Anti Iklan Rokok

Petisi Anti Iklan Rokok

Dalam sepekan, Petisi Anti Iklan Rokok mencapai lebih dari 5.000 tanda tangan. Penggagasanya terkejut, tapi tentu saja senang. Terkejut karena tak mengira bisa begitu cepat menganggit sokongan dan senang karena kampanye ini didukung. Barangkali karena banyak orang mafhum rokok membahayakan publik, dan iklan menjadi pintu masuk area bahaya itu.

Data yang mendukung fakta itu sudah banyak. Penelitian universitas atau survey Badan Pusat Statistik telah menyebut bahwa prevalensi orang merokok di Indonesia kian naik dan para perokok semakin memuda. Jika tahun 1990-an perokok termuda berusia 15, atau telah masuk sekolah SMA, kini bayi-bayi sudah berkepul-kepul layaknya orang dewasa. Total jumlah “ahli hisap” di Indonesia mencapai 70 juta orang atau seperempat jumlah penduduk negeri ini. Kita tahu 70 persen dari jumlah perokok adalah mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Data ini logis. Penduduk miskin adalah mereka yang tak bisa menjangkau pengetahuan, entah melalui sekolah formal atau pengetahuan informal dengan akses informasi yang luas. Mereka terlalu sibuk memenuhi sandang-pangan dan kebutuhan pokok lain, ketimbang mendapat informasi yang benar tentang bahaya rokok. Sementara penduduk yang terdidik cenderung tahu bahaya rokok, meski mereka juga tetap menghisap asap. Karena itu buat yang terdidik, merokok adalah pilihan, jika bukan terjebak pada kecanduan.

Sebermula adalah iklan. Advertensi bermain pada wilayah citra yang membuat objek jadi terkesan “lebih bagus ketimbang aslinya”. Rokok selalu dicitrakan dengan kejantanan, kenikmatan, dan kebebasan. Tentu setiap orang ingin mencapai tiga hal ini karena itu menjadi kubutuhan dasar manusia. Maka iklan rokok akan mengesankan menghisap kretek bisa mencapai tiga hal itu. Betapa mengerikan!

Maka benarlah hukum kita yang menggolongkan rokok ke dalam zat adiktif, seperti halnya minuman beralkohol. Tak ada nilai bagus dan manfaat dari rokok. Ada 6.000 zat beracun bagi tubuh yang menghuni sebatang rokok. Perokok tahu itu tapi mereka tak bisa keluar dari keracunan itu karena telah terjerat candu nikotin. Jika minuman beralkohol bisa dikarantina dengan tak ada iklan di ruang publik, kenapa iklan rokok masih diizinkan?

Bahkan jika ditilik-tilik orang mabuk tak terlalu mengganggu orang lain setelah minum. Jika anda merokok asapnya juga dihidu orang lain di sekitar anda. Para perokok pasti tak senang jika menghirup udara kotor karena terpolusi asap knalpot mobil rebek, begitu jugalah para perokok pasif yang dengan terpaksa menghirup udara yang terpapar asap rokok dari mulut mereka.

Maka dukungan pada Petisi Antiiklan Rokok bukan semata bersandar pada alasan kesehatan atau lingkungan, tapi juga pelaksanaan hukum: meneggakkan legislasi yang sudah kita sepakati bersama lewat wakil-wakil kita di parlemen. Selain atas nama menyelamatkan generasi dari daya rusak rokok, Indonesia tanpa iklan rokok adalah Indonesia yang menjura pada ketentuan hukum positif.

Karena itu tak ada alasan lain selain mendukung petisi ini: Stop Iklan Rokok sekarang juga!

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*