Rokok dan Alkohol

(msn.com)

(msn.com)

Sama-sama produk olahan yang mengandung zat adiktif, tapi perlakuan kepada rokok dan alkohol ibarat bumi dan langit. Minuman yang mengandung alkohol sudah dilarang beredar secara bebas, dinyatakan haram oleh majelis ulama, dan sama sekali tak boleh dipromosikan melalui iklan dalam bentuk apapun. Sedangkan rokok masih dinyatakan produk legal, dijual bebas, dikonsumsi bebas pula, bahkan dijual secara ketengan dan iklannya meruyak di mana-mana.

Padahal secara dampak dan bahaya kepada kesehatan publik rokok jauh lebih luas daya rusaknya. Orang yang mabuk alkohol dari minuman keras baru membahayakan publik jika ia menyetir dalam keadaan tak sadar. Xenia maut adalah contoh nyata bagaimana bahayanya minuman beralkohol jika bergabung dengan setir mobil. Jika pemabuk meminumnya sendirian di dalam rumah, lalu teler berat yang terdampak akibat alkohol  adalah tubuhnya sendiri. Sedangkan para perokok membagi asap kepada orang lain betapapun ia menelannya bulat-bulat.

Dan banyak penelitian yang sudah menjadi data empiris bahwa asap rokok yang disemburkan dari mulut dan paru-paru orang lain sama bahayanya dengan perokok itu sendiri. Karena itu perokok pasif amat dirugikan: tak menghisap tapi kena kankernya, tak memakan nangka tapi membersihkan getahnya. Dari sisi ini saja daya rusak rokok jauh lebih hebat ketimbang alkohol.

Peraturannya pun diskriminatif. Undang-Undang Kesehatan sudah menggolongkan rokok sebagai produk yang mengandung zat adiktif, candu yang menimbulkan ketagihan akan zat-zat yang ada dalam sebatang rokok. Ketagihan itu menyebabkan terbuka peluang tubuh menerima racun dari pelbagai senyawa kimia yang diolah bersama tembakau. Karena itu rokok satu dari sepuluh penyebab kematian yang berhubungan dengan kerusakan tubuh secara permanen. Dan dari sepuluh itu tak satupun menyebut alkohol.

Namun, Undang-Undang Penyiaran membolehkan rokok dipromosikan asal tak menunjukkan wujud rokok. Undang-Undang Cukai juga mengatur pajak yang dimasukkan dalam komponen harga untuk ditebus oleh pembeli. Rokok dan tembakau malah jadi salah satu bahan kampanye para calon gubernur dan walikota serta bupati untuk menunjukkan program mereka pro terhadap rakyat menengah-bawah.

Yang lebih absurd lagi adalah rokok dibolehkan dijual secara eceran. Ini mengakibatkan pertumbuhan jumlah perokok terus melaju. Para remaja dan anak-anak yang mulai mencoba rokok tak susah mendapatkannya karena bisa dibeli per batang yang terjangkau oleh uang jajan mereka, selain tak ada penegakan hukum soal sanksi kepada pedagang yang menjual rokok kepada anak di bawah 18 tahun. Sementara minuman beralkohol tak ada yang dijual secangkir demi secangkir.

Akibatnya sebagian besar perokok datang dari keluarga miskin. Bandingkan dengan alkohol yang dijual mahal sehingga hanya kelas menengah-atas yang mampu membelinya. Dan kelas menengah biasanya melek terhadap informasi tentang bahaya kecanduan alkohol. Tentu mereka secara sadar sedang menempuh risiko kesehatan ketika menenggaknya. Pada orang miskin mereka umumnya tak paham bahaya rokok bagi kesehatan, lingkungan, ekonomi rumah tangga, juga bahaynya kepada orang yang lain yang menghisap semburan asap rokoknya.

Jadi kini perlu dipikirkan ulang menyamakan rokok dan alkohol dan memperlakukan, memandang, dan mengaturnya. Undang-undang telah menggolongkan keduanya ke dalam kelompok yang sama seperti narkotika yang diperangi secara total di Indonesia. Caranya adalah dengan merevisi Undang-Undang Penyiaran agar iklan rokok dilarang tayang di media apapun dan menegakan aturan soal pembatasan distribusi dan konsumsinya.

Jika tak seperti ini kita akan terus terjebak pada perdebatan soal boleh/tidaknya rokok dibatasi. Juga mitos-mitos pengendalian tembakau yang didengung-dengunkan oleh pabrik rokok agar kepentingan bisnisnya tak terganggu.

One Comment

Tinggalkan Balasan

*

*

  • Valeria
    7 March 2015 at 08:17 - Reply

    It’s reemarkable to pay a quick visit this website and reading the views of all mates about
    this piece of writing, while I aam also eager of getting experience.