109849_620

Rokok dan Kebohongan

Jika tak ingin sedih melihat Indonesia hari ini, jangan menonton Sex, Lies, and Cigarette. Jangan pusing memikirkan narasinya yang menohok dan menertawakan kita dengan fakta yang benar. Tapi bagaimana kita bisa mengelak dari kenyataan film dokumenter yang dibuat Vanguard TV itu? Apa yang ditampilkan di sana setiap hari kita lihat, ita temukan, kita rasakan, karena kita terlibat di dalamnya.

Setiap detik kita lihat iklan rokok di manapun, di media apapun. Kita nyalakan TV ada iklan rokok, kita baca koran ada gambar rokok terpampang di sana, kita pergi ke kantor pasti melihat baliho rokok di jalan-jalan, di angkutan kota, di mana-mana. Kita dikepung rokok bahkan tak hanya oleh iklannya yang membujuk dan meneror.

Sehari-hari kita menghisap asapnya, bahkan jika anda bukan perokok. Orang bebas ngebul di mana mereka suka, bahkan di tempat-tempat yang dilarang dan diperingatkan. Orang tak peduli dan malah menantang untuk mengejek: merokok di bawah atau di samping tanda dilarang merokok. Kini di stasiun-stasiun merokok hanya dibolehkan di ujung peron yang terbuka. Bahkan di Stasiun Juanda dan Stasiun Tanah Abang merokok sama sekali tak dibolehkan, di manapun di wilayah stasiun. Tapi apa kita bebas asap rokok? Tidak.

Rokok tetap menghampiri kita dan masuk ke dalam tubuh kita tanpa bisa dicegah. Di Indonesia, bukan para perokok yang malu dan segan telah menyebarkan racun nikotin kepada orang lain, tapi mereka yang bukan perokok. Mereka yang tak merokok akan mngalah dengan menghindar, menutup hidung dengan masker, atau menepis asap rokok orang lain. Orann Indonesia yang tak terbiasa menuntut hak akan mengalah dengan pergi menjauh alih-alih mengingatkan perokok itu agar mematikkan api rokoknya. Mengingatkan perokok dikhawatirkan akan akan memercikkan konflik.

Kita akan sendirian menegakkan hak bebas dari asap rokok orang lain. Tak ada negara yang akan menjadi benteng terakhir dan menjadi pelindung setiap warga negara ketika sedang menuntut haknya. Tak akan ada petugas keamanan atau polisi yang datang dan meminta perokok mematikan rokoknya karena mereka tahu yang bukan perokok sedang menuntut hak paling asasi warga negara yakni hak sehat.

Mereka yang mengingatkan perokok mematikan rokok di ruang publik akan segera dicap orang usil dan mau ikut campur urusan orang. Para perokok itu lupa dengan merokok dan menyebarkan asapnya, mereka justru yang telah ikut campur urusan orang lain. Orang lain yang tak bersalah mereka cekoki asap beracun tanpa rasa bersalah. Lihat saja bagaimana para pengamat dan cerdik-cendikia berpendapat tanpa rasa malu: merokok adalah hak asasi manusia. Kebohongan apalagi yang hendak ditampilkan dari jargon semacam ini?

Di film pendek Vanguard itu kita mendapat bertubi-tubi narasi yang menohok tentang mundurnya Indonesia ke zaman gelap Amerika di tahun 1990-an karena masih melegalkan rokok. Pabrik rokok berlomba membuat iklan yang menohok generasi masa depan Indonesia sebagai sasaran dan calon konsumen jangka panjang mereka.

Iklan sengaja dipajang di sekolah dengan menonjolkan jiwa bebas anak-anak muda, petualangan, seksi, jantan. Kita tahu itu semua kebohongan, yang tak dipedulikan oleh sebagian besar orang Indonesia, dan dilegalkan negara atas nama cukai, hak bekerja sebagian kecil buruh, serta hak sebagian kecil usaha dalam bentuk pertanian tembakau.

Indonesia adalah negara baru Marlboro Man. Ketika Marlboro Man telah mati sepuluh tahun lalu di negara asalnya karena desakan publik dan ketegasan pemerintah membunuhnya, ia reinkarnasi dan hidup kembali di Indonesia. Ia kini bebas nampang di mana-mana lewat iklan-iklan dan baliho mahal. Ironi apalagi yang hendak kita dustakan dari kebohongan semacam ini?

Jika tak ingin bersedih karena Indonesia kita hari ini, jangan memikirkan rokok yang sedang pelan-pelan mematikan kita, membunuh masa depan Indonesia, menghancurkan generasi emas kita….

Sex, Lies, and Cigarette (Vanguard)

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*