Bingkisan rokok dalam peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-68 di Istana Negara pada 20013 (Sumber: Warta Kota)
Bingkisan rokok dalam peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan ke-68 di Istana Negara pada 20013 (Sumber: Warta Kota)

Merdeka dari Rokok

Ada banyak jenis penjajahan. Rokok bisa digolongkan ke dalam salah satunya. Rokok telah dinyatakan sebagai epidemi karena daya rusaknya, dan dilegalkan. Tentu tak ada yang legal dalam penjajahan, karena ia sejenis invasi, memaksa dan mengandalkan kekuatan juga kekuasaan. Tapi kita juga mengenal apa yang disebut penjajahan diam-diam, seperti yang sering kita dengar kini.

Ketika Indonesia dilanda krisis moneter 1998 lalu menjadi pasien Dana Moneter Internasional, karena itu kita punya utang dan IMF juga Bank Dunia mengawasi segala kebijakan pemerintah di sini, orang menyebut kita mengalami penjajahan secara ekonomi. Barangkali benar juga pendapat ini, karena “penjajahan” IMF itu dilegalkan, diketahui banyak orang, dan mereka mengendalikan pemerintah.

Tak ada kebijakan yang tak mereka ketahui dengan alasan, untuk menjamin ekonomi Indonesia bangkit dan kita tak mangkir bayar utang. Mereka memberi saran, memberi resep, pada kebijakan-kebijakan agar ekonomi kembali seperti semula. Kita tak pernah tahu adakah resep itu manjur atau krisis berlalu justru karena kekuatan kita sendiri. Para ekonom berkata bahwa ekonomi Indonesia kuat karena sebenarnya mayoritas kita tak tergantung asing. Ekonomi kita menggeliat justru dari rumah ke rumah, dari orang per orang, kita hidup karena ikatan kekerabatan kita begitu kuat sehingga tak ada yang mati karena lapar, meski ekonomi begitu hancur.

Maka seperti itulah rokok. Penjajahan, seperti invasi Amerika Serikat ke Irak, selalu bertujuan mulai. Misalnya, menghadirkan demokrasi. Faktanya, serbuan Amerika itu malah menghancurkan Irak berikut sejarahnya. Di Negeri 1001 Malam itu kini berkecamuk perang saudara, antara Syiah dan Sunni, bahkan setelah Amerika pergi dari sana. Demokrasi, juga senjata pemusnah massal yang dituduhkan Amerika kepada Saddam Hussein itu, tak juga datang dan ditemukan. Begitulah sifat penjajahan, seperti rokok.

Ia diam-diam mengendalikan hidup kita dengan candu dan racun yang dikandungnya, betatapa pun dengan tujuan mulia. Menghidupkan petani, menyumbang ekonomi, tenaga kerja, dan seterusnya. Di antara tujuan mulia itu, racun nikotin tak hanya berbahaya bagi pengisapnya, mereka yang aktif merokok, tapi juga orang sekeliling. Korban-korban rokok sesungguhnya jauh lebih besar datang dari mereka yang tak menghisap batang-batangnya. Para perokok pasif jauh lebih masif dan mereka tak dicatat sebagai korban resmi, baik dalam anggapan kita kebanyakan maupun dalam catatan negara, pemerintah, yang harusnya bertanggung jawab atas jatuhnya korban itu.

Jika melihat dari angka kematian, 200 ribu per tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok, juga epidemi jumlah penghisapnya, Indonesia sejatinya belum bebas dari penjajahan. Bahkan kian masif dengan 70 juta penghisap rokok, nomor tiga terbesar setelah Cina dan India. Menurut laporan-laporan resmi pemerintah, jumlah perokok aktif meningkat di kalangan anak muda, mereka yang menjadi target produsen rokok, sementara yang tua insyaf atau sakit atau meninggal.

Membicarakan rokok memang selalu mencemaskan karena negara seperti tak serius menanganinya. Ketika negara-negara lain telah menetapkan rokok sebagai musuh bersama, kita masih terlalu lunak mengatur dan mengendalikannya. Usul-usul tentang pengendaliannya datang dari lembaga-lembaga swadaya yang terbatas jangkauan, kekuasaan, sumberdaya hingga dananya. Bisnis rokok adalah kekuatan ekonomi dengan Rp 300 triliun dan penyumbang pajak Rp 80 triliun per tahun. Ini kekuatan dahsyat yang jika dibiarkan, Indonesia bisa-bisa tak pernah bebas dari apa yang disebut penjajahan, betapapun kita telah melewati puluhan tahun sejak Proklamasi 1945.

Banyak penelitian sudah menghasilkan data bahwa rokok telah menyebabkan kemiskinan terpelihara. Dalam pidato-pidatop kenegaraann, kita sering diingatkan bahwa di zaman modern ini penjajahan ekonomi harus diwaspadai dalam bentuk kemiskinan dan kebodohan. Para peneliti juga menyimpulkan, orang-orang miskin rela membuang penghasilan rumah tangganya demi membeli rokok, alih-alih untuk biaya sekolah. Di kolom ini dulu ada tulisan soal Kepala Desa Bone-Bone yang secara radikal membuat kebijakan menghentikan konsumsi rokok dengan tujuan agar anak-anak bersekolah lagi.

Kemiskinan dan kebodohan, memang musuh utama kita kini. Dan penyebabnya satu, yakni rokok. Maka sebelum membicarakn keduanya, sebaiknya kita fokus pada penyebabnya. Rokok membuat kemiskinan dan kebodohan terpelihara. Dengan begitu, memerdekakan diri dari rokok adalah keniscayaan jika masa depan Indonesia ingin gemilang.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*