KAK1

Kita adalah Korban…

 

Judul buku ini menggambarkan dengan telak bagaimana rokok merusak tak hanya para penghisapnya. Rokok juga telah terbukti membunuh mereka yang merasa tak pernah bersentuhan dengan asapnya. Para perokok pasif ini ambruk dan “dipaksa” menerima nasib buruk karena tiba-tiba divonis menderita kanker stadium IV. Mereka telah diracuni nikotin yang menyebar melalui udara yang mereka hirup.

Cerita 15 orang dalam buku edisi revisi ini—karena cerita Sembilan orang dalam buku pertama juga dicantumkan dalam edisi baru ini—menunjukkan bagaimana rokok tak hanya membunuh manusia, tapi lebih dari itu, yakni cinta, seperti dalam pengantar buku ini. Istri yang dipisahkan dari suami yang terkena serangan jantung, anak dan suami yang ditinggalkan istri kanker kanker paru akibat menjadi perokok pasif di kantornya, anak-anak yang menjadi yatim di usia muda karena ayah atau ibu mereka meninggal karena penyakit yang disebabkan racun nikotin.

Seorang aktivis politik dan hak asasi manusia menjadi berkurang kegiatannya mengadvokasi masyarakat karena tubuhnya lemah setelah paru-parunya terluka akibat kerap menghirup asap orang lain saat rapat-rapat organisasi atau partai. Mereka orang-orang tak berdosa, mereka adalah kita, sebab kita adalah korban rokok sesungguhnya. Pengantar buku “Kita adalah Korban” menggambarkan dengan telak bagaimana kita kerap abai akan ancaman nyata ini, ancaman yang ironisnya dilegalkan Negara.

Berikut kutipan buku yang diterbitkan oleh Komisi Nasional Pengendalian Tembakau ini…

***

KITA adalah korban, sebab tak ada yang diuntungkan dalam konsumsi rokok, kecuali produsennya. Kesaksian 15 orang dalam buku ini menunjukkan bahwa rokok tak hanya merenggut tubuh dan nyawa penghisapnya, tapi juga orang di sekelilingnya. Perokok pasif malah jauh lebih berisiko karena umumnya mereka tak sadar telah terkena penyakit akibat rokok.

Cerita seorang aktivis politik dan hak asasi manusia mengkonfirmasi bahaya ini. Ia tak percaya jantungnya terluka karena terpapar asap rokok, hingga bolak-balik ke rumah sakit, sampai dokter meyakinkan bahwa luka itu akibat racun nikotin yang dihisap koleganya ketika rapat partai. Atau seorang karyawan yang meninggal karena bertahun-tahun bergumul dengan mereka yang mengepulkan asap di ruang kerja.

Para perokok pasif umumnya tak siap dan tak sadar tubuh mereka rontok dimakan racun nikotin karena tak merokok, dan orang-orang dekatnya juga bersih dari nikotin. Lalu mereka kolaps karena jantung dan paru-parunya terkena kanker stadium lanjut. Rokok telah menjadi pembunuh manusia paling efektif dan massal yang ironisnya dilegalkan oleh negara.

Para perokok aktif, sementara itu, kesulitan berhenti sampai dokter memvonisnya terkena kanker atau pembuluh darahnya tersumbat hingga jantungnya berhenti berdetak. Orang-orang dekatnya juga terimbas penyakit serupa karena racun rokok selamanya menempel di tubuhnya, mengendap di darah, melayang di udara hingga dihisap orang-orang sekeling tak berdosa yang sadar asap rokok begitu mematikan.

Buku ini bercerita tentang bagaimana rokok telah mengalahkan cinta, memisahkan mereka yang bersatu karena kasih sayang. Sebab rokok menyerang siapa saja ke arah siapa saja. Kaya miskin, tua muda, menjadi korban rokok karena efek dominonya yang dahsyat.

Seorang narasumber mengingatkan negara perlu turun tangan untuk mencegah korban rokok lebih banyak dengan cara mengendalikan distribusi, produksi, dan konsumsinya. Tanpa campur tangan negara—pemerintah, parlemen, lembaga penegak hukum—upaya masyarakat sipil yang peduli dengan generasi republik ini, tak akan punya gaung yang gemanya memantul ke pelosok-pelosok. Pendapatan dari cukai itu tak menjadi apa-apa ketika banyak orang yang sakit akibat racun nikotin.

Para korban yang bersaksi di buku ini—suami yang ditinggalkan istri karena jadi perokok pasif, istri yang sendiri karena suami meninggal akibat jadi perokok aktif, anak-anak yang menjadi yatim karena ayah dan ibunya direnggut nikotin—punya wasiat seragam: jauhi rokok karena pasti menyengsarakan. Jika tak berakhir di kuburan, perokok dan orang di sekelilingnya minimal mampir di ruang operasi rumah sakit.

Anda yang merokok adalah korban, mereka yang terpapar asap rokok jauh lebih korban, kita semua adalah korban. Maka stop merokok sekarang juga!

 

Betapa benar kata-kata pada sampul belakang buku yang dilengkapi CD ini: Smoking Kills! Jangan simpan buku ini, berikan kepada teman, saudara, atau siapapun yang ada di samping anda setelah selesai membacanya. Mari bersama selamatkan anak-anak kita dari bahaya rokok!

[button color="red" link="https://www.dropbox.com/s/5thzuam5ge89put/Kita%20Adalah%20Korban%20Jilid%202.pdf" size="medium" target="_blank" font="tahoma" fontw="bold" align="center"]DOWNLOAD BUKU[/button]

KAK1 KAK2

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • AgungPratama
    17 July 2014 at 13:29 - Reply

    Bukunya bisa didapatkan dimana ?

    • Antis Leira
      22 July 2014 at 17:05 - Reply

      terimakasih. bisa berhubungan dengan @komnas_PT untuk mendapatkan buku cetaknya.