image

Membunuh Indonesia

Jika kita mengetikkan dua kata ini di Google, yang muncul adalah lama-laman yang merujuk pada web komunitas kretek yang membela produk-produk tembakau dengan dalih budaya Indonesia. Kretek, rokok, dan produk olahan tembakau lainnya memang membunuh Indonesia dalam arti harafiah karena rokok, apapun bentuknya, telah membunuh 239 ribu orang tiap tahun.

 

Maka benar apa yang tertera sebagai peringatan pada bungkus sigaret bahwa “Rokok Membunuhmu”! Membunuh siapa? Penghisapnya, baik yang merokok langsung maupun yang menghisap asap yang disemburkan para perokok. Jika ada 70 juta perokok aktif saat ini, kalikan tiga akan menghasilkan jumlah perokok pasif. Sebab hampir di setiap rumah tangga Indonesia ada yang merokok.

 

Faktanya jelas. Angka 239 ribu kematian setiap tahun yang diakibatkan oleh pelbagai penyakit itu berhubungan dengan rokok. Dari jumlah itu para perokok pasif jauh lebih banyak dibanding perokok aktif. Sebab, sebatang rokok tak hanya membunuh penghisapnya, tapi asapnya akan dihirup oleh lebih banyak orang di sekelilingnya. Belum ada mesin pembunuh secanggih rokok yang bisa merenggut nyawa orang begitu masif.

 

Maka “membunuh Indonesia” adalah frase dan fakta yang tak bisa disangkal dan pas dari rokok dan kretek. Rasanya, belum ditemukan hingga kini asap rokok yang bisa ditelan dan tak dikaluarkan lagi setelah dihisap. Maka membakar rokok sudah bisa dipastikan akan membagi asap racun nikotinnya ke banyak orang. Jika satu perokok meracuni tiga yang lain, selesai sudah Indonesia karena orang-orangnya tak bisa menghindar dari serbuan asap rokok.

 

Apalagi mereka ngebul di area-area publik. Ironisnya, negara melegalkan mesin pembunuh nomor satu ini. Akibatnya, tak terbangun kesadaran bahwa merokok di tempat umum akan mengganggu orang lain. Mereka yang bukan perokok, mereka yang terganggu itu, malah yang menyingkir menghindari asap. Banyak diberitakan, perokok lebih galak ketika diingatkan perilaku buruknya itu oleh yang bukan perokok.

 

Bahkan ada yang menjunjungnya sebagai hak asasi. Merokok adalah hak asasi. Patut diragukan sekolah dan gurunya jika masih ada yang berpikiran bahwa merokok adalah hak asasi. Hak asasi adalah hak paling hakiki yang dimiliki manusia: hak hidup, hak mendapat kebebasan, hak memiliki sesuatu. Tak ada hak merokok. Lagi pula hak kita terbatasi oleh hak orang lain karena kita bukan Tarzan, kita hidup bernegara dan bermasyarakat, tanpa saling mengganggu.

 

Dalam hal rokok ada hak orang lain yang jauh lebih hakiki yakni mendapat udara bersih. Asap rokok telah merampas hak yang hakiki itu. Hak memiliki rumah akan dilindungi hukum sepanjang itu tak berada di tanah yang dimiliki orang lain. Menduduki tanah orang lain atas nama hak memiliki rumah jelas melanggar hak asasi orang lain. Merampas hak orang lain mendapat udara bersih dengan mengotorinya dengan asap rokok tentu melanggar hak orang lain. Dan melanggar hak asasi adalah pelanggaran hukum yang berat.

 

Slogan “membunuh Indonesia” di web-web pembela rokok tentu saja ditujukan kepada kepada gerakan pengendalian tembakau. Komunitas kretek menganggap gerakan global pengendalian tembakau disponsori oleh industri farmasi. Logikanya begini: industri farmasi mengkampanyekan bahaya rokok agar para perokok membeli obat antikecanduan, sehingga untung besar di depan mata yang akan ditangguk industri obat. Masuk akal? Mari kita uji.

 

Tak perlu dengan logika njelimet. Dengan logika sederhana saja anggapan itu sudah jelas terlihat sangat rapuh. Bagaimana mungkin industri obat mensponsori kampanye bahaya rokok jika mereka ingin untung besar?

 

Yang ada sebaliknya. Rokok menimbulkan penyakit karena senyawa kimia yang dikandungnya sanggup merontokkan fungsi faal bahkan kematian. Jika rokok menimbulkan penyakit, tak masuk akal waras jika pabrik obat berada di belakang gerakan menghentikan kecanduan. Jika para perokok sudah tak ada, sebagai akibat dari kampanye bahaya rokok, bukankah justru pabrik obat itu yang akan bangkrut karena tak ada lagi orang sakit, tak ada lagi orang beli obat?

 

Konon, industri farmasi itu berkolaborasi dengan perusahaan rokok asing mengkampanyekan bahaya rokok untuk membunuh kretek Indonesia. Rasanya, nikotin tak memilih-milih berada di kretek atau rokok putih. Nikotin adalah nikotin, racun yang dikandung rokok. Rokok adalah rokok, olahan tembakau yang mengandung 4.000 zat berbahaya bagi tubuh manusia. Dan penyakit akibat rokok tak dipilah berdasarkan rokok putih atau kretek. Mereka yang sakit juga tak ditanya jenis rokoknya ketika terkena kanker.

