Rokok dan Kepala Daerah

bebas-asap-rokok

Gagasan Wali Kota Ridwan Kamil membuat program berbeda setiap hari di Bandung patut dicontoh kepala daerah lain. Kamis berbicara Inggris, Jumat bersepeda, dan terakhir membuat Selasa Tanpa Rokok.

Di zaman sekarang kepala-kepala daerah dituntut kreatif membuat program kerja karena masyarakat memantau setiap hari, melalui media sosial dan para jurnalis melalui media massa konvensional. Kepala daerah yang miskin ide akan segera dicemooh dan mungkin akan kehilangan popularitas, sebuah alat ukur baru mengukur efektivitas kepemimpinan. Kini membuat aturan saja tak cukup karena harus “dibumikan” dengan program yang riil, juga sanksi dan denda untuk mendorong tingkat kepatuhan komunitas secara bersama-sama.

Dalam hal merokok, hampir semua daerah kini sudah punya Kawasan Tanpa Rokok. Bupati dan wali kota membuatnya sebagai kewajiban melaksanakan Undang-Undang Kesehatan yang terbit pada 2009. Kepala daerah yang tak membuat aturan kawasan bebas rokok akan terkena sanksi beruapa pemutusan bantuan kesehatan dari pemerintah pusat. Ketika aturan ini berhenti di atas kertas yang terjadi adalah tumpulnya aturan itu. Banyak kita lihat orang bebas merokok pada daerah-daerah yang sudah jelas dilarang.

Sanksi dan denda yang jelas dan pasti dilaksanakan adalah pendorong tingkat kepatuhan masyarakat. Kita bisa belajar soal ini dengan menengok Desa Bone-Bone di Enrekang, Sulawesi Selatan. Ini desa di lereng gunung Latimojong yang menjadi desa pertama daerah bebas rokok. Padahal desa yang dingin ini masyarakatnya gemar menghisap tembakau. Dengan kepemimpinan kepala desanya, Bone-Bone menjadi bebas rokok pada 2010 dengan sanksi tegas dan jelas yang diterapkan perangkat desanya.

Sanksi itu misalnya kerja sosial membersihkan got desa jika ada warga desa ketahuan merokok di dalam kampung. Sejak 2010 sanksi itu tak pernah diturunkan karena orang sana menghormati aturan desa itu. Tingkat kepatuhan di Bone-Bone didorong oleh kepemimpinan kepala desa. Juga benefitnya. Kepala Desa awalnya kesulitan mengkampanyekan stop merokok. Tapi dengan gigih dan tak kenal menyerah ia meyakinkan stop merokok bermanfaat bagi keuangan rumah tangga. Ia memberi contoh tak merokok bisa menyekolahkan anak-anaknya. Kampanye itu dituruti karena warga desa mendapat manfaat nyata berhenti merokok menjadi punya tabungan lebih untuk biaya pendidikan.

Pada Ridwan Kamil, upaya itu dimulainya dengan ajakan sederhana agar tak merokok pada hari Selasa. Kebijakan ini agak ironis mengingat Ridwan, seorang arsitek yang berhasil, pernah menjadi bintang iklan rokok pada 2010. Tentu sah saja ia menjadi bintang iklan yang menonjolkan sisi suksesnya pada usia muda. Karena itu kebijakannya mengkampanyekan Bandung bebas asap rokok patut diacungi jempol. Ia pelaku iklan rokok yang menjadi penyebab tumbuhnya perokok baru, tapi dalam kebijakan publiknya ia sangat pro pada kesehatan yang menjadi hak hidup dan konstitusional setiap warga negara.

Mudah-mudahan ide dan kreativitasnya menular. Ini cara terbaik “melawan” dengan elegan begitu masifnya industri rokok mempromosikan produk membahayakan ini. Bagaimana pun rokok adalah barang legal yang bisa dijual di Indonesia. Tapi ia membahayakan. Karena itu menyadarkan bahaya niktoin pada setiap orang itu adalah cara terbaik mengurangi dampaknya, di tengah centang perenang aturan yang longgar dan ketidakpatuhan masyarakat mentaati larangan merokok di tempat umum.

No Comment

Tinggalkan Balasan

*

*