Nasionalisme dalam FCTC

 pekerja rokok

Mereka yang menolak pemerintah Indonesia meratifikasi Framework Convention Tobacco Control, selalu beralasan bahwa konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau ini pesanan asing. Ini memang alasan paling mematikan karena sejak reformasi 1998, Indonesia dihinggapi xenophobia, ketakutan pada asing. Maka mendengungkan FCTC pesanan asing segera mendapat sambutan dan mereka yang mendukung ratifikasi dengan gampang dicap antek asing.

Alasan ini seolah benar jika melihat permukaannya saja. FCTC dirumuskan oleh negara-negara yang membahasnya di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), termasuk Indonesia. Tujuannya melindungi kesehatan publik dari bahaya asap rokok. Tak bisa dipungkiri lagi, nikotin yang terkandung dalam asap tembakau mengandung 4.000 zat beracun yang merusak organ tubuh secara perlahan, membunuh pelan-pelan.

Maka ketika FCTC diberlakukan dengan cara memperketat pelbagai aturan merokok di ruang publik, membatasi iklannya karena rokok zat adiktif, perusahaan-perusahaan rokok kelimpungan. Umumnya negara-negara yang berkategori maju sudah meratifikasi FCTC. Kini sudah ada 177 negara. Indonesia, sebagai salah satu penggagas, malah belum pernah meratifikasi dan menjadi satu-satunya negara di Asia, setara negeri-negeri miskin dan diamuk perang seperti Zimbabwe dan negara Afrika lainnya.

Lalu benarkah FCTC pesanan asing? Tuduhan paling gila dan sangat tak logis adalah FCTC pesanan pabrik rokok asing. Basis argumentasinya adalah dengan FCTC Indonesia harus mengimpor tembakau karena tembakau lokal tak akan lulus strandarisasi. Hanya tembakau milik pabrik rokok asing yang memenuhi kualifikasi pabrik rokok dari luar negeri. Ini alasan yang aneh dan dibuat-buat.

FCTC tak membedakan rokok asing atau rokok lokal. Semua rokok, baik putih maupun kretek, terkena aturan soal distribusi, penjualan, hingga iklannya. Membedakan rokok asing dan lokal membuat peraturan gampang sekali dipatahkan dan tak berlaku umum. Sebab baik rokok putih maupun kretek, light atau menthol, sama berbahayanya bagi kesehatan. Dan tujuan FCTC melindungi kesehatan publik sebagai tugas konstitusi sebuah negara.

Justru FCTC jika ditinjau dari soal lokal dan asing pada hakikatnya membela industri rokok lokal. Dengan aturan yang ketat Indonesia akan terlindungi dijadikan pasar baru rokok dari luar negeri. FCTC atau aturan ketat soal merokok membuat perusahaan raksasa seperti Philip Morris rela keluar uang Rp 45 triliun untuk membeli Sampoerna. Kenapa? Karena di Amerika Serikat rokok semakin sulit beredar. Karena itu mereka memindahkannya ke Indonesia: perokok banyak dan aturannya tak ketat.

Masuknya Philip Morris, dan segera disusul pabrik rokok besar dunia lainnya, mengubah peta pasar rokok di Indonesia. Dengan modal besar mereka bisa berinovasi dan beriklan besar-besaran. Inilah sebenarnya yang meruntuhkan pangsa pasar dan pabrik rokok kecil-menengah lokal. Perokok semakin memuda karena menjadi sasaran iklan pabrik rokok besar yang lebih inovatif dan membujuk.

Maka FCTC sebetulnya melindung industri rokok lokal. Pabrik-pabrik besar tak akan leluasa merebut pasar rokok karena aturannya ketat. Dan ada nasionalisme di sana.. FCTC melindung kesehatan publik Indonesia dari bahaya nikotin yang merontokkan nilai ekonomi generasi mendatang. FCTC adalah nasionalisme dalam bidang kesehatan.

Inilah yang harus dipahami oleh para pengambil keputusan. Xenophobia kabarnya sudah merasuki logika dan pikiran orang-orang hebat para pembantu presiden, sehingga kepala negara masih bimbang antara meratifikasi atau tidak dengan pertimbangan nasib petani tembakau lokal. Dengan cara pikir yang sederhana saja, alasan pesanan asing ini gugur dengan gampang. Segera ratifikasi FCTC, Bapak Presiden!

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*