20141026kabinet-jokowi-02

Meneropong Kabinet Kerja

Presiden Joko Widodo telah mengumumkan 34 menteri yang berhimpun dalam Kabinet Kerja. Dalam hal pengendalian tembakau ada lima menteri yang akan terlibat: Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Keuangan. Menteri Kesehatan tentu yang akan menjadi kapten dan jenderal lapangan tengah sekaligus memimpin implementasi kebijakan pengendalian ini.

Nila Moeloek bukan nama asing di dunia kesehatan. Di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono namanya pernah masuk bursa, namun dicoret kendati sudah dipanggil wawancara dan lolos segala tes. Waktu itu ia digantikan Endang Rahayuningsih. Nila kemudian menduduki pos baru sebagai Utusan Khusus Presiden dalam Millennium Development Goals, tujuan pembangunan millennium, di PBB.

Ini program Perserikatan Bangsa-Bangsa yang di dalamnya mencakup isu-isu kesehatan, kemiskinan, pendidikan—tiga hal yang sangat berkaitan erat dengan rokok. Produk tembakau ini memiskinkan penghisapnya, membuat mereka sakit, dan menghalangi mereka mendapat pendidikan yang layak. Nila Moeloek pasti paham tak ada cara lain agar Indonesia bisa mencapai standar dalam tujuan milenium itu selain membereskan akarnya, yakni mengendalikan rokok.

Yang mencemaskan itu, lagi-lagi, kementerian-kementerian terkait. Tak ada track record yang menunjukkan keberpihakan Amran Sulaiman terhadap pengendalian tembakau dari segi pertanian. Latar belakangnya perkebuan karena pernah bekerja di PT Perkebunan Nasional XIV, lalu mendirikan banyak perusahaan tambang dan penggalian emas. Ia masuk kabinet, menurut informasi yang beredar, disokong oleh Menteri BUMN Rini Soemarno karena berperan menggarap pemilih Jokowi di Indonesia Timur.

Menteri Perindustrian Saleh Husin juga belum pernah terdengar kiprahnya dalam industri yang berhubungan dengan isu rokok. Ia mewakili Partai Hanura di Kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla. Partai ini salah satu yang mempelopori RUU Pertembakauan dan sangat giat menggolkan isu-isu rokok yang berpihak kepada industri mengatasnamakan petani dengan alasan banyak legislatornya berasal dari Nusa Tenggara Barat. Saleh dianggap mewakili 4 juta warga Nusa Tenggara Timur.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang bisa dilacak visinya soal ekonomi. Ia wakil menteri di periode sebelumnya. Dosen Universitas Indonesia ini terkenal sebagai ahli ekonomi di era otonomi yang memerlukan kreasi keseimbangan antara pusat dan daerah. Sebagai wakil menteri, kebijakan-kebijakannya agak pro dengan pengendalian tembakau. Ia arsitek kenaikan cukai secara gradual dan penetapan pajak progresif bagi perusahaan rokok yang dimiliki satu keluarga.

Dengan kontinuitasnya memegang sektor keuangan dan cukai, Bambang diharapkan meneruskannya, meski cukai yang ia tetapkan masih berlatar belakang penerimaan negara, bukan aspek pengendalian untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan menaikkan cukai, harga rokok jadi mahal sehingga tak terjangkau keluarga miskin, sehingga kualitas kesehatan dan pendidikan meningkat karena mereka menyetop menghisap racun.

Agak repot adalah Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri. Kementerian ini seolah jatah Partai Kebangkitan Bangsa. Periode sebelumnya partai berbasis pemilih Nahdlatul Ulama ini permisif dengan rokok. NU bertentangan dengan Muhammadiyah yang mengharamkan rokok. Karena itu Menteri Hanif mungkin akan memakai alasan buruh untuk menangkal isu pengendalian tembakau. Apalagi riwayat hidupnya dihabiskan sebagai aktivis pembela buruh dan organisasi mahasiswa pergerakan. Sebagai anggota DPR ia membawahkan bidang olahraga dan pariwisata serta kesenian.

Dengan latar belakang Menteri Kesehatan yang jelas dalam pengendalian tembakau tapi belum jelas menteri-menteri pendukungnya, mudah-mudahan isu ini kian kuat dan meluas sosialisasinya lima tahun ke depan. Di Solo dan Jakarta, Jokowi menjadi motor pengendalian tembakau kendati partainya, PDIP, selalu menjadi batu sandungan kebijakan pengendalian rokok.

Akhirnya, untuk para menteri, selemat bekerja. Anda dipilih presiden untuk bekerja mensejahterakan rakyat Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengendalikan agar racun nikotin tak makin merusak bangsa ini.

2 Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Geni Achnas
    29 October 2014 at 07:51 - Reply

    Dear Admin,

    Saya ingin share blogpost yang bagus ini di Facebook selain Twitter. Tapi belum ada share untuk Facebook. Bisa bantu?

    Geni

    • Antis Leira
      31 October 2014 at 07:17 - Reply

      Terimakasih sudah berkunjung, Bu Geni.
      Coba dikopi link-nya dan taruh di status Facebook. Mudah-mudahn membantu. Terimakasih.