Indonesia: Darurat Rokok

Sumber: Daily Motion

Sumber: Daily Motion

Generasi Indonesia dalam bahaya. Bukan oleh fedofil, bukan pula oleh penculik haus uang, atau keganasan nyamuk dengue yang mengincar setiap saat. Ada ancaman sangat nyata yang siap membokong anak-anak kita dan melumatnya tanpa ampun kapan saja: rokok!

Dalam film pendek Unreported World: Tobacco Indonesia Childrens kita bisa melihat ancaman itu begitu nyata. Jonathan Miller, wartawan untuk Channel 4—sebuah jaringan televisi Inggris—akhir tahun lalu berkunjung ke Indonesia dan membuat film yang membuat siapapun akan miris. Kameranya merekam dengan sangat telak bagaimana anak-anak Indonesia bisa dengan gampang terjerumus ke dalam racun nikotin.

Selama ini kita membaca sederet data dan angka: satu dari empat rumah tangga terdapat perokok yang mengepuli paru-paru penghuni rumah lainnya. Hampir separo anak di Indonesia terpapar asap rokok di rumah, separuhnya lagi di tempat umur, dan 11,4 juta bayi menjadi perokok pasif begitu ia keluar dari rahim ibunya. Data itu bisa kian panjang jika terus dideretkan. Dan Jonathan Miller menyajikan fakta tak terbantahkan melalui gambar-gambarnya.

Kita menyaksikan Maulana, anak enam tahun yang menghabiskan sebungkus Djarum Super sehari + kopi hitam. Ibunya yang menyediakan keperluan anak sulungnya itu setiap hari. Tiap merokok ia berada tak jauh dari adiknya. Rumah mereka nyaris gedek, penghasilan ibunya di pabrik rokok di tak cukup untuk makan dan biaya sekolah, tapi ia menyuapi Maulana dengan rokok tak putus-putus. Ironi lebih dahsyat apalagi dari kisah semacam ini?

Kamera Jonathan bergerak ke kebun tembakau. Di sana anak-anak memetik daun nikotin, menyusun, melipat, hingga merajangnya saat akan dijemur. Mereka tak sekolah. Bekerja di kebun sambil merokok sementara  anak yang tak merokok terpapar langsung asap rokok yang dihembuskan ayah-ayah mereka. Seorang pengepul bersaksi, di gudang maupun pabrik anak-anak lain bekerja untuk membantu ekonomi keluarga mereka.Tanpa perlindungan dengan upah tak seberapa.

Kamera Jonathan hanya meliput sebuah kota di Jawa Timur. Ia tak merekam seluruh Jawa atau seluruh kota di Indonesia. Tapi siapapun yang menyaksikan film berdurasi 24 menit itu akan menangis, siapapun mereka yang mencintai Indonesia, yang punya nurani dan harapan negeri ini kian baik dari hari ke hari. Kita akan menangis betapa Indonesia telah diperbudak racun nikotin, dijajah secara legal oleh kapitalisme industri rokok.

Sebagai seorang Eropa yang terbiasa hidup tertib dan rokok menjadi barang haram, Jonathan takjub bahwa orang Indonesia bisa merokok kapan dan di mana saja mereka suka. Dan anak-anak tanpa malu atau sungkan ngebul di jalan atau sepulang sekolah dengan masih memakai seragam. Dan ia segera menemukan penyebabnya. Kecanduan masif itu dimulai dari iklan.

Advertising yang membujuk itu tak hanya memenuhi jalan dengan baliho yang menggoda dan tak bisa dihindari pandangan, iklan juga tersebar bahkan hingga halaman sekolah. Maka tak aneh buat Jonathan seorang siswa yang ia wawancara mengatakan merokok karena ingin terlihat keren seperti pemain iklannya. Mereka merasa keren saat merokok, sebab orang-orang dewasa di sekeliling mereka juga melakukannya.

Atau kisah Supriyatna yang terbaring di rumah sakit karena kanker paru-paru. Istrinya menangis di sebelahnya. Ia menangisi betapa kepala rumah tangga itu ambruk karena kebiasaan buruk keluarganya sejak kecil. Perempuan itu menangis karena orang yang dikasihinya kolaps menjadi korban asap rokok. Ia terisak karena teringat anak-anaknya yang mungkin saja menjadi korban berikutnya. Dan Jonathan takjub dengan fakta-fakta yang baru kali itu ia lihat. Di mana negara?

Jonathan tak melihatnya. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi seperti berjuang sendirian menegakkan kampanye bahaya rokok. Segala kebijakan dan apa yang dilakukannya seperti membentur tembok beton mahakeras. Nafsiah tak hanya melawan industri rokok tapi juga teman-temannya di kabinet yang tak ingin rokok dikendalikan dengan alasan cukai menyumbang 10 persen pendapatan negara. Nafsiah sedang melawan bisnis Rp 330 triliun yang bisa melakukan apa saja untuk melanggengkan usaha mereka.

Upayanya agar pemerintah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau yang menjadi basis hukum kebijakan mengatur rokok selalu mendapat tentangan bahkan dari kolega-koleganya sendiri. Pemerintah terlalu dan selamanya takut pengendalian tembakau akan mengakibatkan hilangnya pendapatan, ketimbang memikirkan puluhan juta anak yang menjadi pecandu setiap hari. Inilah produk membahayakan yang dilegalkan dan dilindungi kejahatannya.

Dan kacamata Eropa melalui Jonathan Miller takjub dengan segala absurditas Indonesia itu. Inilah negeri yang negaranya absen melindungi kepentingan publik dan menjunjung hak-hak dasar warganya, yakni hak sehat tanpa direcoki racun rokok. Pemerintah dan negara tak peduli kendati harapan masa depan melalui anak-anak yang cerdas kandas oleh gigantisme industri rokok. Mereka tak peduli negeri ini telah memasuki masa darurat rokok yang pemulihannya mesti melalui kebijakan radikal dan luar biasa!

Video : Unreported World: Tobacco Indonesia Childrens

Catatan Jonathan Miller selama membuat film: Diary

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Orlandolab
    3 October 2013 at 08:38 - Reply

    percuma iklan dimusnahkan kalo rokoknya sendiri dapat dengan mudah didapatkan dimana saja dan oleh siapa saja

    • Antis Leira
      7 December 2013 at 22:20 - Reply