Ironi Kampanye Bahaya Rokok

rokok-membunuhmu

Tak hanya slogan yang tak “bunyi” pada peringatan bahaya rokok di iklan-iklan rokok yang sudah terpasang mulai 1 Januari 2014, lima gambar yang akan dicantumkan dalam bungkus rokok per 24 Juni 2014 terlihat sungguh ironis dengan tujuan pencantumannya.

Pada baliho-baliho iklan rokok kini terpajang tiga kata peringatan yang ditulis dengan huruf kapital: PERINGATAN: ROKOK MEMBUNUHMU. Alih-alih menyeramkan, peringatan ini kosong belaka. Para perokok tak akan takut mati karena menghisap nikotin. Hidup dan mati toh ada yang mengatur dan manusia punya takdirnya sendiri-sendiri.

Banyak survei di kalangan perokok menunjukkan bahwa mereka lebih takut pada penyakit akibat rokok dibanding kematian. Mereka lebih takut impoten ketimbang bertemu ajal karena tak bisa ereksi. Mereka lebih takut kanker daripada mati karena kanker. Dengan kata lain, kematian bukan hal penting yang dipikirkan perokok yang akan membuat mereka menjauhi produk berbahaya ini.

Slogan dalam iklan itu bertujuan menyadarkan para perokok dan calon perokok bahwa aktivitasnya tak hanya membahayakan dirinya sendiri, tapi juga orang di sekitarnya yang menghisap asap yang mereka hembuskan. Iklan itu diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28/2013. Artinya, slogan itu dibuat oleh negara atas nama tugas dan fungsinya menjaga kesehatan masyarakat sebagai bagian dari kampanye bahaya rokok dan merokok.

Belum lagi gambar di sebelahnya, seorang yang sedang menghisap rokok dengan asap bergambar tengkorak. Secara artistik, gambar seperti ini tak mengandung sentuhan seni sama sekali. Raut bintang iklan ini tak menunjukkan ia sakit karena telah menghisap rokok, apalagi penuh penyesalan. Bintang iklan itu merokok penuh suka cita dengan kenikmatan tiada tara. Matanya tak menyiratkan bahwa rokok berbahaya karena bisa membunuhnya.

Secara legal, gambar itu juga ironis. Gambar itu bertentangan dengan induk dari peraturan bergambar bahaya rokok ini yaitu Peraturan Pemerintah 109/2012, juga aturan yang lebih tinggi yakni Undang-Undang Penyiaran. Peraturan pemerintah itu adalah turunan Undang-Undang Kesehatan 2009 yang menggolongkan rokok sebagai zat adiktif sehingga distribusi dan promosinya diatur sangat ketat. Gambar itu, dengan dasar hukum peraturan menteri, mencederai aturan pokok yang sangta pro pengendalian tembakau ini. Rokok telah sama dengan minuman beralkohol yang sama sekali tak boleh diiklankan dan distribusinya sangat khusus.

Belum lagi gambar lain yaitu seorang bapak yang sedang menggendong anak dengan mulut mengepulkan asap. Kita menangkap tujuannya yakni jangan merokok sebelah anak-anak karena asapnya bisa membuat mereka sakit. Tapi pesan itu tak sampai karena terlibas pesan lain yang berbunyi sebaliknya, yakni merokok di dekat anak merupakan aktivitas yang wajar belaka.

Dari sini jelas pemerintah masih galau dan tetap didikte industri rokok. Gambar itu pasti hasil kompromi antara pemerintah yang ingin rokok dikendalikan dengan industri yang ingin produknya tetap bisa dijual bebas. Dari lima gambar itu jelas siapa yang menang dalam kompromi itu. Inilah kenyataan sesungguhnya bagaimana lobi industri rokok bisa menelurkan peraturan kampanye bahaya rokok dengan menampilkan kenikmatan orang merokok, di luar hal besar menggagalkan upaya pemerintah meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau (FCTC) atau menyelundupan RUU Pertembakauan ke perlamen, hingga mencuri ayat tembakau dari undang-undang.

Solusinya barangkali Menteri Kesehatan merevisi aturan yang telah dibuatnya. Tak ada aturan yang tak bisa direvisi jika hasilnya melenceng dari tujuannya semula. Kembalikan peringatan bergambar bahaya rokok itu pada tujuan awal yakni mengkampanyekan bahaya rokok bagi kesehatan publik. Kita perlu meniru Australia, Thailand, Malaysia, Singapura, yang telah dengan benar memajang gambar bahaya rokok untuk membuat jera para perokok dan remaja tak berani mencoba barang berbahaya ini. Mungkin perlu ada survei dalam enam bulan ini apakah peringatan di iklan rokok itu justru memicu jumlah perokok baru.

Di Australia atau Kanada, bungkus rokok sudah polos. Tak ada merek, nama, apalagi ada gambar orang merokok di bungkusnya. Tentu saja tak mudah mencapai ke sana. Dibuatnya gambar bahaya rokok saja sudah bagus untuk konteks Indonesia yang selalu ada tarik menarik kepentingan dalam peraturan tentang rokok antara industri, pendapatan negara dari cukai, hingga kepentingan publik yang lebih luas.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*