Seminar FCTC versus RUU Pertembakauan di Grand Sahid Hotel, 26 Agustus 2014
Seminar FCTC versus RUU Pertembakauan di Grand Sahid Hotel, 26 Agustus 2014

Ironi-ironi Tembakau

Ini presentasi Bagja Hidayat, redaktur di majalah Tempo, dalam seminar FCTC versus RUU Pertembakauan yang diselenggarakan Kantor Berita Radio 68H di Hotel Grand Sahid Jakarta pada Selasa, 26 Agustus 2014. Disarikan di sini agar tersebar lebih luas karena memotret dengan pas dan telak bagaimana pemerintah dan kita sendiri memperlakukan tembakau. Ada 10 Ironi di Sekitar Tembakau, dan beberapa poin ditambahkan untuk melengkapi:

1. Adiksi
Indonesia memiliki Undang-Undang Kesehatan Nomor 36/2009 dengan pasal 113 yang legendaris dan bersejarah. Inilah pasal yang dihilangkan oleh Ketua Komisi Kesehatan Ribka Tjiptaning bersama pejabat tinggi Kementerian Kesehatan karena menyebutkan bahwa “produk yang mengandung zat adiktif adalah tembakau dan produk mengandung tembakau.” Indonesia juga memiliki Undang-Undang Narkotika yang menyebut zat dari tanaman ini menyebabkan ketergantungan atau adiktif. Minuman keras atau beralkohol, meski belum diatur dalam Undang-Undang, juga digolongkan ke dalam produk adiktif oleh dunia kedokteran dan akademik.

Namun, ketiga produk tersebut sangat berbeda perlakuannya. Menghisap narkotika adalah pidana, kriminal, dan meminum minuman keras sangat terlarang di area publik? Rokok bahkan diiklankan, dipasarkan, kendati Sampoerna mengakui produknya mengandung 7.000 zat kimia yang berbahaya bagi tubuh dan menyebabkan kanker (lihat situs Sampoerna.com). Dalam iklan bahkan disebut rokok bersumber dari bahan (tembakau) terbaik. Bahkan iklan menipu begini tak ditindak oleh pemerintah. Rokok juga dijual secara bebas di warung dan supermarket dengan letak di belakang kasir yang memungkinkan dilihat oleh semua pembeli.

2. Iklan
Undang-Undang Penyiaran Pasal 46 ayat 3b melarang produk zat adiktif diiklankan. Namun, pasal ini dianulir langsung oleh pasal 46 ayat 3c yang menyatakan promosi rokok dilarang menampilkan orang merokok. Artinya, iklan rokok dibolehkan—kendati produk adiktif—asal tak menampilkan orang merokok. Padahal survey Global Youth Tobacco pada 2010 menyebutkan 15 persen pecandu rokok baru disebabkan iklan rokok.

3. Korban
Dibanding minuman keras dan narkotika, korban akibat rokok jauh lebih besar. Data Badan Nasional Narkotika menyebutkan 18.250 orang meninggal per tahun akibat penyalahgunaan narkotika. Gerakan Nasional Anti Minuman Keras menyebut 18.000 orang tiap tahun meninggal karena over dosis alkohol. Rokok? Kementerian Kesehatan melansir 200 ribu orang meninggal setiap tahun! Itu karena rokok mengakibatkan perokok pasif, mereka yang tak merokok tapi menghisap asap orang lain lalu terkena penyakit yang berhubungan dengan racun nikotin. Bahkan sudah jadi senjata pemusnah massal pun rokok masih dilegalkan.

4. Susu versus Rokok
Ada Peraturan Pemerintah 33/2012 yang melarang susu formula diiklankan. Tujuannya mulia agar ibu memberi air susu ekslusif kepada balita mereka. Pemerintah menganggap susu lebih berbahaya ketimbang rokok sehingga iklan dianggap bisa “meracuni” ibu-ibu dan mendorong mereka memberikan susu formula. Ini persis pernah dibahas di halaman ini >> lihat http://www.kompak.co/blog/susu-versus-rokok/. Dan secara tak terduga Hari Susu dan Hari Tanpa Tembakau diperingati tiap 31 Mei.

5. Cukai
Pemerintah Indonesia menganggap cukai adalah pendapatan negara. Akibatnya, cukai terus digenjot tiap tahun. Ini berarti pemerintah mendorong industry rokok terus meluaskan pangsa pasarnya, menambah jumlah pecandu, dan membiarkan pabrik rokok mencekoki kita dengan hal-hal positif tentang rokok dan tembakau lewat iklan-iklannya. Dan belanja iklan rokok yang Rp 2 triliun per tahun jauh lebih besar dari anggaran promosi kesehatan di Kementerian Kesehatan yang hanya Rp 130 miliar. Bagi industri rokok target cukai yang terus naik menyebabkan mereka kian giat meluaskan pelanggannya. Padahal cukai yang Rp 55 triliun per tahun jauh lebih kecil dibanding pengeluaran negara akibat rokok yang mencapai Rp 254 triliun per tahun.

6. Konsumsi
Dari 70 juta pencandu rokok sebanyak 70 persennya dari keluarga miskin. Mereka menghabiskan 11,6 persen pendapatan rumah tangga untuk membeli rokok, nomor dua setelah kebutuhan membeli beras. Senyata-nyatanya ironi: pemilik pabrik rokok selalu menjadi orang terkaya di Indonesia dengan mengeruk uang orang paling miskin di Indonesia.

7. Konsumen
Dari 70 juta pecandu itu usia yang mulai membesar datang dari usia muda. Negara abai pada prevalensi ini karena rokok senyata-nyatanya ancaman bagi keutuhan NKRI. Indonesia bahkan terkenal dengan julukan “Marlboro Boys”, betapa menyakitkan kenyataan ini

8. Petani
Selain konsumen yang miskin, petani tembakau juga tergolong paling miskin di antara petani lain. Itu karena tata niaganya dikendalikan para grader yang menjadi perantara petani dengan pabrik. Petani tak punya daya tawar harga terhadap pabrik. Maka jika ingin melindungi petani dan pertanian tembakau, Framework Convention Tobacco Control juga jawabannya karena menjamin kelangsungan hidup petani dengan mencegah impor tembakau, dan bukan dengan RUU Pertembakauan yang tak sedikit pun menyinggung tata niaga tembakau.

9. Rokok Membunuhmu
Peringatan bergambar menjadi bumerang bagi kampanye pengendalian tembakau dan justru kemenangan industri rokok. Jika UU Penyiaran melarang iklan orang merokok, peringatan bergambar malah menunjukkannya. Kalimat-kalimat bahaya rokok juga tak menohok. Meski tiga gambar kanker membuat jeri pembeli, tapi dua gambar pertama yang mennunjukkan orang merokok telah mengkondisikan dulu rokok dengan peringatan bergambar. Sehingga masyarakat cenderung abai dengan peringatan ini

10. FCTC
Indonesia adalah inisiator dan penyusun naskah FCTC. Namun, Indonesia tak kunjung meratifikasinya. Indonesia kini satu kelompok dengan negara-negara kecil Pasifik dan Afrika seperti Sierra Leone. Bahkan Zimbabwe, negeri perang dan miskin, telah meratifikasinya bersama 178 negara lain. Di Asia, Indonesia satu-satunya negara yang tak aksesi.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*