Anggota DPR cuek merokok di ruang sidang.
Anggota DPR cuek merokok di ruang sidang.

Istilah-istilah Keliru Akibat Rokok

Keterangan gambar: Anggota DPR cuek merokok di ruang sidang. Peraturan pemerintah telah melarang merokok di dalam gedung.

Tak hanya memanipulasi lewat iklan, rokok juga menjebak dan mengacaukan istilah-istilah dalam pergaulan sosial. Atau mungkin keduanya saling mengacaukan: karena iklan yang menipu itu kita juga jadi ikut memanipulasi bahaya rokok kepada diri sendiri dan orang lain. Tengoklah, misalnya, istilah “social smoker”.

Ini istilah bagus dan keren. Seolah-olah menjadi perokok adalah orang gaul, banyak teman, dan asyik dalam hubungan sosial. Istilah ini sekaligus juga undangan: tak apa merokok sesekali ketika bercengkrama dengan teman untuk mendekatkan dan menghangatkan. Atau malah pengakuan dan apologia oleh para perokok penakut: mereka hanya mau disebut perokok sesekali karena tahu bahayanya. Sesekali jika ingat, sesekali jika ingin.

Masalahnya, candu rokok segera memanipulasi otak untuk menjadi ketagihan. Jadilah keinginan sesekali itu muncul tak lagi sekali seminggu. Keinginan merokok muncul tiap menit, tiap setengah jam. Rasanya aneh jika tak ada yang menempel di mulut. Istilah gaulnya, “mulut asem” jika tak merokok. Itulah candu. Ia menagih ketika tubuh telah bersekutu dengan racunnya dan tak disuplai dalam jangka waktu yang lama.

Kecanduan juga akibat dari istilah keliru semacam “social smoker” itu. Seorang perokok sosial, lama-lama akan kencaduan tak hanya pada saat kongkow dengan orang-orang. Ia ketagihan bertemu orang karena keinginannya merokok. Pada akhirnya, pertemuan bukan yang penting, merokok itulah jadi alasan utama nongkrong. Tak ada pecandu sejak lahir. Mereka memulai sejak menghirup asap rokok orang lain, lalu coba-coba, kemudian kecanduan.

Bagi yang melek, setelah kecanduan ia menjadi sadar bahwa rokok merusak tubuh dan orang-orang di sekelilingnya, yang mencintai dan dicintainya. Karena sudah kecanduan, kesadaran akan bahaya itu diabaikan, dengan memanipulasi otaknya sendiri lewat istilah-istilah menipu semacam “social smoker” tadi. Atau, “suatu saat akan berhenti, tapi entah kapan.” Betapa jahat pembuat rokok yang menyebabkan orang tak bisa lepas dari candu nikotin mematikan seperti itu.

Juga istilah lain yang jadi umum, yakni “uang rokok”. Uang rokok tak lain tip sebagai upah di luar tarif karena jasa yang kita beli. Istilah ini menjadi umum sehingga membahayakan karena ia memanipulasi rejeki halal yang diterima pada penjual jasa. “Ini uang rokoknya,” kita dengar tiap kali orang memberi tips, tak peduli yang diberi uang merokok atau tidak. Dan yang diberi tip juga tak protes meski ia bukan perokok.

Ketika istilah menjadi umum dan jamak dipakai, ia akan berdiam di bawah sadar tiap orang, membentuk persepsi dan pola pikir. “Perokok sosial” dan “uang rokok” akan dianggap sebagai sesuatu yang positif di benak banyak orang, menciptakan kesan dan mindset positif di pikiran anak-anak , padahal menyimpan bahaya luar biasa dahsyat.

Robby Indra Wahyuda adalah contoh bagus tentang perokok sosial. Sebagai anak band tentu ia harus punya predikat gaul. Rokok adalah lambang predikat sosial itu. Ia pun merokok lalu kecanduan, dan kini kehilangan suara akibat laringnya diangkat karena terkena kanker, dan lehernya dibolongi dan digantungi selang untuk jalan udara. Buku Kita adalah Korban yang diterbitkan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau merekam lebih banyak para korban rokok dari perokok aktif maupun pasif.

Perokok Indonesia terus tumbuh karena sebagian besar kita masih abai pada bahayanya, pemerintah cuek pada akibat yang ditimbulkannya, sementara pabriknya makin gencar mempromosikannya. Ketidakpedulian kita dan makin masifnya rokok merasuk hubungan-hubungan sosial kita bisa dimulai dari bahasa, yang menciptakan pola pikir, lalu melahirkan tindakan. Maka stop memakai istilah “social smoker” dan “uang rokok” tiap kali memberi rejeki kepada yang berhak. Ia tak hanya keliru, tapi juga menipu.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*