SuI

Mengapa Beasiswa Rokok Harus Ditolak?

Ironi kita hari ini adalah betapa gencarnya perusahaan-perusahaan rokok memberikan beasiswa pendidikan, olahraga dan kesenina. Persatuan Guru Republik Indonesia sudah menyatakan penolakan atas beasiswa pabrik rokok. Dan selayaknya beasiswa itu ditolak. Kementerian Pendidikan perlu segera menyetop pemberiannya. Ini alasannya:

1. Iklan terselubung
Beasiswa pabrik rokok tak lain iklan terselubung yang menyasar murid-murid dari sekolah dasar hingga universitas. Pemerintah sudah berupaya membatasi iklan rokok di televisi agar tak dicerna oleh anak-anak. Pemerintah akan mengatur baliho iklan rokok dari radius sekolah. Apa jadinya jika iklan-iklan penghasut agar anak-anak merokok itu dihapus tapi muncul dalam bentuk beasiswa? Para siswa akan tetap bersinggungan dengan rokok. Beasiswa adalah taktik jitu perusahaan rokok untuk mengantisipasi dilarang totalnya iklan rokok di semua media, seperti di negara-negara maju yang telah meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau. Sejak awal mereka ditanamkan akrab dengan merk-merk rokok karena semua nama pabrik rokok melekat pada nama beasiswanya. “Beasiswa Djarum”, “Sampoerna Foundation”, dan seterusnya…

DJarum

SF

2. Meracuni calon pemimpin
Target pabrik rokok adalah senantiasa memperbarui konsumennya. Mereka tak lagi menggarap usia dewasa karena dianggap tak lagi potensial menjadi konsumen baru. Usia garapan pabrik rokok adalah anak-anak dan remaja agar menjadi pecandu baru dengan durasi konsumsi rokok kian panjang. Mereka yang sudah renta tak akan mereka hiraukan karena sudah terjerat nikotin, akan senantiasa membeli rokok, hingga ajal menghentikannya. Beasiswa pendidikan adalah cara efektif menjaring konsumen baru ini. Karena para penerimanya pasti siswa-siswa terbaik. Bagi penerima beasiswa, jika bukan menjadi pecandu baru, paling tidak mereka ditanamkan agar berpikir bahwa rokok adalah baik.

3. Keterikatan
Bagaimana para calon pemimpin itu sudah sejak awal dibebani utang budi oleh pabrik rokok? Kelak jika mereka telah menjadi pemegang kekuasaan, pengendali kebijakan, yang tertanam di benak mereka adalah pabrik rokok bermanfaat bagi banyak orang. Ia sendiri akan selalu dijadikan contoh kesuksesan itu karena ditolong oleh pabrik rokok. Memberikan beasiswa kepada siswa cara jitu dan taktik jangka panjang pabrik rokok melanggengkan bisnisnya.

4. Permisif
Para penerima beasiswa perusahaan rokok, betapapun ia setuju rokok merusak generasinya, akan menjadi permisif karena merasakan manfaatnya. Seorang penerima beasiswa akan berpikir bahwa para penghisap rokok itulah sumber biaya pendidikannya karena itu makin banyak akan semakin baik: akan makin banyak anak-anak miskin yang bisa mengenyam pendidikan karena beasiswa kian menyebar. Pikirannya akan menolak fakta bahwa biaya negara untuk mengobati penyakit dan kehilangan potensi ekonomi jauh lebih besar dari jumlah beasiswa yang disisihkan pabrik rokok.

5. Pola pikir
Seperti sponsor olahraga dan kesenian, beasiswa pabrik rokok akan dipandang baik oleh anak-anak muda generasi penerimanya karena memajukan dua bidang ini betapapun bertolak belakang dengan filosofi di baliknya. Bagaimana rokok yang merusak tubuh dipasarkan di acara olahraga?

6. Kontradiksi
Beasiswa pendidikan mengajari para siswa yang tengah menyusun pola pikir dan mindset di tubuhnya itu anggapan dan mengimplementasikan peribahasa “jika telur harus tetap diambil kendati itu keluar dari dubur ayam”. Penerima beasiswa dididik agar menerima uang subhat (tak jelas hukumnya) dari pabrik rokok karena ditujukan untuk hal baik, yakni pendidikan. Mereka akan kebingungan mengapa pemerintah mengendalikan produk tembakau jika bermanfaat bagi banyak orang? Padahal, Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia sudah mengharamkan rokok. Artinya, menerima beasiswa rokok sama saja memakan uang haram, bukan?

7. Bukan CSR
Beasiswa pendidikan dan olahraga, juga kesenian, jelas bukan corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan rokok. Tanggung jawab sosial mereka seharusnya adalah tak memproduksi rokok karena barang tersebut merusak kehidupan sosial dengan pelbagai dampak buruk yang ditimbulkannya. Semestinya pabrik rokok dilarang menggunakan definisi CSR karena mengaburkan maknanya bagi publik.

8. Bertolak belakang dengan Undang-Undang
Undang-Undang Kesehatan sudah menyatakan rokok sebagai zat adiktif, artinya konsumsi dan distribusinya harus diawasi secara ketat, seperti minuman beralkohol. Iklannya harus dilarang secara total. Maka beasiswa rokok akan sama dengan beasiswa minuman keras. Jika beasiswa pabrik rokok dibiarkan, bertentangan dengan undang-undang, turunan konstitusi kita.

Itulah beberapa alasan mengapa beasiswa pabrik rokok harus ditolak. Beasiswa adalah siasat pabrik rokok untuk melanggengkan bisnisnya yang kian terdesak oleh kian sadarnya publik akan bahaya produk tembakau.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*