Rokok dan Gangguan Jiwa

 

Dollymix

Dollymix

Dalam sebuah episode Sherlock, Sherlock Holmes terlihat menempelkan tiga koyo nikotin di lengannya. Kepada John Watson, ia mengklaim koyo itu bisa membantunya berpikir, mencari hubungan-hubungan fakta rumit tentang kematian seorang gadis muda dari Cardiff. Sherlock di sini adalah detektif swasta yang disewa polisi Inggris membantu memecahkan pembunuhan-pembunuhan misterius. Dalam serial ini, Sherlock dibumikan ke dalam latar Inggris modern.

Tentu saja, ketika Arthur Conan Doyle menciptakan tokoh Sherlock Holmes di abad 19 belum ada koyo  nikotin. Dalam gambaran aslinya, Sherlock kemana-mana mencangklong pipa. Tentu saja adegan seperti itu dilarang dalam film di zaman sekarang. Maka sutradara episode ini berkreasi Sherlock memakai koyo nikotin. Masalahnya, benarkah koyo itu bisa membantu konsentrasi?

Sebuah studi menyebutkan bahwa nikotin dalam rokok hanya meredakan gelisah sementara waktu saja. Tak ada bukti empiris bahwa rokok bisa membantu konsentrasi. Dan secara medis, koyo nikotin justru bisa dipakai sebagai bagian dari terapi berhenti merokok. Koyo ini untuk mengganti nikotin yang dihisap melalui rokok konvensional, sehingga sugesti terhadap bentuk rokok lambat laun menjadi berkurang. Pelbagai penelitian sudah membuktikan pengalihan sugesti ini berhasil menghentikan kebiasaan merokok. Sebab fakta menunjukkan 70 persen perokok sebenearnya ingin berhenti menghisap nikotin, namun selalu gagal menangkap efek candu.

Sebetulnya dengan bukti-bukti itu saja sudah cukup menggolongkan bahwa rokok adalah zat adiktif. Sekali ia dihisap dan syaraf penghisapnya sudah terpapar candu, syaraf itu akan menagih. Bandingkan dengan mereka yang bukan perokok. Mereka umumnya sensitive terhadap asap rokok. Tak jarang nonperokok ini bisa mencium pakaian, rambut, kulit, bahkan hembusan udara seseorang untuk mendeteksi dia perokok atau bukan.

Asap rokok menempel selamanya di badan perokok, bagaimana pun ia membersihkannya. Lebih jauh lagi zat rokok merasuk dalam darah sehingga menghentikannya akan menimbulkan efek ketagihan. Dalam hal narkotika, kondisi ini disebut sakaw. Namun, dalam terma rokok, situasi ketahigahn tak pernah disebut sakaw, meski ciri-cirinya sama saja.

Sebab rokok berhubungan dengan mental. Ada sugesti kehilangan dari syaraf otak pada nikotin jika tubuh tak memberi asupannya. Maka para ahli syaraf kini turun gunung menyatakan bahwa rokok berhubungan dengan kesehatan mental. Perokok sesungguhnya sedang terganggu mentalnya karena dikendalikan oleh ketagihan pada racun nikotin. Semua hal yang bersifat adiksi tentu berhubungan dengan syaraf pada otak.

Tak heran jika iklan rokok menyasar anak-anak muda, mereka yang belum menjadi pecandu. Iklan berhubungan dengan kesan, dan kesan memainkan peranan syaraf yang merangsang otak mencernanya sebagai hal positif atau negatif. Maka iklan rokok selalu menampilkan model anak muda yang sukses, bebas, jantan, tangguh, otot mengkal, muka bersih. Kita tahu semua itu adalah tipu-tipu belaka, karena faktanya rokok bertolak belakang dengan itu semua.

Kesadaran akan bahaya iklan ini sama derajatnya dengan bahaya rokok itu sendiri. Di negara maju iklan sudah dilarang tayang di media apapun dalam bentuk apapun karena efeknya yang merusak dan menciptakan perokok baru. Fakta menunjukkan iklan rokok yang kian gencar, meski tak lagi menunjukan orang merokok, telah menaikkan jumlah perokok Indonesia hingga empat kali lipat dibanding tahun 1980-an. Dengan atau tanpa menunjukan kegiatan merokok, iklan rokok telah memicu orang menjadi perokok baru.

Bahkan dalam film seperti Sherlock yang adalah produk seni dan kreativitas, kegiatan merokok dilarang. Maka Sherlock digambarkan merokok dengan cara menempelkan koyo nikotin, yang efeknya sebetulnya sama bahayanya dengan merokok konvensional. Cara terhindar dari nikotin sesungguhnya, ya, menjauh sama sekali dari apapun yang berbau zat nikotin.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*