Laporan Monitoring “Serangan Iklan Rokok di Sekitar Sekolah”
Laporan Monitoring “Serangan Iklan Rokok di Sekitar Sekolah”

IKLAN ROKOK: RANGKAIAN KEBOHONGAN YANG MENARGET ANAK & REMAJA

Iklan memang dibuat untuk mempersuasi siapa pun yang melihat untuk membeli dan mencoba produk. Dan iklan memang sudah pasti harus dibuat semenarik dan se-catchy mungkin. Kalau tidak, siapa yang tertarik dan membeli produk?

Sebagai contoh, saya tidak akan pernah lupa pada iklan rokok yang pernah terbentang di billboard-billboard besar yang menampilkan sepasang sejoli bergelendotan seolah lengket dilem, dan… Parahnya, seolah tak cukup vulgar, tagline-nya pun “Mula-mula Malu, Lama-lama MAU.” Saya tidak hiperbolis dengan menekankan kata ‘mau’ karena memang di billboard itu, kata ‘mau’ memang ditampilkan lebih besar daripada kata lainnya. Tambahkan lagi dengan “Go Ahead” di sisinya. Komplit! Iklan ini dikemas dengan sangat menarik bagi anak dan remaja. Iklan ini tidak ditujukan pada orang dewasa. Ciri khas yang ditampilkan adalah situasi yang banyak ditemukan pada anak remaja saat ini; keragu-raguan atau ‘galau’ bahasa gaulnya.

Untungnya, berkat laporan masyarakat, iklan yang saya bahas di atas segera diturunkan. Tapi sudah berapa anak-anak dan remaja kita yang melihat dan menginterpretasikan iklan itu sekenanya? Dan lihatlah iklan2 rokok yang banyak bertebaran di sekitar sekolah, iklan yang membawakan pesan industri rokok pada remaja dan anak. Iklan yang mengasosiasikan kemewahan, kehebatan dan gaul yang dilekatkan pada merek rokok akan tertanam di otak anak dan remaja yang memang masih rentan dengan pengaruh iklan. Kesan positif terhadap iklan rokok melemahkan segala penyuluhan tentang bahaya rokok itu sendiri.

Siapa sih, dalang di balik iklan itu serta citra yang hendak dibangun melalui iklan tersebut. Industri rokoklah yang ada di belakang semua ini. Industri gurih dengan profit yang membuat pemiliknya berada di jajaran orang terkaya di dunia, akan dengan senang hati menggelontorkan ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk beriklan. Uang tersebut bukan apa2 buat pemilik industry rokok. Apapun akan dilakukan dan dihalalkan demi menciptakan imago bahwa rokok itu membuat pemakainya keren, gaul, macho, sukses. Gak bakal rugi, karena dengan iklan yang dikemas cantik mereka akan menjaring perokok pengganti, mereka menyasar anak remaja untuk gantikan perokok yang sudah mati, berhenti atau sakit-sakitan.

Berkaca dari iklannya saja kita sudah seharunya paham bahwa Industri rokok dengan rangkaian iklannya memang berniat mendobrak apa saja, termasuk menyembunyikan kenyataan bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, atau, saya hendak mengutip pesan cilik di kotak rokok, ‘rokok membunuhmu’. Menyembunyikan bahaya rokok dengan citra-citra hebat, simpatik, nan karismatik, nan macho, dan sukses. Padahal mau dibolak-balik bagaimana pun, logikanya tetap tidak nyambung. Rokok di kotaknya saja ‘ngaku’ bisa membunuh dan diimbuhi dengan aneka foto bagian tubuh yang sakit parah akibat mengkonsumsi rokok. Jadi bagaimana mau macho, sukses, nan karismatik bila tubuh kita digerogoti aneka penyakit seperti yang ada di kotak rokok tadi? Begitulah rangkaian kebohongan kebohongan industri rokok yang dikemas cantik melalui iklan-iklannya yang jelas menargetkan anak remaja.

Masih perlu bukti lagi bahwa pesan industry rokok melalui iklannya menyasar anak remaja? Bagi remaja yang sering melihat atau terpapar iklan rokok, mereka beranggapan bahwa iklan rokok itu keren karena menyajikan atau mengemas iklannya dengan minat remaja umumnya, seperti; di bidang musik, olah raga, dan petualangan dan melihat pria sukses karena hobi jelas representasi keren yang pas untuk remaja. Hal-hal sederhana ini adalah bukti bahwa iklan rokok tidak ditujukan bagi orang dewasa, melainkan remaja.

Ada sejumlah penelitian yang membuktikan analisa saya di atas, antara lainnya; penelitian yang dilakukan oleh Koalisi untuk Indonesia Sehat (dalam factsheet Kemenkes dan WHO 2009) menemukan bahwa 70% remaja memiliki kesan positif tentang iklan rokok. Penelitian lain menunjukkan bahwa 50% remaja perokok merasa dirinya seperti yang dicitrakan iklan rokok dan 46% remaja berpendapat bahwa iklan rokok mempengaruhi untuk mulai merokok (Studi UHAMKA dan Komisi Nasional Perlindungan Anak, 2007).

Saya jelas tidak sudi anak didik dan anak saya dijadikan objek pengganti generasi perokok yang tubuhnya sudah digerogoti penyakit seperti di kotak rokok. Dan saya percaya sekali bila saja rokok diperlakukan sama seperti produk yang mengandung zat adiktif lainnya, seperti narkoba dan minuman keras yang dilarang beriklan, maka kita akan membuat perubahan besar bagi anak dan remaja Indonesia.

Saya sangat berharap masyarakat paham apa yang sedang dilakukan industri rokok kepada anak-anak kita dan kita bias bersatu menolak iklan-iklan tersebut sebelum iklan tersebut memakan anak kita.

Oleh Ike Utaminingtyas  (YPMA-Kidia)

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*