 

Karena “membunuh Indonesia” tak logis disematkan pada gerakan pengendalian tembakau, frasa itu lebih pas dan tepat ditujukan justru kepada kretek. Dari fakta di atas dan negasi logika yang diusungnya, rokok adalah pembunuh Indonesia. Belum lagi jika dimasukkan kerugian lain yang dialami Indonesia. Cukai rokok itu sekitar Rp 100 triliun per tahun. Masuk kas negara, jadi modal membangun Indonesia. Tapi berapa ongkos untuk mengobati orang kena penyakit dan potensi yang hilang akibat racun nikotin? Rp 235 triliun! Rokok tak hanya membunuh, tapi membuat kita tetap miskin karena keuangan negara besar pasak daripada tiang.

 

Rupanya permainan kata-kata ini sangat khas kampanye hitam. Dalam kampanye hitam, tak perlu logika karena yang diusung adalah slogan dengan senjata pemutarbalikan fakta. Jika anda takut disebut korupsi karena telah menilap uang proyek, tuduhlah musuh anda telah melakukan yang telah anda lakukan.

 

Dengan demikian, musuh anda akan menampik tuduhan itu dengan menjelas-jelaskan bahwa si musuh tak melakukan seperti yang tuduhkan. Ketika si musuh sedang menjelaskan, anda punya cukup waktu menyiapkan tuduhan lain yang lebih ngawur dan lebih menohok. Demikianlah kredo dan cara kerja kampanye hitam. Ia menyerang untuk melindungi kelemahan para pelakunya. Musuh anda akan lelah menangkis tuduhan anda, lalu menyerah, dan anda memenangi pertempuran.

 

Maka gerakan pengendalian tembakau yang digalang untuk mengkampanyekan perlindungan kesehatan publik, dituduh akan mematikan petani tembakau. Untungnya, tuduhan itu memakai jalur hukum sehingga bisa diuji kebenarannya. Seperti yang dituduhkan empat orang penggugat yang mengatasnamakan petani yang menggugat organisasi Jogja Sehat Tanpa Tembakau. Mereka menyoal frase Tanpa Tembakau karena dianggap akan mematikan pertanian tembakau. Tuduhan yang terlalu jauh. Dan itu dilihat hakim.

 

Hakim menilai, dari kesaksian para ahli dan petani yang dihadirkan di muka sidang, bukan gerakan lembaga swadaya masyarakat itu yang menyebabkan petani rugi. Tak ada hubungannya. Para petani mengaku rugi karena tak bisa menjual tembakau dengan harga bagus akibat cuaca buruk. Tembakau adalah tanaman “rewel” yang hidup di antara suhu panas dan dingin. Dengan banyaknya curah hujan, kualitas tembakau memburuk sehingga harganya anjlok.

 

Dan yang menentukan baik-buruk kualitas tembakau bukan petani, tapi grader, para tengkulak yang disewa pabrik rokok. Merekalah yang menentukan harga tembakau. Karena mereka punya kekuasaan yang luas, harga bisa mereka mainkan sesukanya. Ketika musim tanam, harga tinggi karena tak ada stok tembakau. Ketika musim panen harga rendah dengan alasan kualitas tadi itu. Maka petani selamanya tak punya daya tawar akan komoditas yang mereka pelihara berbulan-bulan dengan cinta dan biaya.

 

Atas nama kualitas itu pula, pabrik rokok masih senang mendatangkan tembakau dari luar negeri. Ada sekitar 30 persen tembakau impor untuk memenuhi kebutuhan pabrik melinting 350 miliar batang rokok. Tinggal 70 persen yang diperebutkan pangsa tembakau lokal. Dengan permainan grader, ruang itu pun masih tak memihak kepada para petani.

 

Maka hakim menolak gugatan mereka yang mengatasnamakan petani atas gerakan Jogja Sehat Tanpa Tembakau. Kampanye hitam, sekali lagi, tak mempan membendung gerakan masyarakat atas dasar niat baik ini. Kampanye hitam akan berbenturan dengan fakta-fakta yang terang dan jelas, meski diputarbalikan sedemikian rupa.

 

Aksi membunuh Indonesia tak hanya itu. Pabrik rokok dan para pembelanya susah payah menyelundupkan RUU Pertembakauan ke DPR. Jika disahkan aturan ini akan menganulir peraturan-peraturan sebelumnya tentang rokok, tentang produk tembakau sebagai zat adiktif, tentang gambar peringatan bahaya rokok di bungkus sigaret, tentang iklan yang akan langgeng di media massa dan ruang publik kita, dan seterusnya. Aturan-aturan perlindungan kesehatan publik yang diperjuangkan dengan susah payah dan proses panjang bisa gugur jika aturan itu disahkan parlemen.

 

Ada kabar baik yang disampaikan Ketua Komisi Pertanian DPR bahwa mereka tak memprioritaskan membahas RUU Pertambakaun. Dari masukan pelbagai petani dari Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang masuk ke DPR, para petani justru meminta agar rokok tak diatur secara rigid lewat undang-undang. Petani meminta agar tembakau dikelola secara kultural saja.

 

Ini pernyataan yang mencengangkan terutama karena membuka kedok para pembela pabrik rokok. Mereka selalu berlindung dan mengatasnamakan petani ketika mendesak dan mengajukan RUU Pertembakauan. Dengan pengakuan Ketua Komisi IV itu jelas sudah, pengakuan pembela pabrik rokok itu pepesan kosong belaka. Mereka hanya membela pabrik rokok yang merasa terancam bisnisnya racunnya dengan banyaknya aturan tentang rokok dan produk tembakau.

 

Pabrik rokok dan para pembelanya merasa terancam jika ada gerakan mewujudkan Indonesia yang lebih baik, memikirkan generasi mendatang, dan menegakkan republik dari daya bunuh racun nikotin.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*