Mirasantiko a.k.a Miras, Narkotika, dan Rokok

Vemale.com

Vemale.com

“Raja Dangdut” Rhoma Irama tak memasukkan rokok sebagai barang yang membahayakan dalam lagunya yang sangat populer: Mirasantika, minuman keras dan narkotika. Padahal, rokok jelas jauh lebih berbahaya dibanding dua barang laknat itu karena ia dilegalkan. Pemabuk, pengedar, dan pengisap narkotika adalah kriminal dan polisi akan menangkap mereka. Rokok? Ia dijual bebas, dipromosikan, dan dilindungi negara!

Berapa banyak orang yang meninggal karena mengkonsumsi ketiganya? Mari kita bandingkan.

Data Badan Narkotika Nasional menyebutkan bahwa sebanyak 50 orang mati tiap hari atau 18.250 per tahun akibat mengkonsumsinya dan nilai ekonomi yang hilang mencapai Rp 55 triliun per tahun. Sementara Gerakan Nasional Anti Minuman Keras (Genam) mencatat 18.000 orang mati tiap tahun akibat menenggak minuman beralkohol di luar dosis. Berapa untuk rokok?

Data resmi Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa jumlah kematian akibat penyakit yang disebabkan rokok mencapai 400.000 orang per tahun dan kerugian ekonomi—pengobatan, asuransi, kehilangan kesempatan produktivitas, kehilangan tabungan dan pendapatan keluarga—mencapai Rp 235 triliun per tahun! Dari angka-angka ini saja kita tahu mana barang yang paling berbahaya bagi rakyat Indonesia. Tapi negara dan pemerintah terbalik membuat kebijakan mencegah mesin pembunuh ini kian merajalela.

Baru-baru ini Kementerian Perdagangan mengeluarkan peraturan nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang pengawasan peredaran minuman beralkohol. Direktur Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Widodo yang ditanya wartawan mengatakan bahwa dasar peraturan ini adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia yang telah mengharamkan konsumsi minuman keras. Rokok belum dinyatakan haram oleh para ulama. Alangkah lucunya pejabat negeri kita. Agaknya mereka perlu belajar hukum tata negara lagi.

Fatwa ulama jelas bukan dasar membuat kebijakan. Dalam konstitusi kita jelas turunan setiap beleid yang dikeluarkan pemerintah. Yang tertinggi tentu saja Undang-Undang Dasar 1945. Dari pasal-pasal ini kemudian diturunkan menjadi undang-undang yang dibuat sesuai keperluan per sektor pada waktu tertentu. Dari undang-undang dispesifikan lagi menjadi peraturan pemerintah atau peraturan presiden, lalu diturunkan lebih teknis lagi menjadi peraturan menteri, peraturan dirjen, dan seterusnya. Tak ada fatwa ulama.

Jika pun ingin melucu dengan mencari rujukan fatwa haram merokok, Kementerian Perdagangan perlu menengok keputusan ulama Muhammadiyah yang telah mengharamkan konsumsi rokok. Jika MUI menjadi rujukan, mengapa Muhammadiyah diabaikan? Dua lembaga ini sama kedudukannya sebagai organisasi masyarakat yang bersifat swadaya. Agaknya, alasan fatwa itu sekadar dalih angin-anginan dari seorang pejabat pemerintah yang tak paham hukum tata negara.

Sebab, dalam Undang-Undang Kesehatan jelas sekali rokok digolongkan ke dalam barang yang mengandung zat adiktif. Salah satu alasan mengapa minuman keras dilarang adalah sifat adiktifnya. Tapi keduanya diperlakukan sangat berbeda. Iklan minuman keras sudah dilarang, peredarannya juga dipersempit dan khusus, polisi menegakkan hukum dengan bagus untuk urusan ini. Lebih-lebih urusan narkotika. Pengadilan berulang kali memvonis hukuman mati para bandar dan pengedar. Sementara rokok masih diiklankan dan dijual bebas, tanpa control dalam distribusi, dan dianakemaskan pemerintah karena menyumbang 10 persen pendapatan negara lewat cukai.

Cerminnya adalah peraturan Kementerian Perdagangan itu. Pencetusnya aturan ini direktorat perlindungan konsumen. Kurang ironis apalagi dari situasi ini? Pejabat yang digaji rakyat untuk melindungi konsumen malah membiarkan rokok membunuh konsumen dengan membebaskan peredaran dan konsumsinya. Negeri ini tak hanya perlu diruwat tapi dipotong satu generasi agar pikiran-pikiran terbalik seperti ini bisa dijungkirkan kembali kepada tempat yang semestinya.

Dari segi bahaya, rokok jelas pembunuh diam-diam yang mematikan. Mabuk mungkin bisa mengakibatkan kematian tapi peminumnya pasti sadar ia sedang menelan zat kimia yang bisa menghancurkan organ-organnya. Ia akan waspada sejak awal. Demikian juga narkotika. Tak ada pemabuk atau pecandu narkotika pasif.

Pada rokok, ia justru lebih berbahaya bagi orang yang tak menghisapnya secara langsung. Mereka, para perokok pasif, jauh lebih riskan terkena penyakit yang berhubungan dengan 4.000 zat racun dalam sebatang rokok. Umumnya para perokok pasif tak sadar bahwa mereka tengah menjadi korban. Misalnya, ia tak sadar tengah menumbuhkan kanker di tubuhnya dengan hidup di lingkungan para perokok. Dan biasanya mereka tak siap menerima risiko itu. Mereka tak terlindungi dari aturan seperti yang dibuat Kementerian Perdagangan itu.

Pemerintah, negara, dan kita semua perlu waspada akan fakta-fakta ini. Logika kita sering kali keliru dengan menerima dan permisif terhadap rokok ketimbang miras atau narkotika. Padahal bahayanya jauh lebih besar rokok ketimbang dua barang itu. Agaknya Rhoma Irama perlu membuat sekuel lagu itu dengan mengubah judulnya menjadi Miransantiko, yang mengutuk minuman keras, narkotika, dan rokok.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*