budihartono

Ironi Kekayaan Pemilik Pabrik Rokok

Tahun ini majalah Forbes kembali menobatkan kakak beradik Budi dan Michael Hartono sebagai orang terkaya di Indonesia. Kekayaan pemilik pabrik rokok Djarum ini Rp 198 triliun! Ini setara dua kali penerimaan cukai rokok dari seluruh pabrik rokok di Indonesia dalam setahun. Luar biasa!

Hanya di Indonesia, pemilik pabrik rokok jadi orang terkaya selama sepuluh tahun terakhir. Di negara lain, orang terkaya datang dari kalangan pebisnis teknologi informasi, industri baja, dan properti. Menjadi kaya dari menjual racun sungguh sebuah ironi tak terperi.

Penobatan majalah Forbes itu semakin mengukuhkan bahwa Indonesia telah dengan jelas dijajah racun nikotin. Dan menunjukkan dengan telak betapa negeri ini jauh tertinggal disbanding negara-negara lain. Di negara maju rokok telah ditinggalkan sebagai bagian dari kebutuhan dan gaya hidup sehingga pabriknya tutup dan pemiliknya bukan lagi orang kaya.

Di sini rokok menjadi barang legal yang dilindungi negara. Pemerintah dari pelbagai rezim menyokong dan melindunginya atas nama sebagian kecil petani, sebagian kecil buruh, sangat sedikit pedagang, dan maha kaya pemiliknya. Tak heran jika jumlah perokok terus naik dari dekade ke dekade. Jika pada sepuluh tahun lalu jumlah perokok hanya 40 juta, kini telah naik hampir dua kali lipat.

Naiknya jumlah perokok itu menandakan munculnya perokok-perokok baru karena terbujuk oleh iklan yang dibiarkan meracuni pola pikir anak-anak melalui media massa. Itu juga sejalan dengan terus naiknya jumlah produksi dari tahun ke tahun. Kini seluruh rokok yang beredar mencapai 360 miliar batang. Mencengangkan, bukan?

Kalikan jumlah perokok itu dengan 3, itulah jumlah mereka yang terpapar asap rokok. Maka ada 200 ribu kematian manusia Indonesia setiap tahun karena penyakit yang berhubungan dengan rokok. Sebanyak Rp 245 triliun uang negara, potensi ekonomi, dan nilai produktivitas, hilang akibat kematian di usia produktif. Mereka yang terpapar risikonya jauh lebih parah ketimbang para penghembus racunnya.

Dari 70 juta perokok itu sebanyak 70 persen datang dari keluarga miskin. Apakah itu bukan penghisapan keringat orang fakir namanya? Pemilik pabrik rokok menjadi kaya justru oleh orang-orang miskin yang doyan menghisap racun yang dibuat oleh mereka. Sementara para pemilik dan keluarganya tak ada yang doyan menghisap rokok karena tahu betapa berbahayanya zat-zat yang dikandung di dalamnya.

Dengan kenyataan itu, patutlah disimpulkan bahwa jika ingin menjadi kaya sebaiknya menjual racun saja. Terjamin aman asal terus menerus memanipulasi kenyataan. Kampanyekan terus bahwa rokok menyambung hidup jutaan petani dan buruh, menyumbang pendapatan negara, dan membuka lapangan kerja tak sedikit. Mereka lupa ada jauh lebih banyak yang menderita akibat kampanye manipulatif seperti itu.

Juallah racun karena niscaya engkau akan dilindungi negara, dijamin bisnisnya. Negara tak peduli produk itu merampok kewajiban melindungi rakyat seperti tertuang dalam konstitusi, dasar kita semua hidup dalam sistem yang disebut negara.

Selamat kepada anda, para perokok, karena telah menjadikan pemilik pabriknya kaya raya. Selamat juga kepada pemerintah, yang dengan pelbagai kebijakan perlindungan terhadap racun yang membunuh rakyat ini, hanya memperoleh sedikit dari apa yang didapat pemiliknya.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*