mengatur rokok yang berasal dari tembakau.

Jika dibiarkan, rokok elektrik akan kian diyakini sebagai alternatif bagi para pecandu nikotin. Apalagi pemasarannya yang kian masif dan digemari oleh anak-anak muda. Kementerian Kesehatan mesti tanggap pada fenomena ini. Sekarang jika seseorang merokok elektrik di wilayah publik, ia tak terkena larangan karena aturannya hanya membatasi asap dari rokok tembakau.

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • kiki
    17 November 2014 at 19:53 - Reply

    saya malah menduga rokok elektrik mulai diminati(atau dilihat peluangnya) setelah pemberlakuan peraturan wajib mencantumkan peringatan bergambar pada bungkus rokok. entah hanya karena enggan melihat kemasan ataupun memang karena ingn berhenti merokok dan termakan klaim rokok elektrik dapat menghentikan merokok. bagaimana barang seperti ini dapat masuk ke indonesia dengan bebas? kita berharap segera ada peraturan kemenkes aar rokok elekrltrik tidak dikecualikan dalam peraturan tentang rokok. dan kalay mau kosisten, harusnya pada setiap batang rokok elektrik yang betedar harus tercetak juga gambar peringatan kesehatan

    • Antis Leira
      20 November 2014 at 02:09 - Reply

      Setuju, kiki. Masalahnya itu tadi, peraturan kita tak mencakup rokok elektrik. Kebijakannya hanya mengatur rokok produk tembakau. Semoga pemerintah segera menutup celah ini.